Ada yang tersangkut di sini, di antara tulang dada dan jakun. Sebuah cerita yang menggumpal, mengeras seperti batu, tapi tak pernah jatuh. Bukan karena tak ada orang yang bertanya, tapi karena kita tak yakin siapa yang bisa memegangnya tanpa menjatuhkan.
Kau tahu rasanya? Ketika mulut terbuka seolah siap bercerita, tapi tiba-tiba suara itu menguap sebelum sampai ke udara. Lidah menjadi penjaga yang terlalu setia, menahan setiap kata seperti rahasia negara. "Aku baik-baik saja," akhirnya meluncur lagi. Sebuah kalimat yang lebih sering menjadi kebohongan daripada jawaban.
Di luar, kau mungkin terlihat seperti danau yang tenang. Tapi di dalam, oh, di dalam, ada badai yang tak pernah berhenti berputar. Ada pertanyaan yang berteriak tanpa suara: "Apakah aku boleh tidak kuat hari ini?" Ada amarah yang membara pada diri sendiri karena tak bisa "semenarik" orang lain. Ada rindu yang salah alamat, pada seseorang yang bahkan tak tahu kau masih menyimpan namanya di saku.
Tapi semua itu tetap di sini. Tertimbun di bawah senyum, terselip di balik percakapan ringan tentang cuaca. Kau takut. Bukan saja karena rahasia mungkin akan disebar, tapi juga karena kau tak mau dilihat dengan mata yang sama sekali berbeda setelah mereka tahu.
Kadang aku membayangkan semua yang tertahan itu seperti daun kering di musim gugur, ringan sebenarnya, tapi begitu banyak sampai menumpuk, membuat sesak. Kau bisa menyapunya, tapi besok akan ada lagi. Dan lagi.
Aku pernah mencoba bercerita pada langit. Pada bantal yang basah di jam 3 pagi. Pada kucing jalanan yang hanya menatapku lalu pergi. Rasanya lebih aman: mereka tak akan memberitahu siapa-siapa, tak akan tiba-tiba mengubah ekspresi wajah, atau buru-buru memberiku solusi yang tak kuminta.
"Kau terlihat murung akhir-akhir ini," kata seseorang kemarin. Aku hampir tergoda. Hampir. Tapi lalu kuingat bagaimana tahun lalu, seorang teman mengangguk simpati saat ku bercerita, lalu besoknya kabarku sudah menjadi bahan obrolan di grup WhatsApp. "Dia lagi depresi, kasihan ya..."
Pernahkah kau mencoba menulisnya di kertas? Terkadang huruf-huruf itu menari sendiri, berubah menjadi puisi yang tak pernah dibacakan. Atau mungkin kau menyimpannya di draft pesan yang tak pernah terkirim, alamatnya jelas, jarinya ragu. Ada keberanian yang diperlukan bukan hanya untuk bersuara, tapi juga untuk yakin bahwa suaramu akan ditangkap, bukan dijatuhkan.
Tapi hari ini, cobalah bisikkan pada dirimu sendiri: "Aku di sini. Aku mendengarmu."
Kadang kita hanya butuh didengar oleh satu orang yang paling sering kita abaikan: diri sendiri.
Mungkin ini bukan tentang menemukan orang yang tepat, tapi tentang "berani menjadi tempat sampainya sendiri". Tentang belajar memeluk kegelisahan itu seperti memeluk anak kecil yang ketakutan, tanpa menghakimi, tanpa buru-buru menyuruhnya diam.
Suatu hari nanti, kau akan terbiasa dengan bising di dalam itu. Kau bahkan bisa tersenyum padanya, seperti pada teman lama yang kadang mengunjungi tanpa diundang. "Oh, kamu lagi di sini," bisikmu. "Duduklah sebentar. Kita tak perlu bicara jika kau belum siap."
Dan itu saja,,
sudah menjadi awal yang lebih baik daripada terus menelan sendiri.
Lambat laun, mungkin kau akan menemukan satu orang yang matanya berkata "Aku tak akan lari". Atau mungkin tidak. Tapi setidaknya, kau mulai belajar bahwa tidak semua yang tertahan harus tetap terpenjara.
Biarkan perlahan.
Seperti hujan yang akhirnya jatuh juga setelah sekian lama menjadi awan.