Kadang aku menatap langit lama sekali, bukan karena ada yang menarik di sana, tapi karena aku tidak tahu harus menatap ke mana lagi agar tidak terlihat rapuh. Aku berjalan seperti biasa. Menyapa seperlunya. Tersenyum sewajarnya. Dan tertawa jika perlu—tidak karena lucu, tapi karena itu yang diharapkan dariku.
Aku tahu, banyak yang bilang aku kuat. Banyak yang memujiku karena tetap bisa berdiri, tetap bisa menjalani hari. Tapi tak banyak yang tahu bahwa aku seringkali hanya bertahan, bukan menjalani. Bahwa aku tidak benar-benar baik-baik saja. Aku hanya pandai menyembunyikan bagian yang retak.
Pernah suatu malam, aku duduk sendiri dan ingin menangis sepuasnya. Tapi bahkan air mataku pun sudah lelah. Ia hanya menggantung di pelupuk, seolah berkata, “Kalau menangis pun tidak mengubah apa-apa, untuk apa kita mulai?” Maka aku belajar menahan. Aku menahan cerita yang ingin keluar. Aku menahan kalimat-kalimat yang nyaris terucap saat seseorang bertanya, “Kamu kenapa?” karena aku tahu, mereka hanya bertanya demi sopan santun. Bukan karena sungguh ingin tahu jawabannya. Mereka akan terkejut jika aku menjawab jujur, dan aku tak ingin membuat siapa pun tidak nyaman oleh lukaku.
Jadi aku tersenyum. Aku menyembunyikan hal-hal yang membuat tidurku gelisah. Aku menyembunyikan tanganku yang kadang menggigil di bawah meja. Aku menyembunyikan malam-malam kosong yang membuatku bertanya, “Apa gunanya semua ini?” Dan jika aku terlihat baik-baik saja… maaf.
Maaf jika aku terlalu pandai bersandiwara. Maaf jika aku terlihat kuat padahal tidak. Maaf jika kamu mengira aku tak butuh ditanya, dipeluk, atau diajak bicara. Aku hanya… tidak ingin jadi beban. Aku hanya ingin tetap jadi seseorang yang kamu bisa andalkan, walaupun hatiku sendiri sedang mencari pegangan.
Malam ini, aku menulis ini bukan untuk meminta perhatian. Bukan untuk dikasihani. Tapi hanya ingin jujur pada diri sendiri: bahwa menjadi kuat setiap hari itu melelahkan. Bahwa aku juga ingin dimengerti, meski aku tidak bisa menjelaskan semua yang kurasa.
Dan kalau suatu hari aku benar-benar jatuh tanpa suara, aku hanya ingin kamu tahu… aku pernah mencoba sebaik mungkin untuk terlihat baik-baik saja.
Karena beberapa luka terlalu rapi disimpan, hingga orang lain mengira tak pernah ada yang patah.