Pernah ada seseorang yang menanyakan kabarku, di antara kesibukan yang katanya membuatnya lelah. Ia bilang ia merindukanku, meski hanya seperti kabut yang numpang lewat di matanya. Aku membacanya dalam diam. Kuketik balasan, lalu kuhapus. Kuketik lagi. Kuhapus lagi. Hingga akhirnya aku memutuskan: mungkin diamku lebih jujur daripada balasan yang setengah-setengah.
Jika aku tidak pernah menjawab pesanmu, bukan karena aku lupa. Tapi karena aku terlalu mengingat. Terlalu takut salah nada, salah kata, salah harapan. Aku lebih memilih tidak mengatakan apa-apa daripada membuatmu berpikir ada kemungkinan kita bisa kembali ke awal. Karena kita tidak akan pernah bisa. Bahkan jika langit membuka pintunya dan meminta kita mengulang segalanya.
Lalu ada pesan dari seseorang yang dulu sering duduk di bangku sebelah. “Masih ingat aku?” katanya, disertai emoji senyum yang terasa asing. Aku tidak pernah menjawabnya. Bukan karena aku tidak ingat—justru karena aku terlalu ingat. Aku ingat caranya menertawakan hujan, cara ia bersandar ke jendela, dan caranya menyebut namaku seperti seseorang yang tak pernah ingin melupakannya. Tapi waktu telah memisahkan kami, dan aku terlalu takut akan pertemuan yang membuat kami saling menatap sebagai orang asing.
Jika aku tidak pernah menjawab pesanmu, mungkin karena aku ingin membiarkan yang dulu tetap jadi dulu. Tak semua yang pernah hangat harus dinyalakan kembali. Beberapa kenangan diciptakan untuk tetap menjadi kenangan—bukan kelanjutan.
Dan ada pula pesan dari seseorang yang dulu kukagumi diam-diam. Yang dulu kuperhatikan dari jauh, yang hanya kubalas dalam doa. Dia menulis, “Aku baru sadar, kamu selalu ada.” Tapi pada saat itu, aku sudah tidak ingin “ada” lagi. Aku sudah lelah menjadi latar belakang. Dan jika aku membalas, aku tahu aku akan jatuh ke pola yang sama: menjadi tempat pulang hanya saat mereka tersesat.
Jika aku tidak pernah menjawab, mungkin itu adalah jawabanku: bahwa aku tidak ingin mengulang luka yang sama, tidak ingin merajut harapan dari benang-benang yang sudah rapuh, tidak ingin jadi tokoh tambahan dalam cerita orang lain.
Malam ini, di antara lampu temaram dan kopi yang mulai dingin, aku membuka kembali pesan-pesan itu. Bukan untuk membalas, tapi untuk berdamai. Dengan diriku sendiri. Dengan keputusanku. Dengan keberanianku untuk tidak kembali ke pintu yang sudah tertutup.
Dan jika suatu hari kamu membaca tulisan ini, ketahuilah: aku pernah membaca pesanmu. Aku merenungkannya. Bahkan mungkin aku menangis karenanya. Tapi aku memilih diam. Karena di dalam diam itu, aku menyelamatkan diriku sediri.