Selasa, 16 Desember 2025

Ingatan Itu Bernama Primbon


Aku selalu tersenyum setiap kali mendengar kata ramalan. Seolah ada seseorang yang duduk di masa depan, menunjuk-nunjuk kita sambil berkata: nanti kamu begini, nanti kamu begitu. Padahal yang ingin kuceritakan bukan itu. Ini bukan tentang menebak hari esok. Ini tentang mencatat kemarin. Tentang ingatan yang terlalu rajin, terlalu setia, sampai dunia terasa seperti kaset yang diputar ulang berkali-kali.

Primbon sering disalahpahami sebagai kitab peramal. Padahal bagiku, ia lebih mirip buku catatan tua yang sudut-sudut halamannya sudah menguning. Isinya bukan wahyu dari langit, melainkan rangkuman dari kehidupan yang diamati terlalu lama. Orang-orang dulu melihat hujan datang setelah angin tertentu, melihat panen gagal setelah tanda-tanda tertentu, melihat watak seseorang tumbuh dari hari kelahirannya yang berulang-ulang sama. Mereka mencatat. Lalu mencatat lagi. Sampai catatan itu berubah menjadi pola.

Dunia, rupanya, suka mengulang dirinya sendiri.

Bukan karena ia malas berinovasi, tapi karena manusia sering jatuh ke lubang yang sama. Kita mencintai dengan cara yang mirip, marah dengan alasan yang serupa, dan takut pada hal-hal yang nyaris identik dari generasi ke generasi. Maka ketika primbon berkata, “Jika begini, biasanya akan begitu,” aku tidak mendengarnya sebagai vonis. Aku mendengarnya sebagai bisikan ingatan: dulu sering seperti ini.

Kita hidup di zaman yang memuja kebaruan. Yang lama dianggap usang, yang kuno dianggap ketinggalan. Tapi anehnya, hidup kita penuh pengulangan. Patah hati masih terasa sama seperti ratusan tahun lalu. Kehilangan masih membuat dada sesak dengan cara yang nyaris tidak berubah. Keserakahan masih menyamar dengan pakaian yang berbeda, tapi wajahnya tetap bisa dikenali. Primbon hanya berani jujur tentang satu hal: manusia tidak sepenuhnya berubah.

Ketika orang berkata, “Lahir hari ini, sifatnya begini,” aku tidak langsung percaya, tapi aku juga tidak menertawakannya. Bisa jadi itu bukan soal hari, melainkan soal kebiasaan yang diwariskan, pola asuh yang berulang, lingkungan yang membentuk dengan cara yang mirip. Hari kelahiran hanyalah simbol, penanda kecil untuk sesuatu yang jauh lebih besar: rangkaian sebab-akibat yang panjang dan rumit.

Primbon tidak memaksa kita untuk percaya. Ia tidak mengetuk meja dan berkata, “Ini pasti.” Ia hanya menunjuk ke belakang, ke jejak-jejak kaki yang sudah ada. Kita yang memutuskan apakah ingin melangkah persis di sana, atau mengambil sedikit belokan.

Aku sering merasa primbon itu seperti cermin retak. Tidak memberikan gambaran utuh, tapi cukup untuk membuat kita berhenti sejenak. Membuat kita bertanya: apakah hidupku sedang mengulang cerita orang lain? Apakah pilihanku benar-benar baru, atau hanya versi lain dari keputusan lama yang pernah gagal?

Di situlah nilai primbon bagiku. Bukan sebagai peta masa depan, tapi sebagai arsip ingatan. Ia mengingatkan bahwa setiap kejadian hari ini punya saudara kembar di masa lalu. Bahwa hampir tidak ada hal yang sepenuhnya asing. Kita hanya terlalu sibuk merasa istimewa, sampai lupa bahwa manusia sebelum kita juga pernah merasa begitu.

Tentu, primbon bisa keliru. Catatan manusia tidak pernah sempurna. Ada bias, ada mitos, ada keinginan untuk menyederhanakan hidup yang sebenarnya liar dan kompleks. Tapi bukankah sains pun lahir dari kebiasaan yang sama? Mengamati, mencatat, mengulang, lalu berkata, “Sepertinya sering begini.” Bedanya hanya bahasa. Yang satu memakai istilah statistik, yang lain memakai simbol dan hari pasaran.

Aku tidak ingin hidup dituntun sepenuhnya oleh catatan lama. Aku juga tidak ingin menutup mata terhadapnya. Kita bisa berjalan sambil mengingat, melangkah sambil sadar bahwa dunia ini pernah ada sebelum kita, dan akan terus ada setelah kita. Ingatan kolektif itu tidak harus mengurung, ia bisa menjadi pagar rendah—cukup untuk mengingatkan, tapi tidak cukup tinggi untuk menghalangi.

Primbon, dalam bayanganku, adalah suara orang-orang yang sudah lebih dulu hidup dan kalah, menang, lalu kalah lagi. Mereka tidak sedang menakut-nakuti kita. Mereka hanya berkata pelan: kami pernah di sana. Selebihnya, hidup tetap milik kita.

Mungkin kita tidak sepenuhnya memahami. Tapi memahami bukan satu-satunya cara untuk menghormati. Kadang cukup dengan mendengarkan, lalu berpikir sendiri. Dunia memang berulang, tapi kesadaran memberi kita pilihan kecil: mengulang dengan mata tertutup, atau mengulang sambil belajar.

Dan barangkali, di situlah manusia sedikit berbeda dari catatan-catatan itu. Kita bisa mengingat, tanpa harus terjebak.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...