Kita tumbuh dalam dunia yang selalu minta alasan.
Segalanya harus bisa dijelaskan, harus punya dasar, harus masuk akal. Bahkan perasaan pun sering kali dipaksa punya argumen. Padahal, tidak semua hal hadir untuk dinalar. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasa. Dibiarkan mengalir, bukan dipetakan.
Aku pernah mencoba menjelaskan kenapa aku diam di hadapan seseorang yang menyakitiku. Pernah juga ditanya kenapa aku tetap bertahan padahal logika bilang aku seharusnya pergi. Pernah juga duduk termenung, mencari penjelasan kenapa aku bisa begitu rindu pada tempat yang tak banyak memberiku bahagia.
Dan jawaban-jawaban itu tak pernah kutemukan di kepala.
Karena jawabannya, ternyata, ada di dada. Di tempat yang tak pernah bicara keras, tapi selalu tahu kapan harus bersuara. Ia tidak membawa data, tidak mengutip teori, tidak menggunakan kalimat lengkap. Ia hanya mengirimkan rasa—dan itu cukup.
Kita terlalu sering lupa, bahwa manusia tidak hanya hidup dari nalar. Tapi juga dari getar.
Ada alasan kenapa kita menangis saat melihat seseorang tersenyum bahagia. Ada alasan kenapa lagu tertentu membuat dada sesak. Ada alasan kenapa tempat-tempat sepi terasa lebih akrab daripada keramaian yang penuh suara.
Dan semua itu bukan logika. Itu rasa.
Kadang, sesuatu tak perlu bisa dijelaskan agar layak dipercaya. Seperti doa yang kita panjatkan di malam-malam sunyi. Seperti harapan yang tetap tumbuh meski kenyataan berkata lain. Seperti cinta yang datang tanpa aba-aba. Semuanya tak punya rumus. Tapi nyata.
Aku belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal harus dikuasai dengan akal. Kadang cukup disadari dengan hati. Dibiarkan hadir. Direngkuh. Dihargai, meski tanpa bisa dimengerti.
Seperti pertemuan yang terasa istimewa padahal baru pertama kali. Seperti percakapan singkat yang meninggalkan bekas lebih dalam daripada obrolan panjang. Seperti jalan yang kita pilih tanpa tahu kenapa—tapi ternyata membawamu ke tempat yang kau butuhkan.
Mungkin di situlah keindahannya: hal-hal yang tak bisa kita jelaskan, tapi bisa kita rasakan.
Mungkin karena itu kita menangis di tengah film yang tak semua orang pahami. Mungkin karena itu kita menyimpan barang-barang kecil yang tak bernilai di mata orang lain, tapi punya cerita di dalamnya. Mungkin karena itu, kita menyukai hujan, senja, dan suara tertentu tanpa bisa memberi alasan pasti.
Dan tak apa-apa.
Tak apa jika sesekali kita membiarkan logika duduk di belakang, dan membiarkan hati yang memegang kendali. Tak apa jika kita memilih jalan yang terasa benar, meski tak bisa dijelaskan. Tak apa jika kita mencintai sesuatu yang bahkan tak masuk akal. Tak apa jika kita memeluk seseorang bukan karena dia sempurna, tapi karena dia membuat hati tenang.
Karena kadang, hal paling benar bukan yang paling bisa diterangkan. Tapi yang paling bisa dirasakan.
Aku menulis ini bukan untuk mengajakmu melawan logika. Tapi untuk mengingatkan: kita punya alat lain selain kepala—yaitu hati. Dan kadang, hati tahu lebih dulu apa yang belum sempat disimpulkan oleh pikiran.
Jika hari ini kamu merasa sesuatu yang tak bisa kamu jelaskan, jangan buru-buru mengabaikannya. Duduklah sebentar. Dengarkan. Rasakan. Bisa jadi itu pesan yang tak dikirim lewat kata-kata, tapi lewat getaran yang hanya kamu sendiri yang mengerti.
Karena hidup bukan soal mencari yang paling masuk akal. Tapi tentang merawat apa yang paling terasa nyata.
Dan di dunia yang penuh dengan perhitungan, siapa tahu, justru yang paling jujur adalah hal-hal yang tidak bisa dijumlahkan.