Selasa, 04 November 2025

Selingkuh dan Manusia Yang Belum Selesai Dengan Dirinya Sendiri

Kadang aku berpikir, mungkin kita terlalu cepat menghakimi kata “selingkuh.” Kita langsung menunjuk hidung orang lain, seolah luka itu hanya punya satu wajah: pengkhianatan. Tapi kalau mau jujur—kalau mau benar-benar berani melihat dalam cermin—selingkuh itu tidak selalu bermula dari niat untuk melukai. Ia sering tumbuh dari kesepian yang tidak diakui, dari hubungan yang berjalan tapi tak benar-benar hidup. Kita hidup di zaman serba dekat tapi terasa jauh. Bisa saling melihat setiap hari, tapi tak lagi saling menatap. Bisa bercakap di meja makan, tapi masing-masing sibuk dengan layar di tangan. Hubungan yang dulu hangat perlahan menjadi rutinitas, dan di tengah itu, manusia yang lelah mulai mencari percikan—apa saja yang membuatnya merasa hidup lagi. Selingkuh bukan hanya tentang tubuh yang berpindah pelukan, tapi tentang jiwa yang kehilangan rumahnya. Ada orang yang merasa tak lagi dilihat, tak lagi didengar, tak lagi dianggap penting. Ia mencoba bicara, tapi kata-katanya selalu terbentur dinding. Lalu di suatu tempat—kadang di kantor, kadang di ruang obrolan digital—ada seseorang yang tiba-tiba mau mendengar. Dari situlah semuanya mulai: dari kalimat kecil yang terdengar remeh, tapi menghidupkan sesuatu yang lama padam. Aku tidak sedang membenarkan siapa pun. Luka karena ketidaksetiaan itu nyata, dan rasa percaya yang hancur tidak bisa direkatkan dengan maaf semata. Tapi aku juga tahu, manusia bisa tersesat bukan karena jahat, melainkan karena kosong. Karena dalam dirinya ada ruang yang tak pernah diisi dengan kasih, pengertian, atau keberanian untuk berkata: “Aku butuh kamu, aku takut kehilangan, aku merasa sendiri.” Kita sering membangun hubungan seperti membangun rumah di atas tanah yang belum selesai diratakan. Masih banyak batu masa lalu yang belum disingkirkan: trauma, ekspektasi, luka lama. Lalu kita marah saat bangunannya retak. Padahal mungkin retaknya bukan karena badai luar, tapi karena pondasi di dalam yang rapuh. Selingkuh adalah gejala, bukan akar. Akar sebenarnya adalah komunikasi yang mati perlahan, rasa yang dibiarkan layu, dan keberanian untuk jujur yang digantikan oleh formalitas. Kita takut terlihat lemah, jadi kita menahan. Kita takut ditolak, jadi kita berpura-pura baik-baik saja. Lama-lama, keintiman menjadi basa-basi yang sopan. Lalu ada yang datang membawa sesuatu yang sederhana: perhatian. Hanya “sudah makan?” atau “kamu kelihatan capek.” Dan perhatian sekecil itu terasa seperti hujan pertama di tanah gersang. Dari situ, hati yang kering mulai lembab, dan batas-batas yang dulu tegas tiba-tiba kabur. Selingkuh sering tidak dimulai dari niat besar, tapi dari celah kecil yang tidak dijaga. Namun di sisi lain, ada yang memang berkhianat tanpa penyesalan. Ada yang menjadikan cinta seperti permainan, mengumpulkan hati orang lain seolah trofi. Ada yang lupa, bahwa setiap “aku kangen kamu” yang tidak seharusnya diucapkan bisa menyalakan api di rumah orang lain. Dan ketika api itu membesar, semua orang terbakar—termasuk dirinya sendiri. Aku pernah melihat seseorang menangis bukan karena kehilangan pasangannya, tapi karena kehilangan dirinya sendiri di dalam hubungan itu. Dan mungkin, di situlah akar persoalan kita semua: kita terlalu sibuk menjadi “pasangan yang baik”, “orang yang kuat”, “yang selalu mengerti”, sampai lupa menjadi manusia yang jujur pada rasa sendiri. Cinta, kalau tidak dijaga dengan kejujuran, akan berubah jadi formalitas yang indah tapi kosong. Dan di kekosongan itulah, godaan menemukan ruang. Bukan karena orang ketiga lebih cantik, lebih tampan, atau lebih muda. Tapi karena orang itu datang membawa sesuatu yang sudah lama hilang—perhatian, pengakuan, dan rasa dilihat. Kita sering berpikir kesetiaan itu tentang menolak godaan. Padahal kesetiaan yang sejati adalah keberanian untuk tetap memilih, bahkan ketika godaan terasa menyenangkan. Kesetiaan bukan soal tidak tergoda, tapi soal tetap tinggal saat tergoda. Dan itu sulit—sangat sulit—di dunia yang serba cepat, serba pamer, serba ingin dikagumi. Mungkin, yang paling menyedihkan dari kisah perselingkuhan adalah bukan siapa bersama siapa, tapi siapa kehilangan dirinya dalam proses itu. Kita semua bisa tergelincir. Tapi yang lebih berbahaya dari selingkuh pada orang lain adalah selingkuh pada diri sendiri—saat kita pura-pura bahagia padahal tidak, pura-pura kuat padahal rapuh, pura-pura cinta padahal hanya takut sendirian. Selingkuh mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar janji, tapi kerja yang terus diperbarui. Setia bukan kata benda, melainkan kata kerja. Dan manusia, seaneh-anehnya, hanya bisa benar-benar setia ketika berani jujur. Mungkin di akhir semua ini, yang perlu kita lakukan bukan menghukum atau mencari siapa yang salah. Tapi bertanya: apa yang sebenarnya hilang dari kita? Sebab sering kali, perselingkuhan bukanlah akhir dari cinta—melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar dimulai.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...