Aku ingin hujan yang deras. Bukan rintik-rintik malu-malu, bukan gerimis yang mudah reda. Tapi hujan yang deras, lebat, mengguyur seperti dunia ingin dihapus dan ditulis ulang. Hujan yang lama, yang turun seharian atau semalaman, yang membuat orang-orang tak jadi pergi, tak jadi menelpon, tak jadi mengganggu.
Aku ingin hujan,
karena hanya saat itu aku merasa dunia benar-benar memberi ruang untukku istirahat.
Tak ada janji yang perlu ditepati. Tak ada keramaian yang harus dihadiri. Tak ada suara lain selain gemuruh yang justru membuat hati tenang.
Aku ingin hujan,
agar aku bisa tidur dalam pelukan suara yang konstan dan tidak memihak.
Suara air yang jatuh di atap seperti musik tanpa komposer. Suara angin yang menyusup dari celah jendela seperti napas alam yang lelah tapi setia. Suara sepi yang penuh, bukan kosong.
Kadang aku iri pada langit.
Ia bisa menangis kapan saja, dan tak ada yang menyuruhnya berhenti.
Ia bisa murung seharian, dan semua orang hanya menyesuaikan diri. Sementara aku, kalau sedih terlalu lama, dianggap lemah. Kalau diam terlalu lama, dianggap tak peduli. Kalau tidur seharian, dianggap lari dari kenyataan.
Padahal aku hanya lelah.
Lelah berpura-pura kuat. Lelah menjawab pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Lelah menjaga senyum agar tak retak, padahal dalam hati ingin sekali meledak. Dan kadang, satu-satunya hal yang aku inginkan bukan pelukan, bukan motivasi, bukan hiburan. Tapi hujan.
Hujan yang turun deras,
agar semua aktivitas dihentikan. Agar semua janji ditunda. Agar semua orang sibuk dengan selimutnya sendiri, dan melupakan keinginan untuk mencariku. Agar aku bisa tidur tanpa harus memikirkan esok. Tanpa harus waspada. Tanpa harus siap sedia.
Karena dalam tidur, aku merasa utuh.
Bukan karena mimpinya selalu indah, tapi karena saat tertidur, aku tak perlu jadi siapa-siapa. Tak perlu menjawab. Tak perlu mengesankan. Tak perlu berpura-pura. Dan hujan, dengan kemurahannya, memberiku alasan untuk tak merasa bersalah saat menarik selimut lebih erat.
Kadang aku berharap hujan tak berhenti.
Bukan karena aku benci matahari. Tapi karena aku ingin lebih lama bersama rasa aman itu. Rasa bahwa semua bisa ditunda dulu. Rasa bahwa dunia tak menunggu apa pun dariku. Rasa bahwa aku diizinkan untuk diam.
Dan mungkin, kamu juga pernah merasakannya.
Keinginan untuk berhenti sejenak dari segala keharusan. Keinginan untuk tidur tanpa notifikasi, tanpa ketukan pintu, tanpa suara tanya. Keinginan untuk dibiarkan sendiri, bukan karena tak dicintai, tapi karena ingin mencintai diri sendiri lebih dulu.
Kita hidup di dunia yang terus bergerak.
Semuanya cepat. Semuanya harus segera. Semua harus dijawab hari ini. Bahkan lelah pun harus ditunda, demi dianggap produktif. Bahkan sedih pun harus dikemas dengan kata-kata bijak, agar bisa diterima.
Tapi hujan mengajari kita cara berhenti.
Hujan mengizinkan kita tidur lebih awal. Hujan membuat orang maklum kalau kita tak datang. Hujan menciptakan jeda, dan jeda itulah yang kita butuhkan.
Maka malam ini, aku berdoa—
bukan untuk keberhasilan, bukan untuk pengakuan, bukan untuk kemenangan. Tapi untuk hujan. Hujan yang deras, sangat deras. Lama, sangat lama. Agar aku bisa tidur dengan tenang. Agar aku bisa sembuh dari lelah yang tak bisa dijelaskan. Agar aku bisa kembali bangun nanti, tidak sempurna, tapi cukup kuat untuk mencoba lagi.
Dan jika esok hujan masih turun, biarlah.
Karena mungkin itu tanda bahwa dunia juga butuh istirahat. Sama sepertiku. Sama sepertimu.