Kamis, 17 Juli 2025

Kangen yang Tidak Minta Penjelasan


Ada hari-hari di mana hidup terasa biasa saja. Langit tetap biru seperti kemarin, jalanan tetap ramai oleh motor-motor yang seolah tak pernah lelah, dan kopi tetap pahit meski sudah dicampur dua sendok gula. Tapi tiba-tiba, tanpa aba-aba, ada sesuatu di dada yang seperti menggedor pelan. Tidak sakit, tidak menyiksa, tapi juga tidak bisa diabaikan. Semacam rasa kangen yang muncul begitu saja—entah dari mana, entah untuk siapa. Rasanya seperti ada yang mengendap terlalu lama, lalu mendesak keluar hanya karena udara sore sedikit lebih dingin dari biasanya, atau karena bayangan seseorang lewat begitu saja di ingatan.

Lucunya, saat rasa itu datang, kita jadi seperti orang asing di tubuh sendiri. Bingung harus bereaksi bagaimana. Mau menghubungi seseorang? Tapi siapa? Mau cerita ke teman? Tapi tentang apa? Mau menangis juga terlalu berlebihan. Akhirnya hanya senyum-senyum sendiri, tanpa tahu apa yang sedang disenyumi. Dan saat itu terjadi, kita sadar betapa banyak hal yang pernah kita simpan diam-diam, bahkan dari diri sendiri. Rindu yang tidak sempat diucapkan. Perasaan yang dulu sengaja tidak diberi nama.

Kadang rindu memang tidak butuh logika. Ia datang bukan karena ada yang harus dikenang, tapi karena ada ruang dalam hati yang tiba-tiba kosong, dan ingin diisi. Kita mengira sudah baik-baik saja, ternyata belum sepenuhnya pulih. Kita kira semua sudah selesai, ternyata ada satu dua kenangan yang masih menempel seperti bekas stiker di dinding: samar, tapi tetap ada. Dan dari sanalah rindu itu tumbuh. Dari sisa-sisa yang tak pernah benar-benar hilang.

Kita lalu duduk, menatap layar ponsel, jempol berhenti di kontak seseorang yang dulu pernah jadi tempat pulang. Tapi tidak jadi dikirimkan pesan. Bukan karena gengsi, bukan karena tidak ingin. Tapi karena tahu, tak semua rindu harus dikabarkan. Ada yang cukup disimpan dan dirasakan sendiri, dalam diam yang hangat, dalam senyum yang tak sempat dijelaskan.

Lucu ya, bagaimana rindu bisa mengalahkan logika. Di kepala kita tahu, semua sudah berlalu. Tapi hati kita tetap keras kepala. Ia tetap memeluk bayangan seseorang, seperti anak kecil yang tidak mau melepas boneka kesayangannya, meski sudah robek dan usang. Kita hidup di antara “sudah” dan “masih”: sudah berpisah, tapi masih terikat. Sudah selesai, tapi masih mengulang. Dan itu wajar. Karena manusia memang tidak diciptakan untuk mudah melupakan.

Maka malam ini, jika kamu tiba-tiba merasa rindu, tapi tak tahu untuk siapa, jangan buru-buru mencari alasan. Jangan merasa aneh, apalagi merasa lemah. Kadang rindu datang hanya untuk mengingatkan bahwa kita pernah merasa hangat. Bahwa hati kita pernah bergetar. Bahwa di antara kesibukan dan kebisingan dunia, ada bagian dari diri yang masih bisa merasa halus, halus sekali. Dan itu bukan kelemahan. Itu justru bukti bahwa kita masih manusia.

Tak perlu ditertawakan jika malam ini kamu hanya ingin duduk diam, mendengarkan lagu lama yang tak sengaja terputar, lalu senyum-senyum sendiri. Tak perlu dijelaskan kepada siapa pun kenapa tiba-tiba kangen, atau kenapa tiba-tiba ingin menulis sesuatu yang puitis. Cukup tahu bahwa itu bagian dari perjalanan. Kadang rindu tidak butuh tujuan. Ia hanya ingin mampir, lalu pergi lagi, seperti angin sore yang melintasi jendela, membelai pipi, lalu hilang.

Dan kalau pun rindu itu tak sempat disampaikan, tak apa. Beberapa hal memang tidak harus diketahui orang lain. Ada rasa yang lebih indah jika hanya kita yang menyimpannya. Seperti rahasia kecil antara kita dan semesta. Seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh hati.

Kamu tidak sendirian. Banyak orang pernah merasa aneh, bingung, senyum-senyum sendiri karena rindu yang tidak tahu tempat pulang. Kita semua punya satu bagian hati yang diam-diam menunggu, meski tidak tahu apa yang sedang ditunggu. Tapi dari situlah kita belajar tentang sabar, tentang ikhlas, tentang menerima bahwa tidak semua hal harus dimiliki. Beberapa cukup dikenang. Dan rindu pun begitu—kadang cukup dihayati, tanpa perlu dijelaskan.

Jadi malam ini, jika kamu merasa aneh karena tiba-tiba kangen, peluk saja rasa itu. Biarkan ia menetap sejenak, lalu berjalan sendiri. Seperti tamu lama yang datang bukan untuk mengganggu, tapi hanya ingin menyapa.

Karena rindu, meski menyakitkan, adalah bukti bahwa kita pernah punya cerita. Pernah punya seseorang. Pernah punya detik yang hangat untuk dikenang. Dan itu cukup.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...