Seringkali kita berjalan begitu saja, menyeberang jalan, duduk di kursi yang kosong, atau sekadar menunggu sesuatu tanpa sadar bahwa ada alur tak kasat mata yang sedang membawa kita pada sebuah titik temu. Orang menyebutnya kebetulan. Aku pernah juga menyebutnya demikian, sebelum akhirnya aku mulai bertanya: apakah benar ada yang kebetulan? Atau, apakah semua yang terjadi memang sudah digariskan, hanya kita yang terlambat menyadarinya?
Pertemuan kita, misalnya.
Kalau ditilik dari sisi logika, itu hanyalah peristiwa sederhana. Dua orang melintas di jalan yang sama, pada waktu yang sama, lalu berpapasan, lalu bertegur sapa, lalu bercakap. Dari kacamata dunia, itu tidak lebih dari statistik, sekadar peluang yang mungkin bisa dihitung oleh angka-angka. Namun dari kacamata hati, pertemuan itu terasa lebih dari sekadar peluang—ia seperti jawaban, seperti pesan yang dikirim jauh sebelum aku sempat bertanya.
Tidak ada yang kebetulan.
Kalimat itu terus berputar dalam benakku, seakan menjadi gema yang menolak reda.
Aku mencoba mengingat kembali. Andai aku terlambat satu menit, mungkin kita tidak akan pernah berjumpa. Andai kau memilih jalan lain, mungkin aku hanya lewat begitu saja tanpa tahu bahwa ada senyum yang bisa menenangkan langkahku. Begitu rapuh benang peristiwa itu, namun entah bagaimana, benang yang rapuh itu justru berhasil mempertemukan kita. Seakan-akan ada tangan tak terlihat yang sedang merajut pola, satu simpul dengan simpul lainnya, hingga membentuk anyaman yang disebut “pertemuan”.
Kita sering tidak menyadari betapa besar arti dari sebuah pertemuan, sebelum akhirnya waktu mengambil jarak. Kita baru mengerti ketika kita menoleh ke belakang, menelusuri jejak yang pernah dilalui, lalu berkata dalam hati, “Ah, ternyata di situlah awal segalanya.”
Mungkin begitulah hidup.
Kita bukan pemilik penuh atas arah yang kita tempuh, meski kita merasa telah memilih dengan bebas. Ada hal-hal yang melampaui kuasa kita, ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dan justru di situlah rahasianya: bahwa pertemuan, perpisahan, kegembiraan, maupun luka, semuanya bukan kebetulan.
Pertemuan denganmu mengajarkan itu padaku.
Aku belajar bahwa setiap wajah yang kita temui adalah cermin; ada sesuatu dari diri kita yang dipantulkan kembali lewat orang lain. Kau, misalnya, menjadi cermin bagi kegelisahanku, bagi ketakutanku, juga bagi keberanianku yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Seakan-akan semesta sedang berbisik, “Lihatlah, inilah bagian dari dirimu yang kau abaikan.”
Tidak semua pertemuan dimaksudkan untuk tinggal lama. Ada yang datang hanya sebentar, sekadar lewat, sekadar singgah. Tetapi bukankah bahkan pertemuan singkat pun bisa meninggalkan bekas yang dalam? Seseorang mungkin hanya hadir lima menit dalam hidup kita, namun percakapannya bisa kita ingat seumur hidup. Seseorang mungkin hanya singgah sekali, namun tatapannya mampu meruntuhkan benteng yang bertahun-tahun kita bangun.
Aku sering bertanya dalam hati: apa arti dari pertemuan kita?
Apakah ia sekadar episode singkat, ataukah ia lembar awal dari sebuah perjalanan panjang?
Namun semakin aku mencoba menebak, semakin aku sadar bahwa pertanyaan itu tak pernah punya jawaban pasti. Yang bisa kulakukan hanyalah berjalan, melangkah setapak demi setapak, tanpa terburu-buru, tanpa berusaha memaksa arti. Karena terkadang, makna itu baru terbuka saat kita sudah jauh di ujung jalan.
Mungkin benar tidak ada yang kebetulan.
Bahkan kegagalan, bahkan rasa sakit, bahkan kesalahpahaman pun tidak hadir tanpa maksud. Ia mengajari kita sesuatu yang hanya bisa dipahami bila kita berani melewatinya. Pertemuan dan kehilangan hanyalah dua sisi dari koin yang sama, keduanya mendewasakan kita.
Lalu arti pertemuan kita?
Mungkin ia adalah sebuah pengingat bahwa dunia ini lebih luas dari dugaanku. Bahwa ada wajah-wajah yang bisa memberi cahaya dalam hari-hari gelap. Bahwa ada suara yang bisa meruntuhkan sepi yang terlalu lama diam di dada.
Atau mungkin ia adalah cara halus semesta berkata: “Kau tidak sendirian.”
Di tengah keramaian dunia yang penuh dengan langkah terburu-buru, ada detik yang berhenti sejenak, ada dua tatapan yang bertemu, ada percakapan kecil yang ternyata tidak kecil. Dan dari situlah aku mengerti, betapa berharganya sebuah pertemuan.
Tidak ada yang kebetulan.
Kalau begitu, pertemuan kita pasti menyimpan arti.
Entah arti itu sudah jelas di depan mata, atau masih tersembunyi di lipatan waktu. Yang pasti, aku percaya: suatu hari nanti, kita akan mengerti mengapa kita dipertemukan.
Sampai saat itu tiba, biarlah aku menyimpan kalimat ini dalam hati:
Tidak ada yang kebetulan, dan karena itu, pertemuan kita—sekecil apa pun—pasti berharga.