Ada satu titik di mana aku merasa jenuh sekali. Bukan jenuh karena lelah bekerja atau rutinitas yang berulang-ulang, tapi jenuh karena kebisingan yang tak pernah berhenti — dari layar-layar kecil yang selalu menyala, dari dunia yang tak mau diam barang sejenak. Aku tak lagi ingin tahu siapa yang menang debat di kolom komentar hari ini, tak lagi penasaran siapa yang liburannya paling estetik, atau siapa yang katanya sudah "healing" lalu jatuh lagi. Hari-hari ini, aku sedang tidak ingin tahu apa-apa. Sedang tidak ingin melihat apa pun. Sedang ingin menarik diri, bukan karena marah, tapi karena butuh sunyi.
Aku memutuskan untuk puasa dari semua itu. Dari notifikasi yang tak henti-henti, dari gosip yang menyaru jadi informasi, dari konten motivasi yang justru melelahkan, dan dari cerita orang lain yang sering kali membuatku lupa bahwa hidupku juga layak untuk dijalani, meski tanpa sorotan. Aku ingin diam. Ingin menepi. Bukan untuk selamanya, hanya untuk sementara — cukup untuk bernapas lega, cukup untuk kembali mengenal suara hatiku sendiri yang selama ini tenggelam di antara update dan unggahan.
Di luar sana, dunia terus bergerak, aku tahu itu. Mereka bicara tentang tren terbaru, tentang berita terbaru, tentang apa yang harus dimiliki agar dianggap "nggak ketinggalan zaman". Tapi entah kenapa, aku sudah tidak peduli. Aku tidak takut tertinggal. Aku justru lega karena tak harus ikut berlomba. Karena sering kali, yang kita kejar bukan lagi makna, tapi pengakuan. Dan aku sedang ingin bebas dari itu semua.
Kita ini makhluk yang aneh, ya. Sudah lelah, tapi masih juga menggulir layar. Sudah tahu capek, tapi tetap juga menonton kehidupan orang lain, lalu tanpa sadar membandingkan. Seolah hidup ini sebuah ajang, siapa yang paling keren, siapa yang paling sibuk, siapa yang paling bahagia — atau paling terlihat bahagia. Lalu kita merasa ketinggalan, padahal belum tentu kita butuh hal yang sama. Belum tentu arah kita memang ke sana.
Saat aku tak lagi membuka media sosial, hari-hariku jadi lebih hening. Tapi justru di keheningan itu aku mulai bisa mendengar. Suara angin sore yang menyusup lewat jendela. Suara air yang mengalir dari pipa tetangga. Suara detak jam dinding yang biasanya tak terdengar karena kalah oleh notifikasi. Bahkan suara pikiranku sendiri, yang selama ini tertindih suara dunia. Aku menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kuabaikan — hal-hal kecil yang ternyata bisa membuatku merasa utuh.
Tak semua orang akan mengerti. Beberapa mungkin menyangka aku sedang menghilang, sedang patah, sedang lari dari kenyataan. Tapi sejujurnya, ini bukan pelarian. Ini perjalanan pulang. Pulang ke diri sendiri. Pulang ke ruang sunyi yang pernah kutinggalkan karena terlalu asyik mengikuti arus. Dan di ruang itu, aku belajar lagi untuk hadir sepenuhnya, bukan untuk dilihat, tapi untuk merasa.
Kadang aku bertanya, kenapa kita terlalu sibuk ingin tahu kehidupan orang lain, tapi begitu sulit mengenali isi hati sendiri? Kenapa kita terus menumpuk informasi dari luar, tapi jarang memberi waktu untuk menggali apa yang benar-benar kita rasakan? Barangkali karena takut. Takut dianggap ketinggalan. Takut tak relevan. Tapi aku memilih untuk istirahat dulu. Karena bukan kecepatan yang membuat hidup bermakna, melainkan kejelasan arah. Dan arah itu hanya bisa ditemukan saat kita berhenti sejenak.
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini. Tapi untuk sekarang, aku menikmati jeda ini. Menikmati malam tanpa cahaya layar. Menikmati pagi tanpa membuka notifikasi. Menikmati siang tanpa berpikir harus memposting apa. Rasanya seperti berjalan tanpa beban, seperti kembali ke masa di mana hidup tak perlu selalu dibagikan untuk dianggap nyata.
Mungkin nanti aku akan kembali membuka semuanya. Tapi saat kembali, aku ingin hadir bukan karena takut ketinggalan, tapi karena sudah selesai dengan diriku sendiri. Karena sudah tahu bahwa apa pun yang kulihat nanti, tak akan lagi menggoyahkan hatiku yang sudah lebih tenang. Karena sudah paham bahwa nilai hidupku tak ditentukan oleh jumlah like atau views, tapi oleh caraku mencintai hidup ini tanpa perlu membandingkan.
Jadi, jika kamu juga sedang merasa penat, tak ada salahnya untuk berhenti sejenak. Dunia akan tetap berjalan. Informasi akan tetap mengalir. Tapi jiwa kita butuh istirahat. Butuh ruang untuk tenang, untuk tumbuh, untuk kembali menjadi diri sendiri — bukan versi yang disukai orang lain, tapi versi yang benar-benar kita butuhkan.