Ada kalanya kita terlalu sibuk menanggapi apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
Seolah-olah hidup ini adalah panggung sandiwara, dan setiap penonton berhak menyusun naskahnya sendiri. Kita berusaha menjelaskan, membela diri, menata kata, hanya supaya orang lain berhenti salah paham. Padahal, semakin keras kita menjelaskan, semakin jauh kita terseret ke dalam putaran penilaian yang tidak ada habisnya.
Bukankah melelahkan?
Hidup sudah cukup rumit tanpa harus memikul beban pikiran orang lain.
Aku sering merenung: kenapa kita begitu takut pada asumsi?
Kenapa kita merasa harus meluruskannya, seolah-olah asumsi itu bisa menjatuhkan hidup kita? Padahal, asumsi hanyalah bayangan. Ia bisa terlihat besar di dinding, tapi sebenarnya hanya bentuk kecil dari benda yang sederhana.
Yang harus kita jaga hanyalah diri kita sendiri. Yang harus kita rawat hanyalah langkah yang kita pilih. Biarlah orang lain mengira ini atau itu, membicarakan dengan tafsir mereka sendiri. Toh, pada akhirnya, mereka hanya menatap dari luar. Mereka tidak tahu luka apa yang sudah kita lewati, tidak mengerti keputusan-keputusan yang kita ambil, tidak pernah benar-benar ada di dalam perjalanan yang kita jalani.
Semakin kita dewasa, semakin kita paham bahwa tidak semua hal harus dijawab.
Kadang, diam adalah jawaban terbaik.
Kadang, tersenyum adalah penegasan yang paling jelas.
Dan kadang, membiarkan orang lain berasumsi adalah bentuk keberanian.
Karena begini:
Asumsi orang lain tidak mengubah kenyataan hidup kita.
Kalau mereka mengira kita lemah, padahal kita bertahan mati-matian, apakah itu mengurangi kekuatan kita? Tidak.
Kalau mereka mengira kita salah arah, padahal kita tahu tujuan yang kita tuju, apakah itu akan membelokkan langkah kita? Tidak.
Kalau mereka menilai kita sombong, padahal kita hanya sedang diam, apakah itu merusak hati kita? Tidak juga.
Yang rusak adalah bila kita terus memaksa diri untuk meluruskan semuanya.
Yang lelah adalah bila kita ingin semua orang mengerti.
Dan yang sia-sia adalah bila kita berharap semua orang akan memahami kita dengan sempurna.
Kita hidup bukan untuk memenuhi imajinasi orang lain.
Kita hidup untuk menunaikan panggilan jiwa kita sendiri.
Terkadang, lebih baik membiarkan opini bertebaran di udara, seperti debu yang pada akhirnya akan jatuh dan hilang sendiri. Orang akan bosan dengan asumsinya. Orang akan menemukan cerita baru untuk diperbincangkan. Sedangkan kita, kalau terus berjalan, justru makin jauh, makin kuat, makin kokoh.
Maka, jangan terlalu sibuk menanggapi.
Fokuslah pada langkah.
Fokuslah pada hal-hal kecil yang benar-benar bisa kita kendalikan: cara kita bekerja, cara kita mencintai, cara kita bersyukur. Biarlah dunia sibuk dengan komentarnya.
Hidup yang tenang bukan berarti hidup yang sepi dari omongan orang. Hidup yang tenang adalah saat kita sudah tidak terguncang lagi oleh omongan itu.
Seperti laut dalam yang tetap hening meskipun di permukaan badai mengamuk.
Dan bukankah lebih indah bila kita punya ruang hening di dalam hati?
Ruang di mana kita bisa bernafas lega, tanpa beban ingin membenarkan semua kesalahpahaman, tanpa kewajiban menjawab semua pertanyaan.
Ruang di mana kita bisa berkata dalam hati: “Biarlah. Aku tahu diriku. Aku paham jalanku. Dan itu sudah cukup.”
Pada akhirnya, kita tidak pernah bisa mengatur isi kepala orang lain.
Tapi kita bisa mengatur bagaimana hati kita menanggapi.
Kita bisa memilih untuk tidak terseret. Kita bisa memilih untuk tetap berjalan.
Jadi, biarkan orang lain berasumsi.
Biarkan mereka menebak-nebak cerita yang bahkan tidak mereka jalani.
Biarkan mereka membuat kesimpulan dari potongan-potongan kecil yang tidak lengkap.
Karena pada akhirnya, hanya kita yang benar-benar tahu apa yang kita rasakan.
Dan hanya kita yang bisa menentukan arah ke mana kita akan melangkah.
Hidup bukan tentang meluruskan semua kesalahpahaman.
Hidup adalah tentang berani terus berjalan, meski orang lain tidak mengerti.