Minggu, 23 Februari 2025

Merasa Sunyi


Dunia ini terlalu ramai, suara-suara berseliweran,  
tapi mengapa yang kudengar hanya desis kesepian?  
Langit-langit kota dipenuhi gemuruh,  
tapi hatiku justru tenggelam dalam sunyi yang menyeru.  
Aku berdiri di tengah kerumunan,  
tapi seolah tak ada yang benar-benar melihatku.  
Mereka sibuk dengan dunianya sendiri,  
sementara aku, hanya bisa memandang dari balik jendela jiwa yang redup.  

Aku mencoba berteriak, tapi suaraku hilang,  
tersapu ombak hiruk pikuk yang tak pernah berhenti bergulung.  
Aku ingin bercerita, tapi kepada siapa?  
Semua orang berlari mengejar waktu,  
sementara aku hanya bisa berjalan pelan,  
menyusuri lorong-lorong sempit yang tak pernah ramai.  

Kadang aku bertanya, apakah aku yang salah?  
Ataukah dunia ini yang terlalu cepat?  
Aku ingin meraih tangan seseorang,  
tapi takut mereka akan menariknya pergi,  
tak mau terlibat dalam kegalauanku yang tak berujung.  
Aku hanya bisa menulis,  
menyimpan semua rasa dalam kata-kata yang tak akan pernah terbaca.  

Di tengah keramaian, aku merasa seperti hantu,  
hadir tapi tak dianggap, ada tapi tak dihiraukan.  
Aku ingin berlari, tapi ke mana?  
Semua tempat terasa asing,  
semua wajah terlihat samar.  
Aku hanya bisa duduk,  
menatap langit yang sama-sama tak peduli.  

Mungkin ini bukan tentang dunia,  
tapi tentang diriku yang tak pernah cukup berani.  
Aku ingin mencoba, tapi selalu ada dinding,  
sebuah tembok tinggi yang memisahkanku dari semua.  
Aku ingin percaya, bahwa suatu hari nanti,  
akan ada yang mendengar suaraku,  
tapi untuk sekarang, aku hanya bisa menunggu,  
dalam kesunyian yang tak pernah benar-benar sunyi.  

Aku adalah seorang penakut,  
yang tersesat di tengah keramaian,  
mencari jalan pulang yang tak pernah kutemui.  
Mungkin ini bukan tentang menemukan,  
tapi tentang belajar hidup dengan kesepian,  
dan merangkul diri sendiri di tengah dunia yang terlalu sibuk.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...