Aku pernah melakukan hal-hal yang kalau kupikirkan hari ini, rasanya malu.
Hal-hal konyol, kadang tak penting, kadang memalukan. Semua hanya karena satu alasan sederhana: aku ingin dilihat. Aku ingin dianggap ada. Ingin keberadaanku diperhatikan, meski hanya sebentar.
Pernah suatu kali aku memaksakan tawa lebih keras di tengah keramaian, hanya agar suaraku terdengar. Pernah juga menyisipkan komentar aneh dalam obrolan agar semua mata menoleh padaku. Aku bahkan pernah pura-pura tahu sesuatu yang tak kupahami sepenuhnya, hanya agar disapa. Dilibatkan. Dianggap penting.
Aku tahu rasanya jadi orang yang selalu berdiri di pinggir lingkaran. Yang mendengarkan tapi jarang ditanya. Yang hadir tapi tak dicari. Yang ada tapi seperti angin lalu. Dan dari rasa sepi itulah muncul keinginan: bagaimana caranya agar aku terlihat?
Lalu lahirlah segala bentuk “usaha.”
Usaha agar disukai. Agar didekati. Agar dibicarakan, meski dengan cara yang tidak sepenuhnya benar. Aku pernah sengaja unggah sesuatu yang dramatis, hanya untuk mengundang simpati. Pernah berpakaian mencolok bukan karena suka, tapi agar ditanya. Pernah sengaja lambat-lambat berjalan di depan seseorang, berharap ia menyapa lebih dulu.
Aneh? Ya, mungkin. Tapi itu nyata.
Lucunya, di dalam diriku sendiri, aku tahu aku sedang mencari perhatian. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku bungkus itu dengan alasan lain—cuma iseng kok, cuma gaya aja, cuma pengen tampil beda. Tapi jauh di dalam, aku hanya ingin satu hal: dilihat.
Dan aku yakin, aku tidak sendirian.
Banyak dari kita pernah, atau masih berada di titik itu. Di masa-masa di mana nilai diri terasa ditentukan oleh seberapa banyak orang menyapa, menyukai, menanggapi, atau memuji. Di fase di mana kesunyian terasa seperti kegagalan. Di masa ketika diam seakan membuat kita lenyap.
Tapi waktu mengajariku satu hal yang perlahan menyadarkan:
Perhatian dari orang lain memang menyenangkan, tapi tidak bisa dijadikan fondasi untuk harga diri.
Karena saat kita terlalu haus dilihat, kita mudah kehilangan arah. Kita mengorbankan jati diri, demi menjadi versi yang disukai banyak orang. Kita mulai melakukan hal-hal yang tak kita suka, berkata hal-hal yang tak kita percaya, semua demi mendapat reaksi.
Dan celakanya, begitu reaksi itu hilang, kita limbung.
Sebab kita tak tahu lagi siapa kita sebenarnya di luar sorotan. Kita tak yakin lagi apakah kita layak dicintai tanpa harus berusaha keras menjadi “seru.” Kita mulai curiga, apakah kehadiran kita cukup berharga jika tak ada yang menoleh.
Aku pernah lelah karena itu.
Lelah menjadi badut demi tawa orang. Lelah berpura-pura demi perhatian sementara. Dan dari kelelahan itu, aku mulai pelan-pelan bertanya: apa sebenarnya yang membuatku berharga? Apakah benar hanya saat aku terlihat?
Jawabannya datang perlahan. Tapi pasti.
Aku mulai belajar mencintai kehadiranku sendiri. Mulai terbiasa dengan sepi yang jujur daripada ramai yang pura-pura. Mulai menikmati hal-hal kecil yang tidak perlu diumumkan. Dan anehnya, saat aku berhenti mencari perhatian, aku malah mulai benar-benar diperhatikan—oleh mereka yang tulus.
Dan kamu tahu apa yang paling menyembuhkan?
Momen ketika aku bisa melihat diri sendiri di cermin, tanpa merasa harus menjadi siapapun. Saat aku bisa tertawa sendiri karena tahu dulu aku pernah segila itu hanya untuk dilirik. Dan kini, aku tahu: aku tetap bernilai, bahkan ketika tak ada yang melihat.
Jika hari ini kamu sedang merasa tak dianggap, sedang mencari-cari cara agar diperhatikan—tak apa. Jangan malu. Itu manusiawi. Tapi jangan lama-lama di sana. Sebab perhatian orang lain bisa pergi sewaktu-waktu. Dan yang tersisa hanya kamu, dan caramu memandang dirimu sendiri.
Berhentilah jadi konyol demi dilihat. Mulailah jadi nyata, demi dihargai.