Kita semua punya mimpi, entah yang kecil atau yang besar, yang dibisikkan dalam diam atau diumumkan dengan lantang. Tapi untuk sampai ke sana, tak cukup hanya berharap atau berdoa dari kejauhan. Perlu kaki yang kuat untuk terus melangkah, meski seringkali tertatih. Perlu kemauan yang keras, bahkan ketika tak ada yang mendukung. Dan perlu hati yang siap kecewa, karena perjalanan ini tak selalu penuh tepuk tangan. Aku tahu rasanya berjalan sendirian, saat semua orang memalingkan wajah atau malah tertawa pelan dari kejauhan. Tapi dari situ aku belajar: tak semua suara di luar sana perlu didengar.
Ada masanya aku terlalu sibuk mendengarkan komentar orang. Mereka bilang, “Ngapain sih segitunya?” atau, “Emangnya bisa?” Kata-kata itu sempat mengakar, tumbuh jadi keraguan dalam dada. Tapi kemudian aku sadar, mereka tak hidup di tubuhku. Mereka tak tahu rasanya jadi aku, yang bangun lebih pagi demi belajar, yang pulang lebih malam demi tambahan waktu mengejar ketertinggalan, yang rela mengorbankan kenyamanan hanya karena percaya bahwa masa depan bisa diukir dengan kerja keras. Lalu kenapa aku harus mendengarkan mereka?
Mereka yang hanya bisa berkomentar, biasanya tak pernah tahu rasanya berusaha. Dan aku tak ingin menjadi seperti itu. Aku tak ingin hidupku dikendalikan oleh suara luar. Yang aku tahu, aku punya mimpi, dan aku ingin mencapainya dengan caraku sendiri. Mungkin jalanku lambat, mungkin hasilku belum terlihat sekarang. Tapi setiap langkah kecil yang aku ambil hari ini adalah bagian dari tangga panjang yang akan mengantarkanku ke puncak yang aku tuju.
Kadang aku capek. Badan lelah, pikiran penuh, mata berat. Tapi kemudian aku ingat lagi, bahwa yang aku lakukan ini bukan untuk menyenangkan orang lain. Bukan untuk pamer, bukan untuk mencari pengakuan. Tapi untuk diri sendiri, untuk masa depan yang selama ini hanya bisa kubayangkan dalam lamunan malam. Dan kenyataannya, tidak semua orang akan mengerti proses itu. Beberapa hanya akan muncul saat hasilnya sudah jadi. Tapi aku tak masalah. Aku tidak butuh disoraki. Yang aku butuhkan hanya keberanian untuk terus maju.
Maka hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku bangun, menyingsingkan lengan baju, dan mulai lagi. Meski sepi, meski sunyi, meski kadang terasa sendiri. Karena aku percaya, kesendirian hari ini akan menjadi kekuatan esok hari. Aku belajar untuk tak menoleh ke kiri-kanan terlalu sering. Karena saat aku terlalu banyak melihat ke luar, aku bisa kehilangan arah ke dalam. Aku bisa lupa kenapa aku memulai semua ini. Dan aku tak mau itu terjadi.
Biarlah orang berkata sesukanya. Biarlah mereka menertawakan usahaku yang mungkin tampak terlalu serius. Biarlah mereka bertanya-tanya kenapa aku begitu keras pada diri sendiri. Karena suatu hari nanti, ketika aku sampai di tempat yang aku tuju, aku akan menoleh ke belakang, dan bersyukur karena tak berhenti hanya karena ucapan yang menyakitkan. Aku akan tahu, bahwa semua perjuangan ini layak. Dan saat itu tiba, mereka yang dulu bicara paling nyaring pun akan diam.
Aku tahu jalan ini belum tentu mudah. Tapi siapa bilang mimpi bisa dicapai tanpa luka? Aku tidak ingin hidup yang biasa-biasa saja hanya karena takut gagal. Aku ingin hidup yang penuh makna, yang meninggalkan jejak, walau mungkin hanya di hati sendiri. Dan untuk itu, aku siap berjalan. Tanpa banyak bicara. Tanpa banyak drama. Hanya langkah demi langkah. Karena kadang, yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa kuat kita bertahan untuk tetap berjalan.