Ada hari-hari di mana aku merasa tidak sedang hidup di dalam dunia—melainkan hanya menumpang lewat. Menyusup di antara obrolan, membaur di balik senyum, tapi tetap terasa asing. Bukan karena mereka jahat, bukan karena aku terlalu rumit. Tapi karena tak ada yang benar-benar mau mendengar dengan diam, mendekat tanpa bertanya, memahami tanpa merasa harus memperbaiki.
Kadang aku hanya ingin seseorang berkata, “Aku tahu rasanya,” tanpa berusaha menyambung dengan cerita mereka sendiri. Hanya itu. Tapi dunia terlalu sibuk menyuarakan dirinya sendiri, sampai lupa ada manusia-manusia yang sedang pelan-pelan hancur dalam diam.
Aku sering merasa jenuh. Bukan karena tak punya hal untuk dikerjakan, tapi karena semua terasa tak berarti. Hari demi hari berlalu seperti salinan buram yang terus dicetak ulang. Tidak ada warna baru, tidak ada rasa yang segar. Bahkan tawa pun kadang terasa seperti topeng yang kupasang karena sudah terlalu lelah menjelaskan bahwa aku tak baik-baik saja.
Ingin marah rasanya. Tapi kepada siapa? Dunia? Orang-orang yang hanya ingin menjalani hidup mereka sendiri? Atau justru kepada diriku sendiri, yang terlalu banyak berharap bahwa seseorang akan benar-benar melihat ke dalam mataku dan mengerti isi kepalaku tanpa perlu banyak kata?
Aku tahu aku bukan satu-satunya. Ada banyak yang merasa seperti ini. Yang duduk di pojok kamarnya sendiri, memandangi langit-langit dan bertanya dalam hati, “Kenapa rasanya aku sendiri, padahal aku dikelilingi banyak orang?” Tapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah punya jawaban pasti. Ia hanya melayang-layang, mengendap dalam dada, mengusik saat malam mulai lengang.
Dan ketika pagi tiba, aku kembali bangun. Kembali berpura-pura kuat. Kembali menjalani hari seperti biasa. Karena apa lagi yang bisa kulakukan? Dunia tak akan berhenti hanya karena aku sedang ingin diam. Matahari tetap terbit, lalu lintas tetap padat, notifikasi tetap berdatangan. Dunia terlalu besar untuk berhenti demi satu orang yang sedang merasa kosong.
Tapi tetap saja, rasa itu tak hilang. Rasa ingin dimengerti. Rasa ingin dilihat bukan karena pencapaian, bukan karena lucu atau pintar atau bermanfaat. Tapi hanya karena aku adalah aku—dengan segala rumit dan rapuhku.
Terkadang aku merasa seperti sedang menunggu seseorang. Entah siapa. Seseorang yang akan datang, duduk di sampingku, dan bilang, “Kau tak harus menjelaskan apa pun.” Tapi semakin lama, aku sadar, mungkin orang itu tak pernah ada. Atau mungkin, orang itu adalah aku sendiri.
Mungkin aku harus menjadi orang pertama yang memeluk diriku sendiri. Yang berkata, “Tak apa kalau tak semua orang mengerti. Tak apa kalau kamu lelah. Tak apa kalau kamu tidak ingin tersenyum hari ini.” Karena berharap dunia selalu ramah hanya akan membuatku kecewa. Dunia tak pernah berjanji akan menjadi tempat yang hangat. Ia hanya menawarkan ruang—kita sendirilah yang mengisinya dengan makna.
Maka malam ini, aku memilih untuk tidak marah. Tidak bertanya lagi mengapa. Tidak berharap lagi pada hal-hal yang tak bisa kupegang. Aku memilih duduk tenang, menerima rasa sepi seperti seseorang yang duduk berdampingan dengan sahabat lama. Diam, tapi akrab.
Aku tahu, besok aku masih harus menjalani dunia yang sama. Tapi setidaknya malam ini, aku jujur pada diriku sendiri. Bahwa ada luka yang belum sembuh, ada rindu yang tak tahu alamatnya, ada letih yang belum punya tempat untuk beristirahat. Dan semua itu… tak apa.
Karena menjadi manusia bukan tentang selalu kuat. Kadang kita hanya butuh diakui: bahwa rasa jenuh, rasa kesal, rasa sendirian itu nyata. Dan tak harus buru-buru disingkirkan.
Mungkin dunia tidak akan pernah benar-benar paham. Tapi kita bisa belajar untuk tidak terus-menerus menyalahkannya. Kita bisa menciptakan ruang kecil, tempat hati bisa bernapas tanpa harus menjelaskan segalanya. Tempat kita boleh merasa aneh, dan tak merasa bersalah karenanya.
Tempat itu mungkin tak besar. Tapi cukup.
Cukup untuk kita berteduh sejenak.