Dulu, waktu adalah teman yang sabar. Ia berjalan pelan, seperti air yang menetes dari kran bocor—satu per satu, tak terburu-buru. Aku masih kecil, dan dunia terasa luas seperti lapangan sepak bola yang tak berujung. Satu jam adalah petualangan; satu hari adalah cerita yang tak habis diceritakan.
Tapi kini? Waktu berlari. Ia tak lagi berjalan, apalagi berhenti. Ia seperti angin yang menerbangkan daun-daun kering, menghamburkan detik, menelan bulan sebelum sempat kuhitung. Aku duduk di tepi jendela, memandang langit yang sama, tapi sesuatu telah berubah.
"Apakah waktu yang semakin cepat, atau aku yang semakin lambat?" tanyaku pada diri sendiri.
Suara itu hanya bergema dalam sunyi.
Aku ingat sore-sore panjang di teras rumah, menunggu ibuku pulang dari pasar. Jam dinding berdetak dengan berat, seolah setiap tik dan tok-nya adalah sebuah perjuangan. Aku menghitungnya, satu demi satu, sampai akhirnya bosan dan beralih ke mainan kayu yang sudah usang.
"Kapan ya besok datang?" gumamku dulu.
Besok adalah misteri, sebuah negeri ajaib yang selalu terasa jauh. Tapi ketika besok tiba, ia tak pernah seheboh yang kubayangkan. Justru yang kuingat adalah rasa penantian itu sendiri—rasa gelisah yang manis, seperti menunggu hujan turun di musim kemarau.
Sekarang? Besok datang terlalu cepat. Baru saja aku menatap matahari terbit, eh, sudah senja lagi. Baru saja aku merayakan tahun baru, eh, sudah Desember lagi.
"Apa yang kau lakukan dengan waktumu?" suara itu kembali bertanya.
Aku menghela napas. "Aku mencoba mengejarnya, tapi justru kehabisan napas."
Ada sebuah kegelisahan yang muncul ketika kita sadar bahwa waktu tak bisa diputar ulang. Ia seperti pasir yang terus jatuh dari genggaman, tak peduli seberapa erat kita mencoba menggenggamnya.
Aku pernah duduk di sebuah kafe, melihat orang-orang lalu lalang. Ada yang tersenyum, ada yang cemberut, ada yang terburu-buru. Seorang lelaki tua di sudut ruang memandangi jam tangannya, lalu menggeleng pelan.
"Apakah ia kecewa pada waktu? Atau pada dirinya sendiri?"
Aku tak tahu. Tapi aku paham perasaan itu—perasaan bahwa hidup seharusnya lebih dari ini. Bahwa ada sesuatu yang 'seharusnya' sudah tercapai, tapi entah mengapa masih terasa jauh.
"Apakah ini salahku? Apakah aku terlalu lambat? Ataukah waktu yang terlalu cepat?"
Tapi waktu tidak pernah menjawab. Ia hanya terus bergerak, acuh tak acuh pada rengekan kita.
Kadang aku merasa seperti sedang menunggu takdir. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang besar, sesuatu yang membuat semuanya masuk akal. Aku duduk, menatap langit, berpikir: "Kapan hidupku benar-benar dimulai?"
Tapi di saat lain, aku justru merasa seperti dikejar waktu. Seolah ada tenggat yang tak terlihat, sebuah batas yang terus mendekat. Aku berlari, tapi entah ke mana. Aku bekerja, tapi entah untuk apa.
"Apakah ini yang disebut hidup? Ataukah kita semua hanya sedang bermain sandiwara untuk mengisi waktu?"
Aku tak tahu. Mungkin tidak ada yang tahu.
Lalu, di tengah semua kebimbangan ini, aku teringat pada sebuah kalimat:
"Waktu tidak pernah benar-benar cepat atau lambat. Ia hanya terasa berbeda tergantung bagaimana kita menjalaninya."
Mungkin itu benar. Mungkin waktu hanyalah cermin dari apa yang kita rasakan. Saat kita bahagia, ia berlari. Saat kita menderita, ia merangkak. Dan saat kita sibuk bertanya-tanya, ia diam-diam pergi.
Aku mencoba untuk berhenti sejenak. Menarik napas. Merasakan detak jantung sendiri.
"Ini saatnya," bisikku. "Tidak perlu menunggu. Tidak perlu dikejar. Cukup ada di sini, sekarang."
Dan untuk sesaat, waktu terasa seperti teman lagi.
"Waktu, kau memang licik. Kau membuatku rindu pada masa lalu dan cemas pada masa depan, padahal yang kumiliki hanya sekarang.Tapi hari ini, aku memilih untuk tidak melawanmu lagi. Aku hanya ingin merasakanmu—sepenuhnya, tanpa takut, tanpa penyesalan.Karena hidup bukan tentang seberapa cepat atau lambat kau bergerak. Tapi tentang bagaimana aku mengisi setiap ruang yang kau beri."