Senin, 21 Juli 2025

Tak Mau Terlibat


Ada kalanya, kita duduk di bangku paling belakang dari keramaian dunia. Bukan karena takut. Bukan pula karena tidak mampu bersuara. Tapi karena kita tahu, tidak semua hal perlu kita campuri, tidak semua cerita layak untuk kita masuki.

Aku pernah terlalu sering jadi juru damai. Jadi penengah dalam silang pendapat yang bukan milikku. Jadi orang yang ditarik ke kiri dan ke kanan oleh dua kubu yang masing-masing merasa paling benar. Aku pernah merasa harus selalu menjadi jembatan bagi orang lain, bahkan ketika aku sendiri belum sampai ke seberang.

Tapi sekarang tidak lagi.

Sekarang, aku memilih diam. Memilih tidak bertanya, tidak ikut berkomentar. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena aku belajar, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kekisruhan yang bukan bagian dari jalanku.

Ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan. Buku-buku yang belum sempat kubaca. Ide-ide yang ingin kutulis. Langkah-langkah kecil menuju versi diriku yang lebih baik. Dan semua itu tidak akan pernah benar-benar kulakukan jika aku terus menerus terseret ke dalam pusaran konflik orang lain.

Aku bukan robot yang tak punya empati. Tapi aku bukan juga pahlawan yang bisa menyelamatkan semua orang dari masalah mereka. Ada kalanya, orang perlu menyelesaikan luka mereka sendiri. Ada kalanya, kita justru menghambat proses mereka bertumbuh dengan terlalu sering ikut campur.

Aku ingin menjaga tenang di dalam kepalaku. Ingin menjaga damai di dalam dadaku. Dunia ini sudah cukup gaduh tanpa harus aku menambah volume. Maka aku memilih menjauh. Bukan karena sombong. Tapi karena aku ingin waras.

Aku pernah mengira bahwa tidak peduli itu jahat. Tapi sekarang aku tahu, bahwa ada bentuk cinta yang paling sunyi: yaitu ketika kita membiarkan orang lain berjalan sendiri, karena kita percaya mereka bisa. Karena kita yakin, mereka akan baik-baik saja, meski tanpa kita.

Fokus.

Itu kunci dari semua ini.

Fokus pada jalan yang ingin kutempuh. Fokus pada mimpi-mimpi yang menunggu di ujung sana. Fokus pada versi diriku yang belum sempat kuraih karena terlalu sering menoleh ke samping.

Maka sekarang, jika ada yang bertanya, “Kamu tahu nggak, si A ribut lagi sama si B?”
Aku akan menjawab, “Maaf, aku nggak tahu. Aku memang sengaja tidak tahu.”

Jika ada yang bilang, “Masa kamu nggak mau ikut bantu ngasih saran?”
Aku akan berkata, “Aku sedang belajar untuk tidak selalu hadir di panggung yang bukan milikku.”

Aku ingin menjadi tenang. Seperti air sumur yang tidak terganggu ombak. Seperti langit senja yang tak terpengaruh deru motor. Seperti malam yang tidak terusik suara gaduh.

Aku ingin menjadi manusia yang tahu batas. Batas antara peduli dan ikut campur. Batas antara membantu dan menyelamatkan diri sendiri lebih dulu. Batas antara menjadi teman yang baik dan menjadi pelampiasan emosi orang lain.

Bukan berarti aku tidak akan mendengar. Tapi aku akan memilih apa yang layak didengar. Aku akan memilih siapa yang pantas untuk kuberi ruang dalam hidupku.

Karena jika aku terus menerus masuk dalam urusan yang bukan urusanku, lalu kapan aku akan merawat diriku sendiri?

Kapan aku akan mengobrol dengan hatiku, memeluk pikiranku, dan menenun kembali luka-luka kecil yang tertinggal?

Tidak semua pertengkaran harus kita luruskan. Tidak semua drama harus kita tonton. Tidak semua panggilan harus kita jawab.

Kadang, yang paling sehat adalah diam. Melangkah mundur. Tersenyum dan berkata dalam hati, “Aku punya jalan lain. Dan aku ingin berjalan ke sana.”

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...