Sabtu, 05 Juli 2025

Menepi Sejenak di Tepi Jalan


Sore itu aku duduk di bangku taman, di pinggir jalan yang tak pernah benar-benar sepi. Di tangan kiri ada plastik kecil berisi cireng hangat yang masih mengepul, dan di tangan kanan... waktu. Waktu yang tak lagi kuhabiskan untuk terburu-buru. Bukan karena aku tak punya tujuan, tapi karena hari ini, aku memilih menjadi penonton. Membiarkan dunia berlari sesukanya, sementara aku hanya diam, duduk, mengunyah pelan, dan memandangi semuanya berlalu.

Ada yang berlari dengan ponsel menempel di telinga. Ada yang berjalan sambil membaca pesan, sesekali tersenyum sendiri. Ada anak kecil yang menggandeng ayahnya dengan tangan kecilnya yang menggigil. Ada remaja dengan tawa keras dan rambut warna-warni. Ada pasangan tua yang melangkah lambat tapi pasti, saling menyesuaikan ritme. Semua bergerak. Semua punya tujuan. Semua tampak tahu harus kemana. Dan aku, duduk di bangku kayu yang sedikit miring, hanya mengamati.

Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Ada ketenangan yang tak bisa dijelaskan ketika kita berhenti ikut berlomba dan mulai memperhatikan. Ketika kita tidak lagi merasa perlu menjadi bagian dari arus yang deras. Ketika kita membiarkan kaki diam, dan justru membiarkan mata dan hati berjalan jauh. Kadang, dalam diam seperti ini, kita justru merasa lebih hidup. Karena dalam diam, kita bisa mendengar. Suara kota, suara angin, suara isi kepala sendiri.

Aku tahu, tidak selamanya aku bisa duduk seperti ini. Ada hari-hari di mana aku juga harus ikut berlari. Harus kejar ini, kejar itu. Harus jadi bagian dari mereka yang tergesa. Tapi hari ini, aku ingin memberikan hak kepada diriku sendiri untuk berhenti. Untuk duduk dan merasa cukup. Untuk menikmati gorengan sederhana sambil menyaksikan kehidupan yang tak henti berdenyut di sekelilingku.

Mungkin ini yang disebut ‘menepi untuk memahami’. Karena saat kita terus berada di tengah keramaian, kita sering lupa bahwa hidup tidak harus selalu cepat. Kita lupa bahwa tidak semua hal harus segera. Kita lupa bahwa tidak apa-apa jika sesekali jadi penonton, selama itu membuat hati lebih ringan. Dan di bangku taman ini, aku seperti sedang menonton film diam—film kehidupan nyata—dengan tokoh-tokoh yang tak akan aku kenal, tapi entah kenapa terasa dekat.

Mereka punya cerita yang tak kusentuh. Punya luka yang tak kuketahui. Punya impian yang mungkin serupa. Dan melihat mereka begitu, aku merasa tidak sendirian. Bahwa di balik wajah-wajah yang tampak yakin itu, mungkin ada kegelisahan yang disimpan rapat. Bahwa di balik langkah-langkah tegas itu, mungkin ada keraguan yang tak diucapkan. Tapi mereka tetap berjalan. Sama seperti aku yang tetap duduk, meski tahu nanti harus kembali berdiri.

Cirengku hampir habis. Masih ada dua potong tersisa. Aku sengaja mengunyah pelan. Bukan karena takut cepat kenyang, tapi karena ingin memperlambat waktu. Karena di tengah hiruk-pikuk ini, jarang sekali kita memberi waktu untuk betul-betul hadir pada momen yang kecil. Padahal mungkin justru momen kecil seperti ini yang bisa menyelamatkan kewarasan.

Saat seseorang lewat dan menghela napas berat, aku bertanya-tanya apa yang ia pikirkan. Saat dua orang muda saling mengejar canda, aku ingat masa-masa ringan yang pernah kumiliki. Dan saat seorang ibu tua duduk sebentar di ujung bangku ini, aku terdiam. Kami tak bicara, tapi kehadirannya seperti pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang berlari, tapi juga tentang duduk, menghela napas, dan tersenyum sebentar sebelum melanjutkan.

Hari mulai meredup. Lampu jalan satu per satu menyala. Orang-orang tetap lalu lalang. Kehidupan tetap sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi aku tetap duduk di sini, lebih tenang dari sebelumnya. Bukan karena masalah selesai, bukan karena semua sudah jelas, tapi karena aku memberi diriku jeda. Dan jeda itu cukup untuk membuatku mengingat: tidak semua harus segera, tidak semua harus dikejar.

Kadang, cukup dengan duduk dan menikmati gorengan pinggir jalan. Cukup dengan melihat kehidupan tanpa harus ikut dalam pusarannya. Cukup dengan merasa bahwa menjadi penonton pun bagian dari perjalanan.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...