Kita pernah bertemu orang semacam itu—atau jangan-jangan, pernah menjadi dia. Orang yang merasa dirinya paling tahu, paling benar, paling murni niatnya, paling besar cintanya pada negeri, paling dalam empatinya pada dunia. Tapi saat waktunya bekerja, ia tak ada. Saat diminta turun tangan, ia menghilang. Ia hanya hadir saat ada yang bisa dikritik. Ia hanya bersuara saat bisa menyalahkan.
Seseorang yang memanggil dirinya pahlawan, padahal tidak pernah benar-benar bertarung.
Aku melihatnya, duduk di pojok warung kopi, menuding ke mana-mana. “Harusnya begini, harusnya begitu.” Ia pandai sekali menyusun argumen, tapi tak pernah bergerak satu langkah pun ke arah solusi. Ia mengaku peduli, tapi hanya lewat kata, bukan tenaga. Ia mengaku mencintai perubahan, tapi hanya lewat suara, bukan kerja.
Ia tak sadar, bahwa dunia tidak bergerak oleh orang-orang yang hanya bicara. Dunia berubah karena tangan yang kotor, kaki yang lelah, dan napas yang tak sempat mengeluh karena sibuk menyala.
Tapi dia lain. Ia ingin dunia berubah tanpa ia harus berkeringat. Ia ingin orang lain gagal agar punya bahan untuk mengejek. Ia ingin jadi penonton yang berisik, bukan pemain yang ikut berdarah. Dan ironisnya, ia merasa paling benar. Ia merasa paling waras di antara semua yang sibuk bekerja.
Kita semua tahu satu atau dua orang seperti itu. Mungkin teman, mungkin kerabat, mungkin bagian dari kita sendiri di masa lalu. Dan jika boleh jujur, rasanya menjengkelkan—karena mereka menganggap diamnya sebagai bentuk bijak, padahal itu hanya dalih malas. Mereka menganggap kritiknya sebagai cahaya, padahal itu hanya kilatan ego yang belum sembuh.
Di dunia ini terlalu banyak orang yang merasa dirinya pusat segalanya, padahal bahkan tak punya pijakan. Terlalu banyak yang merasa suci karena tidak terlibat dalam lumpur, padahal tak sadar bahwa kesuciannya itu semu—karena tidak diuji.
Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Tidak lagi.
Aku ingin menjadi seseorang yang bersuara saat dibutuhkan, tapi lebih banyak bekerja dalam diam. Seseorang yang tidak merasa perlu mencaci untuk membuktikan kontribusi. Seseorang yang tahu, bahwa membangun lebih sulit daripada menghancurkan, dan karena itu, memilih untuk tidak mudah meruntuhkan.
Kita tak perlu merasa hebat hanya karena bisa menunjuk. Kita tak jadi bijak hanya karena bisa berkata keras. Ukuran keberanian bukan terletak pada seberapa lantang kita menyalahkan, tapi seberapa besar kita berani mengambil tanggung jawab.
Orang yang paling layak disebut pahlawan bukan yang banyak bicara tentang perlawanan, tapi yang tetap bekerja meski tak ada yang melihat. Bukan yang sibuk menunjukkan celah, tapi yang menambal diam-diam dengan benangnya sendiri. Bukan yang menunggu semua gagal, lalu berkata, “Tuh kan, aku sudah bilang.”
Aku tahu, menjadi pelaku lebih melelahkan. Menjadi pengamat jauh lebih nyaman. Tapi perubahan tak akan pernah datang dari komentar. Ia datang dari peluh, dari tangis, dari kegagalan, dan dari keberanian untuk terus mencoba meski tak semua orang setuju.
Dan barangkali, malam ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri: kita ini siapa? Pecundang yang merasa paling benar, atau pelaku yang diam-diam terus menambal yang bocor?
Karena dunia ini sudah cukup gaduh oleh mereka yang hanya pandai menunjuk. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak tangan yang mau bekerja. Lebih banyak hati yang bersih, bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena terus dibersihkan lewat perbuatan.
Aku tidak ingin hidup menjadi cermin pecundang yang merasa diri pahlawan. Aku ingin hidup menjadi secuil jawaban di tengah banyak pertanyaan. Tak perlu jadi besar, tak perlu jadi pusat. Asal berguna, meski kecil. Asal nyata, meski tak terlihat.
Itulah bentuk kehadiran yang paling jujur. Dan mungkin, paling dibutuhkan hari ini.