Minggu, 29 Juni 2025

Sayang Diam-Diam, Cemburu Sendiri


Aku sayang seseorang.
Bukan sayang yang diumumkan ke seluruh kota, bukan yang diteriakkan di atap gedung, bukan juga yang kutulis dengan huruf besar-besar di bio media sosial. Tapi sayang yang diam, tenang, dan hanya aku yang tahu.

Kadang rasanya manis. Kadang juga menyesakkan.
Seperti memeluk angin—kau tahu dia ada, tapi tak bisa benar-benar kau genggam. Seperti berdiri di balik tirai, menyaksikan seseorang yang kau suka berjalan tanpa pernah menoleh ke arahmu.

Aku suka dia dalam diam.
Berharap dia tiba-tiba menyapa lebih dulu. Berharap dia merasa “aneh” kalau aku tak muncul di sekitar. Berharap dia menyadari ada seseorang yang diam-diam mengingat ulang tahunnya, menghafal caranya tertawa, mencatat waktu dia biasanya online.

Tapi ternyata tidak.
Dia baik-baik saja. Terlalu baik, bahkan. Terlalu cuek juga. Seolah aku ini hanya nama yang lewat di layar notifikasinya. Dan lucunya, ketika aku sudah mulai bisa menerima itu… eh, dia malah posting foto mesra sama orang lain.

Dan aku?
Aku cemburu. Tapi juga sadar.
Aku jengkel. Tapi juga tahu diri.
Aku ingin marah, ingin bilang, “Aku lebih dulu menyukaimu.” Tapi untuk siapa kemarahanku? Bukankah dia tak tahu apa-apa?

Aku bukan siapa-siapa.
Tidak pernah menyatakan perasaan. Tidak pernah memberi tanda yang cukup jelas. Hanya berani dalam bayangan. Hanya mengirim sinyal yang lemah dan ragu-ragu. Lalu ketika dia bahagia dengan orang lain, aku justru merasa ditinggal. Padahal… ya memang aku tidak pernah dijemput.

Cemburuku konyol.
Tapi nyata.
Aku cemburu pada senyum yang bukan untukku. Pada tangan yang menggenggam tangan orang lain. Pada caption manis yang tak kutemukan dalam chat denganku. Aku cemburu, tapi sambil senyum getir. Karena di lubuk hati, aku sadar: aku sedang memperjuangkan kemungkinan yang hanya aku yakini sendiri.

Tapi tetap saja, ada momen-momen kecil yang membuatku bertahan.
Seperti saat dia menyapa duluan, meski hanya sebentar. Seperti ketika dia menyukai story-ku, meski mungkin hanya iseng. Seperti cara dia menyebut namaku—biasa saja, tapi cukup untuk membuat hariku hangat. Kadang, satu kalimat darinya cukup untuk menghapus seminggu sepi.

Aku tahu, mencintai dalam diam itu melelahkan.
Karena tak ada jaminan akan dibalas. Karena setiap harapan kecil bisa hancur hanya karena satu postingan. Karena kita harus belajar mengelola perasaan tanpa pernah tahu ujungnya akan ke mana.

Tapi di sisi lain, mencintai diam-diam juga… lucu.
Seperti menyimpan rahasia yang indah. Seperti memelihara bunga di balik dinding. Tak ada yang tahu, tapi mekar juga. Dan dari situ aku belajar: tak semua rasa harus sampai. Tak semua cinta harus dimiliki. Kadang, cukup disyukuri pernah hadir di hati.

Dan sekarang, meski masih ada cemburu yang diam-diam datang saat malam, aku mulai terbiasa.
Aku tak lagi berharap banyak. Tapi juga tak menyangkal perasaan. Aku berdamai. Aku tertawa kecil kalau mengingat betapa dramatisnya diriku hanya karena satu story Instagram. Aku tersenyum sendiri kalau sadar betapa sering aku membayangkan hal-hal yang tak pernah terjadi.

Mungkin ini cinta yang tak akan selesai.
Atau mungkin suatu hari akan benar-benar pergi. Entah.
Tapi yang pasti, aku pernah menyayangi seseorang—tanpa pernah benar-benar menyentuh hidupnya.

Dan kamu tahu apa yang paling penting?
Aku tak menyesal.

Karena dari diam-diam itu, aku belajar banyak hal. Tentang sabar. Tentang pengendalian diri. Tentang keindahan yang tetap indah meski tak dibalas. Tentang mencintai seseorang tanpa membuatnya harus mencintaiku kembali.

Karena cinta, pada akhirnya, bukan soal memiliki. Tapi soal merelakan seseorang tetap menjadi dirinya—bahkan saat ia memilih berjalan ke arah yang bukan ke arahku.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...