Rabu, 20 Agustus 2025

Kerjakan Apa yang Bisa Dikerjakan


Ada satu kalimat yang selalu berputar di kepalaku akhir-akhir ini: kerjakan apa yang bisa dikerjakan, sisanya biarkan waktu yang menjawab apa yang akan kita hadapi.

Aku tidak tahu persis siapa yang pertama kali mengucapkannya, mungkin seorang bijak yang sudah kenyang dengan pahit manis kehidupan, atau mungkin hanya suara hati yang menolak untuk menyerah. Tapi yang jelas, kalimat itu terasa masuk akal dalam banyak hal.

Karena pada akhirnya, hidup bukanlah tentang memastikan semua berjalan sesuai rencana. Hidup justru lebih sering menguji kita pada titik di mana kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Kita hanya diberi dua pilihan: terus bergerak dengan apa yang kita miliki, atau berhenti karena terlalu takut pada apa yang belum terjadi.

Aku belajar, bahwa kekhawatiran hanya memboroskan tenaga. Ia membuat kita sibuk memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu datang. Sementara kerja, sekecil apapun, selalu meninggalkan jejak. Ada hasil yang bisa dipetik, ada pelajaran yang bisa disimpan.

Bayangkan seorang petani. Ia tidak bisa mengendalikan hujan, tidak bisa memerintah matahari, tidak bisa menawar musim. Yang bisa ia lakukan hanyalah menanam benih, merawatnya dengan tekun, lalu menunggu. Mungkin panen melimpah, mungkin gagal, tapi setidaknya ia sudah melakukan bagian yang bisa ia kerjakan.

Begitu juga dengan kita.

Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu setuju dengan jalan yang kita pilih. Kita tidak bisa menghentikan badai masalah yang datang tiba-tiba. Kita tidak bisa menunda waktu yang terus berjalan tanpa peduli pada kesiapan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengerjakan bagian yang ada di tangan, dengan kemampuan yang kita punya, tanpa menunggu semuanya sempurna.

Dan untuk sisanya, biarlah waktu bekerja dengan caranya sendiri.

Aku ingat masa ketika aku terlalu sering menunggu. Menunggu kesempatan ideal, menunggu kondisi terbaik, menunggu saat yang katanya “tepat”. Tapi semakin lama aku menunggu, semakin banyak hal yang terlewat. Aku sadar, ternyata waktu tidak pernah menunggu balik. Ia tetap melaju, tanpa menoleh apakah aku masih diam atau sudah berjalan.

Maka dari itu, sekarang aku memilih untuk bergerak. Pelan pun tidak apa-apa, asal tidak berhenti. Karena lebih baik melangkah dengan apa yang ada di tangan, daripada menunggu kesiapan yang mungkin tidak pernah datang.

Kita sering lupa, bahwa hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang berani tetap berjalan meski jalannya tidak mulus. Ada yang jalannya lurus dan terang, ada juga yang penuh kerikil dan berliku. Dan tidak apa-apa. Semua orang punya peta hidupnya masing-masing.

Yang penting, jangan berhenti hanya karena takut salah langkah. Karena sering kali, jawaban baru muncul setelah kita berani melangkah.

Bukankah kita pernah merasa, sesuatu yang dulu menakutkan ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan? Bukankah kita pernah menyesal, karena terlalu lama menunda hingga akhirnya sadar bahwa kita bisa melakukannya sejak dulu? Itu buktinya, bahwa waktu memang selalu punya cara untuk menjawab—asal kita berani mencoba lebih dulu.

Aku tahu, tidak semua hal mudah dijalani. Kadang kita harus menelan kecewa, kadang kita harus berdamai dengan kehilangan, kadang kita harus melanjutkan langkah meski hati masih penuh luka. Tapi bukankah itu bagian dari perjalanan? Bukankah itu cara hidup mengajarkan kita untuk lebih kuat?

Maka aku kembali pada kalimat itu. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Fokus pada hal yang bisa kita pegang hari ini. Jangan habiskan energi pada hal-hal yang masih samar, karena waktu akan menunjukkan jawabannya sendiri.

Kalau hari ini hanya bisa melangkah satu tapak, lakukanlah. Kalau hari ini hanya bisa mengangkat sedikit beban, angkatlah. Tidak perlu menunggu semuanya ringan. Sebab justru dari situlah kekuatan terlatih.

Dan kalau pun nanti hasilnya tidak sesuai harapan, kita bisa berdiri dengan kepala tegak. Karena kita tahu, kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang kita bayangkan.

Hidup memang bukan teka-teki yang harus dijawab sekaligus. Ia lebih mirip buku yang dibaca halaman demi halaman. Kita tidak perlu tahu seluruh isinya di awal, cukup membuka lembar hari ini, membaca dengan saksama, lalu menunggu waktu membawa kita pada halaman berikutnya.

Biarlah rahasia besok tetap menjadi rahasia. Biarlah pertanyaan besar tetap menunggu giliran untuk terjawab. Tugas kita hanya satu: bekerja dengan apa yang ada, melangkah dengan apa yang mampu, dan percaya bahwa waktu akan membawa kita pada jawabannya.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita bisa bertahan bukanlah kepastian, tapi keberanian untuk terus mencoba meski tanpa jaminan.

Dan aku percaya, keberanian itu cukup.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...