Kadang aku hanya ingin membuka pesan dan bilang “hai.” Tapi jari-jariku diam. Bukan karena tak ingin bicara, tapi karena tak tahu harus bicara apa. Betapa lucunya, ya? Keinginan sederhana seperti ngobrol bisa terasa seperti menyusun rencana perang. Seolah “apa kabar?” harus punya makna yang dalam, seolah aku harus membawa topik yang penting, seolah setiap pesan harus berguna dan berbobot. Padahal mungkin, cukup hanya bicara biasa. Tapi tetap saja, aku diam.
Ada orang-orang yang begitu ingin kita ajak bicara, tapi entah kenapa, keinginan itu kalah oleh rasa canggung. Padahal kita pernah tertawa bersama, pernah berbagi cerita tanpa perlu berpikir dua kali. Tapi kini, waktu dan jarak membuat segalanya terasa canggung. Dan saat aku ingin menyapa, aku malah duduk memandangi layar kosong. Menunggu inspirasi tak datang-datang.
Aku pikir, barangkali bukan cuma aku yang merasakannya. Mungkin kamu juga pernah. Ingin menghubungi seseorang, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu peduli. Tak ingin terlihat mengganggu, tak ingin dianggap terlalu tiba-tiba. Kita menimbang terlalu banyak hal, dan akhirnya diam terlalu lama.
Padahal hidup ini terlalu singkat untuk terus menunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang tepat sering kali hanya datang setelah semuanya terlambat. Tapi tetap saja, aku memilih diam. Mencari-cari alasan: mungkin dia sibuk, mungkin belum sempat membalas, mungkin tidak butuh obrolan dari seseorang sepertiku. Dan saat semua mungkin itu bercampur jadi satu, aku hanya menggenggam ponsel dan menatapnya tanpa suara.
Lucu, ya? Betapa beratnya kata “halo” saat terlalu lama tak diucapkan. Betapa rumitnya mengobrol, saat hati penuh tapi tak tahu pintu mana yang harus diketuk lebih dulu. Kadang rasanya seperti berdiri di depan rumah yang dulu akrab, tapi kini tak tahu apakah masih boleh masuk.
Aku jadi ingat, dulu kita bisa ngobrol berjam-jam tanpa isi. Hanya omong kosong, hanya tawa, hanya celoteh yang tak penting tapi hangat. Dan sekarang, ketika aku butuh percakapan itu lagi, semuanya terasa asing. Bukan karena orangnya berubah, mungkin karena akulah yang terlalu banyak berpikir.
Mungkin karena semakin dewasa, kita semakin merasa semua harus penting. Semua harus ada tujuannya. Tapi bukankah hal-hal yang paling kita rindukan justru yang tak penting itu? Obrolan tak jelas di malam yang sepi. Canda tanpa sebab. Keluhan-keluhan kecil yang dibalas dengan emoticon lucu. Bukankah justru itu yang membuat kita merasa dekat?
Kini aku hanya bisa membayangkan, bagaimana jika aku mengirim pesan itu. Apa reaksinya? Akan dibalas cepat? Atau dibiarkan menggantung? Akan disambut hangat? Atau terasa hambar? Dan semua kemungkinan itu, sialnya, cukup untuk membuatku tak jadi mengirim apa-apa.
Tapi diam juga menyiksa. Karena keinginan itu tetap ada. Karena dalam diamku, ada percakapan-percakapan yang kujalin sendiri di kepala. Aku membayangkan tawa kita, membayangkan responmu, membayangkan kita kembali seperti dulu. Tapi kenyataan tidak berjalan seimajinatif itu. Dan aku tahu, membayangkan saja tidak cukup untuk menjembatani jarak yang makin lebar.
Aku tak ingin terus-terusan seperti ini. Menunggu tapi tak bergerak. Merindu tapi tak menyapa. Ingin dekat tapi tak mau memulai. Tapi bagaimana jika pesan itu tak direspons seperti yang kuharap? Bagaimana jika obrolan itu hanya jadi satu arah? Ah, pikiran-pikiran ini sungguh merepotkan. Aku hanya ingin bicara. Hanya ingin bertanya, “Kamu apa kabar?” dengan tulus. Tapi bahkan untuk ketulusan pun, aku harus melewati ribuan keraguan dulu.
Jadi aku tulis ini sebagai bentuk lain dari pesan yang tak pernah terkirim. Sebagai cara lain untuk mengobrol, walau hanya lewat kata-kata yang diam. Mungkin kamu tidak membaca ini. Mungkin kamu tidak tahu bahwa aku sedang memikirkanmu. Tapi setidaknya aku sudah mencoba bicara, meski tak langsung kepadamu.
Karena kadang, hal sederhana memang bisa jadi serumit itu. Dan kita, dengan segala rindu dan bingungnya, hanya bisa duduk di antara kata yang ingin diucapkan dan ketakutan yang menahannya.
Dan kalau suatu hari kamu tiba-tiba bilang “hai,” aku janji akan membalasnya. Tanpa tanya, tanpa canggung. Karena jauh di dalam diriku, aku juga ingin bicara sudah lama.