Awalnya, aku mengira luka hanya datang dari pisau atau jatuh di aspal keras. Tapi ternyata, luka paling perih justru datang dari mulut dan tindakan orang yang kusayangi.
Dulu, aku percaya bahwa cinta mereka adalah tempat pulang—sebuah ruang tanpa syarat di mana aku bisa salah, lalu dimaafkan. Tapi perlahan, kata-kata mereka berubah menjadi belati halus. Setiap kalimat sarkas, pandangan merendahkan, atau sikap acuh yang mereka anggap "biasa saja," ternyata meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dari yang kubayangkan.
"Kamu terlalu sensitif," katanya.
Aku pun mulai menyalahkan diri sendiri. Mungkin memang aku yang salah. Mungkin memang aku yang berlebihan.
Tapi mengapa setiap malam, air mata ini tetap jatuh?
Luka fisik bisa kering dalam hitungan hari. Tapi luka batin? Ia seperti hantu yang terus kembali, mengunjungimu di saat-saat tak terduga.
Terkadang, hanya karena mendengar nada suara tertentu, atau melihat ekspresi wajah yang mirip, tubuhku langsung tegang. Ingatan-ingatan itu kembali: ejekan yang dibungkus canda, kritikan pedas yang dianggap "motivasi," atau diamnya mereka saat aku butuh dukungan.
Aku mencoba melupakan. Aku mencoba memaafkan.
Tapi luka ini bukan jenis yang bisa sembuh hanya dengan waktu. Ia seperti sungai bawah tanah—tak terlihat, tapi mengalir deras di dalam diriku.
"Sudah lama, kok masih ingat?"
Ya, aku masih ingat. Karena luka dari orang yang kucintai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya belajar bersembunyi.
Aku pernah berpikir, jika aku cukup baik, cukup kuat, cukup sabar—mungkin mereka akan berubah. Mungkin lukaku akan terobati.
Tapi semakin aku berusaha menyenangkan, semakin dalam lukanya. Aku kelelahan berperang dengan bayangan sendiri, sementara mereka bahkan tak menyadari telah memberiku luka.
Lalu, perlahan, aku belajar satu hal:
Tidak semua luka harus sembuh. Beberapa hanya perlu akuakui keberadaannya.
Aku mulai menulis, merangkai kata-kata sebagai perban untuk lukaku. Aku menemukan bahwa kelembutan terhadap diri sendiri adalah obat yang tak pernah mereka tawarkan.
Tapi di sudut hati paling sunyi, pertanyaan itu tetap ada:
"Apakah mereka akan pernah mengerti?"
Kini, aku tak lagi berharap luka ini akan lenyap. Ia sudah menjadi bagian dari ceritaku—sebuah catatan kaki yang pahit tapi jujur.
Aku belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus mengabaikan lukanya. Aku bisa tetap sayang, tapi juga memberi batas. Aku bisa memaafkan, tapi tak harus melupakan.
Dan mungkin, inilah pelajaran terberat sekaligus termanis:
Luka dari orang terkasih mengajariku bahwa cinta sejati tidak seharusnya menyakiti.
Jika suatu hari nanti mereka bertanya, "Kenapa kamu berubah?"
Aku hanya akan tersenyum dan berkata dalam hati:
"Karena lukamu mengajariku untuk lebih mencintai diriku sendiri."
Luka dari orang yang kita sayang adalah luka yang paling sulit diungkap. Ia tidak berdarah, tapi menggerogoti perlahan. Tidak terlihat, tapi nyata.
Tapi dari sini, kita belajar:
''Tidak semua yang pergi adalah kehilangan. Terkadang, yang tersisa justru membuat kita lebih utuh.''
"Mungkin lukaku takkan sembuh, tapi setidaknya, aku tak lagi membiarkannya menentukan bagaimana aku mencintai dunia."