Kadang kita merasa cukup baik karena masih bisa berharap orang lain bahagia. Tapi diam-diam, ada syarat kecil yang kita sematkan dalam hati: asal jangan lebih bahagia dari kita. Ini bukan soal iri dalam bentuk yang keras dan terang-terangan. Ini lebih seperti desir halus di dada yang membuat kita sedikit enggan tersenyum penuh saat melihat orang lain tertawa lepas. Kita masih mendoakan mereka yang kita sayangi, tentu saja. Tapi tanpa sadar, doa itu kita batasi, kita arahkan, agar tidak terbang terlalu tinggi, agar tidak sampai lebih dulu dari milik kita. Dan ini terjadi bukan karena kita jahat, bukan pula karena kita ingin yang buruk terjadi pada mereka. Tapi karena kita lelah dengan perbandingan yang tak pernah benar-benar kita inginkan. Kita ingin jadi cukup, tapi juga ingin diakui sebagai paling. Kita ingin orang-orang yang kita cintai mendapatkan kebaikan, tapi tidak ingin kebaikan itu terlalu megah dibanding apa yang sedang kita perjuangkan. Seperti ada ketakutan bahwa jika mereka lebih bahagia, maka kita jadi tidak penting. Seperti ada suara kecil yang berbisik, bahwa bahagia itu sempit dan harus dibagi rata—atau lebih baik, disimpan untuk kita dulu. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Bahagia bukan ruang sempit, bukan hadiah terbatas yang harus diperebutkan. Bahagia tak pernah habis, tak pernah kekurangan stok. Tapi tetap saja, kita sering terjebak dalam kecemasan-kecemasan kecil yang membuat kita memelototi senyum orang lain dan bertanya, “Kenapa bukan aku yang seceria itu hari ini?” Dan itu manusiawi. Kita tidak perlu membenci diri sendiri karenanya. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyadari dan mengakui bahwa rasa itu ada. Menerima bahwa di balik harapan baik, ada sisi-sisi kecil dalam diri kita yang masih perlu disembuhkan. Tidak untuk disangkal, tidak pula untuk dimarahi, tapi untuk dipahami pelan-pelan. Mungkin dari situ, kita bisa belajar bahwa memberi restu pada kebahagiaan orang lain bukan berarti kita kehilangan hak untuk bahagia juga. Justru kadang, dengan benar-benar tulus berharap orang lain bahagia, kita sedang memberi tempat baru bagi kebahagiaan kita sendiri untuk tumbuh. Tanpa takut dibandingkan, tanpa merasa tertinggal. Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tertinggal ketika kita berjalan di jalan masing-masing, dengan langkah dan cerita yang tak pernah sama. Kita hanya perlu terus berjalan. Dan jika lelah, tak apa duduk sejenak. Tapi jangan pernah merasa kalah hanya karena senyum orang lain tampak lebih terang. Sebab mungkin, senyum kita pun jadi terang bagi yang lain. Kita hanya belum menyadarinya.
Belajar dari Runtuh yang Sunyi
Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...
-
Ada masa ketika hidup terasa seperti hujan yang lupa caranya berhenti. Satu masalah belum selesai, yang lain sudah berdiri di de...
-
Kadang aku berpura-pura ikhlas, padahal di dalam dada masih ada sepotong kecil rasa yang ingin menang. Aku melihatmu bahagia, dan entah ke...
-
Tiba-tiba kamu berhenti muncul. Tidak ada lagi cerita pendek yang kamu bagikan, tidak ada lagi senyum dalam bentuk foto, tidak ...