Entah sejak kapan aku berhenti peduli.
Bukan karena tiba-tiba membatu, bukan pula karena hati ini tak lagi punya rasa. Tapi mungkin karena terlalu lama menggantungkan langkah pada arah yang orang lain tentukan. Terlalu lama mengejar pengakuan, padahal yang kubutuhkan cuma kelegaan.
Dulu, tiap langkah harus rapi,
tiap kata harus sopan,
tiap pilihan harus masuk akal bagi banyak kepala.
Tapi semakin ke sini, aku sadar…
tak semua hal bisa dijelaskan.
Tak semua tindakan perlu dipahami.
Dan tak semua hidup harus tampak baik di mata semua orang.
Kadang aku bertanya—
apa ini kedewasaan?
Atau hanya sebuah bentuk egoisme yang halus?
Tapi bukankah keduanya sering tak bisa dibedakan?
Dulu aku takut dibilang berubah.
Takut disebut terlalu tertutup, terlalu aneh, terlalu jauh.
Kini, aku tak merasa perlu menjelaskan siapa diriku sekarang.
Jika mereka ingin mengenal, silakan.
Jika tidak, aku tidak akan mengejar.
Aku tak ingin lagi sibuk mengedit hidupku demi tampak cocok di mata mereka.
Tak ingin memoles luka agar terlihat manis.
Tak ingin menceritakan duka hanya agar dianggap kuat.
Cukup.
Aku ingin hidup apa adanya, meski kadang tak menarik.
Aku ingin tenang, meski kadang terlihat membosankan.
Aku tak lagi mau mempertimbangkan segala sesuatu dari "apa kata mereka".
Karena “mereka” itu siapa?
Mereka bukan yang tinggal di dadaku setiap malam.
Bukan yang tahu seberapa keras aku menahan diri untuk tetap berdiri.
Bukan yang paham seberapa sering aku berpura-pura tegar padahal ingin menyerah.
Aku mulai menikmati hidup dengan ritme sendiri.
Bangun saat tenang, diam saat ramai, jalan saat semua orang berlari.
Kadang aku bahkan merasa jauh dari dunia.
Tapi anehnya, justru di situlah aku merasa dekat dengan diriku sendiri.
Mungkin aku jadi tidak ramah.
Mungkin aku terlihat dingin.
Tapi bukan karena benci. Hanya saja,
aku mulai memilih siapa yang boleh masuk, siapa yang cukup dilihat dari jauh.
Bukan karena sombong, tapi karena aku terlalu lelah membuka ruang untuk semua orang.
Ternyata, fokus pada diri sendiri itu bukan hal yang egois.
Itu hal yang sehat.
Itu bentuk cinta yang utuh, yang tak tergantung pada validasi luar.
Dan aku mulai paham…
kedewasaan bukan soal bisa memaafkan semua orang.
Kadang justru soal memaafkan diri sendiri karena tak bisa menyenangkan siapa pun.
Aku tak butuh semua orang mengerti.
Tak semua hal perlu disepakati.
Yang penting, aku damai dengan pilihan yang kuambil.
Aku bisa tidur tanpa beban.
Aku bisa diam tanpa takut ditinggal.
Sekarang, aku belajar mencintai ketenangan.
Belajar memilih diam, bukan karena kalah. Tapi karena aku tahu,
tidak semua hal layak untuk diributkan.
Tidak semua pertanyaan perlu dijawab.
Dan kamu tahu?
Ada kelegaan luar biasa saat kita tak lagi peduli apakah mereka setuju atau tidak.
Saat kita berhenti menjelaskan segala hal yang kita lakukan.
Saat kita hanya ingin hidup… hidup saja, tanpa penonton.
Kadang aku bertanya,
apakah ini artinya aku sedang tumbuh?
Atau sebenarnya aku sedang menjauh?
Tapi mungkin itu tak penting.
Yang penting, aku baik-baik saja.
Dan jika ada yang tak suka dengan versiku yang sekarang,
tak apa.
Karena aku tak sedang membuat pertunjukan.
Aku hanya sedang berjalan pulang.
Menuju diriku yang tak lagi peduli pada siapa pun,
selain diriku sendiri.