Kita sering diajari bahwa segala sesuatu bisa diukur. Nilai di sekolah, tinggi badan, penghasilan bulanan, bahkan kualitas seseorang—seolah semua bisa dikalkulasi. Lalu muncul istilah-istilah seperti “setara” atau “sekufu” yang konon menjadi syarat agar dua manusia bisa berjalan bersama. Tapi apakah benar, kesetaraan itu bisa ditakar dengan angka dan gelar? Apakah benar cinta hanya bisa tumbuh jika ijazah, pendapatan, dan silsilah bisa sejajar?
Kadang aku bertanya-tanya sendiri. Jika setara berarti sama, lalu siapa manusia yang benar-benar bisa sama persis dengan yang lain? Kita semua tumbuh dari latar yang berbeda, ditempa oleh luka yang berbeda, dan membawa cara mencinta yang tidak serupa. Ada yang tidak pernah sekolah tinggi, tapi menyimpan hati yang luas. Ada yang sederhana hidupnya, tapi tahu cara memuliakan pasangan. Ada pula yang mungkin tampak kecil di mata dunia, tapi bisa membuat orang yang dicintainya merasa besar dan berharga.
Lalu mengapa takaran kesetaraan seringkali kaku dan kering? “Harus dari keluarga baik-baik.” “Harus mapan.” “Harus seiman.” Harus ini, harus itu. Seakan cinta adalah bangunan yang pondasinya harus sesuai blueprint, bukan perjalanan dua orang yang belajar saling merawat, saling menghargai, dan saling menumbuhkan.
Tentu aku tak menafikan logika. Ada batas dan nilai-nilai yang wajar dijaga. Tapi apakah semua harus masuk rumus? Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan statistik. Bagaimana caramu menatap seseorang yang membuat hatimu tenang. Bagaimana rasanya didengar tanpa dihakimi. Bagaimana seseorang hadir, bahkan dalam diam, dan membuat hidup tak terasa sendiri.
Kita hidup di zaman yang menakar segalanya. Bahkan pernikahan, yang dulu dianggap ruang sakral dua jiwa, kini dilihat seperti transaksi. Jika dia punya rumah, punya mobil, punya gelar, baru dianggap layak. Padahal, berapa banyak dari kita yang tumbuh di rumah seadanya, tapi dihiasi kasih sayang yang tak tergantikan? Berapa banyak pasangan yang secara duniawi terlihat tak setara, tapi saling menguatkan dan bertahan lebih lama dari yang katanya serasi?
Aku tidak sedang mendorong orang untuk gegabah memilih, atau abai pada masa depan. Aku hanya ingin kita jujur, bahwa kadang yang kita sebut “setara” adalah topeng dari ketakutan kita sendiri. Kita takut miskin. Takut gagal. Takut dibandingkan. Lalu kita tutupi itu dengan istilah “sekufu”. Padahal mungkin, kita hanya belum siap untuk menerima manusia apa adanya.
Ada banyak hal dalam hidup yang tak bisa kita ukur. Seperti dalamnya rasa syukur, ringannya tangan memberi, atau ketulusan sebuah pelukan. Dan yang tak bisa diukur itulah yang justru membentuk kebahagiaan. Sebab cinta yang paling indah bukan yang terukur, tapi yang terus tumbuh—meski dunia tak menganggapnya pantas.
Kita terlalu sibuk mencari yang setara, sampai lupa bahwa yang kita butuhkan adalah yang bisa saling jaga. Kita terlalu takut disebut menurunkan standar, padahal bisa jadi kita hanya meninggikan gengsi. Padahal tak ada cinta yang benar-benar setara, karena manusia pun tak pernah sempurna. Yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama memilih untuk bertahan, sama-sama belajar menjadi tempat pulang, dan sama-sama tahu bahwa rumah bukan soal bangunan—tapi soal hati yang mau menetap.
Jadi jika suatu saat kita merasa cinta kita tak “setara” menurut dunia, tanyakan lagi dalam hati: siapa yang benar-benar bisa menakar cinta? Dan untuk siapa sebenarnya kita hidup—untuk komentar orang, atau untuk ketenangan yang kita rasakan setiap kali melihat seseorang itu tertawa?
Mungkin kita tak akan pernah benar-benar setara, tapi siapa bilang tak bisa bahagia?