Kadang kita diam-diam berharap seseorang menyesal telah menyia-nyiakan kita. Bukan karena kita ingin balas dendam, tapi lebih karena kita ingin pembenaran bahwa kita memang pantas dipertahankan. Bahwa kepergian kita itu berarti. Bahwa kehilangan kita itu menyakitkan.
Tapi kenyataan tidak selalu seperti yang kita susun di kepala.
Kita mengintip media sosialnya, berharap melihat tatapan kosong atau kutipan sedih yang seolah ditujukan pada kita. Namun yang muncul justru tawa-tawa ringan, wajah bahagia, dan caption yang terdengar santai. Kita menunggu momen di mana ia akan datang kembali dan bilang, “Aku salah melepaskanmu.” Tapi momen itu tak kunjung datang. Bahkan ia tampak tak pernah menoleh ke belakang.
Lalu kita mulai mempertanyakan, “Apa aku tidak cukup berarti?”
Padahal bukan itu masalahnya.
Bisa jadi, memang ada orang-orang yang cepat merasa lega setelah kehilangan. Ada yang mudah mencari pelampiasan, ada yang terlalu pandai bersandiwara. Atau memang dari awal kita bukan sesuatu yang penting bagi mereka.
Dan itu bukan salah kita.
Nilai diri kita tidak ditentukan oleh penyesalan orang lain. Kita tidak menjadi lebih rendah hanya karena tak dirindukan. Kita tidak menjadi tidak berharga hanya karena tak dicari kembali.
Kita tetap berharga, bahkan saat yang menyia-nyiakan kita terlihat bahagia.
Kita tetap layak dicintai, meski mereka memilih jalan tanpa kita.
Jangan tunggu mereka menyesal. Jangan gantungkan harga diri pada pengakuan yang tak kunjung datang. Fokus saja melangkah. Sembuhkan diri. Bangun kembali keyakinan. Dan ingat: kebahagiaan yang sejati bukan saat mereka menyesal kehilangan kita, tapi saat kita tidak lagi berharap mereka menyesal.