Aku ingin tidur malam ini, sungguh. Bukan sekadar rebah lalu memejam, bukan hanya mengganti pakaian dan memadamkan lampu. Tapi tidur yang benar-benar tidur—yang merelakan tubuh, pikiran, dan rasa untuk istirahat dari semuanya. Yang tak memaksa kepala untuk terus berpikir, dan tak membiarkan hati berlarian mengingat hal-hal yang bahkan sudah tak penting lagi.
Kalau boleh memilih, aku ingin tidur nyenyak. Tanpa mimpi. Tanpa gangguan. Tanpa bayangan-bayangan yang diam-diam muncul dari masa lalu dan menyelinap masuk lewat celah waktu. Aku ingin tidur yang tidak perlu dituntut untuk bangun pagi demi apa pun. Tidur yang tidak merasa bersalah karena bangun siang. Tidur yang tidak diatur oleh dunia yang terlalu sering menyuruh kita untuk terus menjadi produktif meski kita sedang patah.
Dan jika memang harus dibangunkan, kumohon, jangan sekarang. Jangan saat dunia masih sekeras ini, saat kabar buruk masih ramai di kepala, saat harapan terasa seperti beban yang membungkukkan punggung. Bangunkan aku nanti saja, saat suara-suara mulai merendah, saat tekanan mulai reda, saat tidak ada lagi yang bertanya kenapa kita belum sampai ke mana-mana.
Bangunkan aku bila dunia sudah lebih lembut. Bila orang-orang mulai bicara dengan pelan. Bila pelukan menjadi lebih murah dan tatapan menjadi lebih jujur. Bila tidak ada lagi yang saling menjatuhkan hanya karena berbeda pilihan atau jalan. Bila kita bisa diam tanpa harus ditanya apakah sedang marah. Bila kita bisa menangis tanpa takut dianggap lemah.
Aku lelah dengan segala hal yang harus dikejar, harus dibuktikan, harus dipamerkan. Aku bosan dengan dunia yang seakan hanya mau menghargai mereka yang bergerak cepat dan punya rencana hidup seperti spreadsheet. Aku ingin tidur dari semua itu. Dari segala bentuk ambisi yang sering kali lebih menyiksa daripada membebaskan.
Tidur, bagiku malam ini, adalah bentuk paling tulus dari perlawanan. Perlawanan terhadap tekanan tak terlihat. Perlawanan terhadap standar kesuksesan yang dibuat-buat. Perlawanan terhadap suara dalam diri sendiri yang terus berkata, “Kamu belum cukup.”
Dan bangun siang, jika boleh jujur, bukan kemalasan. Tapi kesempatan kecil untuk memberi jeda. Untuk menyembuhkan. Untuk menolak kecepatan yang dunia minta dan menggantinya dengan ritme yang sesuai dengan tubuh dan napas kita sendiri. Kita tidak harus buru-buru ke mana-mana jika kita bahkan belum tahu pasti apa yang ingin dicapai. Kita tidak harus kuat setiap saat. Tidak harus bahagia setiap waktu. Tidak harus menjadi inspirasi siapa-siapa.
Kita hanya butuh tidur. Tidur yang benar. Tidur yang bukan pelarian, tapi pemulihan. Tidur yang memberi kita ruang untuk meletakkan beban dan berkata, “Cukup dulu hari ini.”
Maka jika malam ini aku terlalu cepat terlelap, jangan bangunkan. Biarkan saja aku rebah lebih lama. Dan bila esok pagi aku masih belum membuka mata, mohon jangan tergesa-gesa membunyikan alarm. Biarkan tubuh ini memilih sendiri kapan ia ingin bangun. Biarkan jiwaku menunggu sampai dunia jadi lebih ringan.
Sampai luka-luka tak lagi menyala di dalam dada. Sampai aku bisa bernapas tanpa merasa tertinggal. Sampai orang-orang tak lagi menilai dari pencapaian, tapi dari kebaikan. Sampai aku bisa berdiri tanpa harus merasa bersaing. Sampai dunia lebih lembut. Sampai itu tiba, izinkan aku tidur.