Kadang hidup mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk memiliki, bukan pula untuk menyimpan, tapi hanya untuk tahu bahwa pernah ada yang begitu terasa walau cuma sebentar.
Aku tidak pernah menyangka, kalau hanya dari sekejap tatapan mata, bisa tumbuh sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan cinta, mungkin. Tapi juga bukan biasa. Ada semacam pengertian yang tidak butuh kata, tidak perlu penjelasan panjang. Hanya tatapan singkat di antara kerumunan, tapi rasanya seperti sudah berbicara banyak hal.
Tatapan itu tidak mencari, juga tidak memaksa. Ia hanya hadir, seolah berkata, “Aku mengerti.” Dan aku, entah bagaimana, merasa disapa dalam diam.
Kita sering sibuk mencari orang yang bisa kita ajak bicara berjam-jam tanpa bosan. Tapi lupa, kadang justru yang paling berkesan adalah seseorang yang bahkan belum sempat mengucap "halo", namun kehadirannya meninggalkan gema panjang.
Di dunia yang ramai oleh suara, pandangan yang tenang bisa jadi percakapan terdalam.
Mungkin aku terlalu melankolis. Atau mungkin memang begitu cara hati bekerja—merekam yang sebentar, lalu memutar ulang seperti lagu yang tak pernah bosan diputar. Tatapan itu terus muncul dalam ingatanku. Tatapan yang tidak menuntut. Tidak bertanya "kita jadi apa", tidak menawarkan janji, tapi cukup dengan satu lirikan yang berkata: "Kamu tidak sendiri."
Aneh ya, bagaimana seseorang yang bahkan tidak kita kenal bisa terasa begitu dekat. Seolah pernah lama tinggal di ruang-ruang kecil dalam hati kita, padahal kita bahkan tidak tahu namanya. Tapi bukankah begitu juga hidup bekerja? Beberapa pertemuan memang tidak dirancang untuk jadi panjang, tapi cukup untuk menyentuh.
Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Mungkin ia juga tak ingat pernah bertemu denganku. Tapi itu tidak masalah. Karena pertemuan yang paling jujur adalah yang tidak dituntut untuk dibalas. Seperti hujan yang datang tanpa perlu ditanya kapan akan pergi. Ia hadir, lalu meninggalkan bau tanah basah yang tak bisa dilupakan.
Aku belajar, tidak semua yang singkat itu sia-sia. Kadang justru yang sebentar itu yang paling murni. Karena tidak sempat dirusak oleh ekspektasi, tidak keburu diubah oleh keinginan untuk memiliki. Ia hanya hadir, dan kita tahu, itu cukup.
Kadang aku masih berharap, di dunia lain, mungkin di waktu yang lain, tatapan itu tidak hanya sepintas. Mungkin kita akan benar-benar bicara. Tentang hal-hal kecil yang dulu hanya sempat disampaikan lewat mata. Tapi andai itu tidak terjadi pun, aku tetap bersyukur. Karena aku pernah tahu rasanya dipahami dalam diam.
Banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita mengerti, tapi bisa kita rasakan. Dan rasa, meski tidak terlihat, punya daya yang lebih kuat dari ribuan kata. Tatapan itu, adalah salah satunya. Ia bukan sekadar pandangan mata. Ia adalah sapaan dari satu jiwa ke jiwa lainnya.
Dan malam ini, aku masih menyimpannya. Bukan sebagai harapan yang terus kutunggu, tapi sebagai kenangan yang diam-diam kujaga.
Karena dalam hidup, tak semua pertemuan harus dimiliki. Ada yang cukup dihayati.
Ada yang cukup... dalam sekali tatap.