Pernah kan?
Niatnya cuma iseng. Nggak pengen ketahuan. Cuma pengin tahu, dia sekarang lagi apa, siapa temannya, gimana senyumnya sekarang, atau siapa yang sering nongol di kolom komentar.
Awalnya santai, stalking sambil selonjoran. Scroll-scroll, cek feed, buka satu-satu foto, bahkan sampai unggahan tahun lalu yang sudah berdebu digital.
Tapi…
Tiba-tiba.
Jari ini, entah kenapa,
—KEPENCET LIKE.
Deg.
Seketika seluruh dunia seperti berhenti.
Suara hujan di luar pun tiba-tiba jadi sunyi.
Detik jam terdengar lebih nyaring.
Dan aku? Membeku, panik, mata membulat, tangan gemetar seperti baru saja menjatuhkan bom sosial yang tak bisa ditarik kembali.
Itu foto tiga tahun lalu.
Bukan unggahan terbaru yang bisa berdalih “eh, baru lihat nih.”
Bukan juga postingan yang bisa dikasih alibi “muncul di explore.”
Itu unggahan tua.
Dan aku… meninggalkan jejak.
Astaga.
Apa yang harus aku lakukan? Unlike secepat kilat? Tapi kalau dia sudah dapat notifikasinya gimana?
Apa aku harus pura-pura cuek, kalau ditanya bilang “eh, iya kepencet, wkwk.”
Tapi siapa yang mau percaya?
Kejadian seperti itu sepele. Tapi rasanya seperti menjatuhkan kehormatan paling absurd.
Bukan karena ketahuan sedang suka. Tapi karena niat diam-diamnya gagal total.
Yang lucu adalah, kenapa kita bisa segugup itu hanya karena satu ketukan jempol?
Apa sebegitu dalamnya rasa penasaran itu kita sembunyikan sampai ketika sedikit terbuka, rasanya seperti aib yang terkuak?
Apa karena diam-diam kita masih ingin dianggap tenang, padahal dalam hati penuh gelisah?
Jujur saja, saat stalking itu, ada rasa yang tidak bisa dibantah: aku ingin tahu kabarnya. Tapi gengsi untuk bertanya langsung.
Aku ingin tahu siapa yang sedang dekat dengannya, tapi tak ingin tampak peduli.
Aku ingin ada di sekitarnya, meski hanya lewat jejak digital yang diam-diam kupijak.
Tapi begitu kepencet like, semua kedok terbuka.
Dan anehnya… aku malah ketawa sendiri.
Karena akhirnya, aku sadar:
aku ini manusia.
Dan manusia, kadang hanya ingin tahu. Kadang masih ada sisa rasa. Kadang belum benar-benar pergi.
Kadang ya begitulah—masih peduli, tapi malu. Masih berharap, tapi diam.
Satu ketukan jari mengungkap lebih dari seribu kata.
Ia berkata, “Aku masih di sini.”
Ia berbisik, “Aku masih ingin tahu.”
Ia mengaku, “Aku belum sepenuhnya lepas.”
Tapi pada akhirnya, aku juga belajar:
Kalau memang ingin tahu, tanyalah.
Kalau masih peduli, utarakan.
Kalau memang belum selesai, hadapi.
Sebab, tak selamanya kita bisa bersembunyi di balik layar.
Tak selamanya kita bisa berkelit dari ketikan sendiri.
Dan kadang, momen paling memalukan itulah yang justru paling jujur.
Sekarang aku tertawa tiap ingat kejadian itu.
Bukan karena lucunya saja. Tapi karena akhirnya aku menerima:
aku pernah salah pencet karena memang masih memendam rasa yang belum selesai.
Dan nggak apa-apa.
Kita manusia.
Kita bisa jatuh cinta diam-diam. Bisa rindu diam-diam.
Dan sesekali, bisa juga ketahuan diam-diam.
Jadi, kalau nanti kamu iseng stalking dan tiba-tiba kepencet like, jangan panik.
Anggap saja semesta sedang menyuruhmu berhenti pura-pura.
Atau setidaknya, semesta ingin kamu tersadar: bahwa rasa yang kamu sembunyikan ternyata sudah terlalu lama minta ditunjukkan.