Ada momen yang datang begitu tiba-tiba, secepat kedipan mata, dan meninggalkan jejak yang lebih panjang dari waktu itu sendiri. Kita berjalan di tengah keramaian, atau mungkin hanya berdiri di suatu sudut, lalu tanpa sengaja pandangan kita bertemu dengan seseorang. Ada keheningan aneh yang menyelinap, bukan karena sekitarnya sunyi, tetapi karena pikiran kita tiba-tiba penuh. Mata itu seperti menyimpan seribu kalimat yang tak sempat diucapkan, entah karena tak ada waktu, atau karena kita sendiri bingung harus mulai dari mana. Ingin menyapa, tapi lidah seperti menolak bergerak. Ingin tersenyum, tapi takut salah dimengerti. Akhirnya kita hanya saling bertahan di detik itu, dengan jarak yang sebenarnya tak jauh, tapi terasa seperti dipisahkan oleh lautan.
Lucunya, pertemuan mata itu bisa terasa lebih dalam daripada percakapan panjang. Ada getar yang sulit dijelaskan, semacam bahasa yang tak memakai kata, hanya diterjemahkan lewat tatapan. Kita merasa mengenal, atau setidaknya merasa “pernah tahu” meski mungkin baru pertama kali melihat. Di dalam hati, ada dorongan untuk mengurai semua rasa penasaran itu, untuk bertanya tentang hari mereka, hidup mereka, cerita yang belum pernah kita dengar. Tapi kemudian, rasa ragu datang seperti kabut tebal yang membuat kita kehilangan arah. Kita takut kalau ucapan pertama justru membuat suasana kaku, atau lebih buruk lagi, membuat orang itu berpaling.
Kadang kita berpikir, mungkin ini cuma momen kecil yang tak akan berarti apa-apa. Tapi, di sisi lain, ada bagian dari diri kita yang percaya bahwa momen-momen seperti ini tidak datang setiap hari. Ada yang bilang, tatapan yang saling bertemu itu ibarat pintu yang terbuka sebentar, memberi kesempatan untuk masuk sebelum tertutup lagi. Sayangnya, kita terlalu sibuk mempertimbangkan segala kemungkinan, sehingga lupa bahwa pintu itu tak akan menunggu lama. Dan ketika akhirnya kesempatan itu lewat, kita hanya bisa memutar ulang detik itu di kepala, bertanya-tanya bagaimana jadinya kalau kita sedikit lebih berani.
Rasanya aneh, ya? Bagaimana dua pasang mata bisa membuat kita terdiam seperti itu. Kita tidak sedang jatuh cinta, tidak pula sedang mencari sesuatu. Tapi, entah kenapa, ada rasa ingin tahu yang tulus. Rasa ingin tahu yang lahir bukan dari keinginan untuk menghakimi, melainkan hanya ingin memahami. Seperti melihat buku dengan sampul yang menarik di rak toko, lalu bertanya-tanya isi di dalamnya. Namun, berbeda dengan buku, kita tidak bisa begitu saja membalik halaman mereka tanpa izin. Ada etika, ada batas, ada rasa malu yang menjaga jarak.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itu indahnya. Tidak semua tatapan harus berlanjut jadi percakapan. Ada yang memang cukup berhenti di situ, menjadi potongan kecil yang akan kita simpan di ingatan. Bukan karena takut lupa, tapi justru karena ingin mengingat. Kita tak selalu perlu tahu akhir dari setiap awal. Kadang, membiarkan sesuatu menggantung justru membuatnya lebih berharga, karena ia akan selalu hidup di ruang kemungkinan.
Meski begitu, ada kalanya kita menyesal. Menyesal karena tak mencoba. Menyesal karena membiarkan rasa ingin tahu itu menguap begitu saja. Kita ingin meyakinkan diri bahwa suatu hari nanti, kalau momen serupa datang lagi, kita akan lebih berani. Tapi siapa yang bisa menjamin? Mungkin saat itu datang lagi, kita masih akan berdiri di titik yang sama: hanya menatap, sambil menyusun kata di kepala yang tak pernah sempat diucapkan.
Di sisi lain, ada juga kelegaan. Kelegaan karena kita tahu, bahkan tanpa ucapan pun, ada yang sudah sampai. Tatapan itu sudah berbicara cukup panjang, meski kita tak pernah tahu artinya. Mungkin di hati orang itu juga ada rasa yang sama, mungkin tidak. Mungkin mereka sudah melupakannya, atau justru sama seperti kita, menyimpannya diam-diam. Dan bukankah itu salah satu misteri kecil yang membuat hidup ini terasa lebih manusiawi? Bahwa tidak semua yang kita rasakan harus selesai dengan jawaban. Ada yang cukup menjadi pertanyaan, dan itu tidak apa-apa.
Kita sering kali sibuk mencari momen besar, padahal kadang yang paling melekat justru yang paling sederhana. Saling bertemu mata, sebentar saja, tapi membekas. Seperti hujan ringan di sore yang sepi, yang bunyinya hanya sebatas “tik” di atap, tapi mampu membuat kita berhenti dan mendengarkan. Mungkin, di dunia yang terlalu ramai ini, tatapan diam itu adalah cara Tuhan memberi kita jeda, agar kita ingat bahwa bahasa tak selalu lahir dari kata. Dan kalaupun nanti kita tak pernah tahu apa yang ada di balik mata itu, setidaknya kita pernah merasakan detik kecil yang membuat kita sadar: hati kita masih bisa bergetar, bahkan hanya karena saling melihat.