Selasa, 10 Juni 2025

Kita Ternyata Pernah Sebahagia Itu


Ada hari-hari yang dulu terasa biasa saja, tapi kini datang mengetuk sebagai kenangan yang paling hangat. Lucunya, saat itu kita tidak menyadari bahwa kita sedang berada di dalam kebahagiaan. Kita hanya hidup begitu saja. Tertawa tanpa alasan. Berjalan tanpa tujuan. Menunggu hujan reda di teras tanpa takut waktu habis. Duduk bersebelahan tanpa bicara apa-apa, tapi rasanya seperti tidak pernah sendirian.

Sekarang, ketika semuanya telah berganti—ketika hidup menjadi lebih riuh, lebih dewasa, lebih penuh tuntutan—aku mulai merindukan hari-hari yang tenang itu. Hari-hari yang dulu tidak pernah kupuji, karena kupikir bahagia selalu harus meriah. Ternyata tidak.

Ternyata, kita pernah sebahagia itu. Saat bangun pagi dengan mata yang masih berat tapi hati ringan. Saat sarapan seadanya bersama seseorang yang kita sayangi. Saat pergi ke tempat yang sama setiap hari tapi selalu menemukan hal kecil yang membuat kita tersenyum. Saat menyapa tetangga, melihat langit, mencium wangi baju yang baru dijemur. Hal-hal yang dulu terlalu remeh untuk disyukuri—sekarang justru jadi yang paling sering kurindukan.

Aku pernah berdiri di tempat yang jauh. Kota yang katanya lebih megah. Pekerjaan yang katanya lebih menjanjikan. Tapi setiap malam, yang kurindukan justru tawa ibuku di dapur, obrolan kosong di warung kecil, suara motor bapak di halaman. Semua itu dulu terasa seperti latar belakang yang bisa kuabaikan. Kini justru jadi pusat rindu yang tak pernah selesai.

Kita sering lupa. Bahwa bahagia tidak selalu datang dari apa yang besar. Tidak selalu butuh perayaan. Kadang ia datang dari ketenangan. Dari rutinitas yang tak berubah-ubah. Dari kehadiran orang-orang yang tidak pergi. Dari kopi yang rasanya tidak pernah sempurna, tapi selalu diseduhkan dengan kasih. Dari sore yang selalu sama, tapi justru karena itulah kita merasa aman.

Aku tahu tidak semua hari di masa lalu itu indah. Ada juga air mata. Ada kecewa. Ada penyesalan yang belum sempat ditebus. Tapi entah kenapa, sekarang, yang datang ke ingatan justru potongan-potongan manis itu. Yang tiba-tiba muncul saat mencium wangi tanah basah. Saat melihat anak kecil tertawa. Saat mendengar lagu lama di radio. Rasanya seperti ada yang menyentuh lembut bagian terdalam dari hati—dan berbisik, “Hei, kamu pernah bahagia, ingat?”

Dan aku ingat. Aku ingat saat kita pulang sekolah dan jalan kaki sambil mengeluh soal tugas. Saat kita duduk di atas kap mobil dan menatap bintang, pura-pura tahu arah masa depan. Saat kita diam-diam menyimpan rasa pada seseorang, tapi tak pernah bilang apa-apa karena tahu tidak perlu. Saat kita tertawa sampai sakit perut hanya karena lelucon receh yang sekarang bahkan sulit diingat.

Kita tidak sedang mengecilkan hari ini. Tidak juga menolak untuk tumbuh. Tapi kadang, untuk bisa melangkah lebih ringan, kita memang perlu menoleh. Bukan untuk kembali, tapi untuk mengingat: bahwa bahagia tidak harus dicari sejauh ini. Kadang ia justru ada di belakang kita, menunggu dikenang, agar kita tahu bahwa hidup pernah begitu murah hati.

Mungkin hari ini tidak selalu mudah. Mungkin sekarang kita sudah jarang tertawa sebebas dulu, sudah jarang merasa cukup. Tapi bukan berarti bahagia telah hilang. Mungkin ia hanya berubah bentuk. Mungkin ia sedang bersembunyi dalam bentuk yang lebih sunyi, menunggu kita belajar menemukan lagi, dengan cara yang lebih dewasa.

Dan saat kita merasa lelah, merasa hidup begitu berat—izinkan diri kita diam sebentar. Duduk, tarik napas, dan ingatlah kembali bahwa kita pernah sebahagia itu. Bahwa bahagia itu pernah sederhana. Dan kalau dulu kita bisa menemukannya dalam hal-hal kecil, mungkin hari ini pun kita bisa.

Mungkin bukan dalam bentuk yang sama. Tapi dalam rasa yang serupa. Karena ternyata, kebahagiaan tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu kita berhenti mengejarnya terlalu keras, dan mulai menyadari kehadirannya di tempat yang paling sunyi. Dalam diri sendiri. Dalam memori. Dalam hal-hal yang dulu tidak kita anggap penting. Dan dalam kenyataan yang pelan-pelan kita terima, bahwa menjadi dewasa bukan soal kehilangan bahagia, tapi belajar mencarinya dengan cara yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih dalam.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...