Senin, 28 Juli 2025

Tiba - tiba Hilang


Tiba-tiba kamu berhenti muncul. Tidak ada lagi cerita pendek yang kamu bagikan, tidak ada lagi senyum dalam bentuk foto, tidak ada lagi potongan lagu atau tulisan-tulisan aneh yang biasanya kamu unggah tanpa konteks. Lalu orang-orang mulai bertanya, “Kamu ke mana?” Tapi yang lebih banyak adalah mereka yang diam-diam merasa kehilangan tanpa tahu harus menyuarakan kehilangan itu ke siapa. Kadang kita tidak sadar bahwa kehadiran kita yang terlihat remeh di media sosial ternyata memberi ruang kecil bagi orang lain untuk merasa terhubung. Tapi sekarang, kamu lenyap. Tiba-tiba. Dan keheninganmu lebih bising daripada ocehan siapa pun di dunia maya. Aku tidak tahu apakah kamu sedang bosan, sedang muak, sedang ingin sendiri, atau justru sedang jatuh dalam sesuatu yang tak bisa kamu bicarakan dengan siapa pun. Aku tidak tahu apakah kamu merasa sendirian meskipun terlihat dikelilingi banyak teman, atau justru kamu memang benar-benar sendiri. Yang aku tahu, kamu berubah. Dan aku mencoba tidak bersuara, karena takut pertanyaanku malah menambah beban. Tapi, bukankah kita semua pernah ada di titik itu? Titik ketika kita berhenti menjelaskan karena kita tahu penjelasan pun tak akan menyembuhkan apa-apa. Titik ketika kita ingin menghilang bukan untuk dicari, tapi untuk benar-benar sendiri. Titik ketika dunia terasa terlalu berisik dan satu-satunya yang ingin kita dengar adalah suara dalam kepala kita sendiri, walau kadang suara itu pun tak menenangkan. Aku paham, sungguh. Tidak semua perubahan perlu diumumkan, tidak semua keputusan harus dijelaskan. Tapi tetap saja, sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari ceritamu—meskipun hanya kecil, hanya singkat, hanya samar—aku merasa ada ruang kosong yang kamu tinggalkan begitu saja. Kita semua berubah, aku tahu itu. Tapi jika perubahannya sedadak ini, pasti ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mungkin kamu sedang belajar menjadi lebih kuat, atau justru sedang lelah terus berpura-pura kuat. Mungkin kamu ingin melindungi diri sendiri, atau sedang mencari kembali siapa dirimu sebenarnya. Kita tidak pernah tahu, bahkan saat kita mengenal seseorang sekalipun, kita hanya tahu sebagian kecil dari apa yang mereka izinkan untuk kita tahu. Sisanya adalah ruang sunyi yang tak bisa kita jamah. Kadang kita marah karena seseorang menjauh tanpa pamit, tapi setelah waktu berlalu kita akan sadar, bahwa tidak semua orang mampu berpamitan. Kadang kita kecewa karena tidak dijelaskan, padahal mungkin mereka sendiri pun belum tahu apa yang sedang mereka rasakan. Dunia ini terlalu cepat, semua orang berlomba menjadi versi terbaiknya, dan kita sering lupa bahwa tidak semua orang ingin ikut lomba. Beberapa dari kita hanya ingin diam sejenak, berhenti, menarik napas, menyembuhkan luka, tanpa ditanya, tanpa dituntut. Dan kamu, mungkin sedang ada di fase itu. Jika iya, maka semoga diam-mu membawa damai. Semoga hilangmu bukan karena kamu ingin menyerah, tapi karena kamu sedang belajar menerima. Aku tidak tahu apa yang kamu lalui, tapi aku tahu bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik-baik saja selamanya. Dan tidak apa-apa jika saat ini kamu belum siap bercerita. Tidak apa-apa jika saat ini kamu memilih diam. Yang penting kamu tahu, bahwa ada yang peduli. Mungkin diam-diam, mungkin dari jauh, mungkin tidak tahu harus bagaimana, tapi tetap peduli. Dan ketika kamu sudah siap kembali, dunia tidak akan persis sama, tapi beberapa orang akan tetap ada. Menunggu tanpa menekan. Mendoakan tanpa harus tahu masalahnya. Kadang yang kita butuhkan hanya tahu bahwa kita tidak sendirian, walau kita tidak ingin bicara. Jadi, jika kamu membaca ini—entah sekarang, entah nanti—kuharap kamu baik-baik saja. Atau setidaknya, sedang menuju ke arah itu. Kamu tidak harus menjelaskan apa pun. Kamu tidak harus memberi tahu siapa pun. Tapi tolong, jangan hilang karena kamu merasa tak berarti. Jangan diam karena kamu merasa tidak penting. Kamu berarti. Bagi seseorang. Bagi beberapa orang. Bahkan saat kamu tidak menyadarinya. Kadang keberadaan kita bukan soal hebatnya kita, tapi soal betapa sederhana dan jujurnya kehadiran itu terasa. Dan kamu punya itu. Maka pulihlah dengan tenang. Menjauh bukan berarti salah. Tapi jangan biarkan kesedihanmu membuatmu percaya bahwa kamu sendirian. Karena kamu tidak. Meskipun hanya dalam diam, ada yang tetap percaya bahwa kamu layak bahagia. Aku termasuk salah satunya.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...