Selasa, 24 Juni 2025

Peta di Kepala, Langkah Masih di Tempat


Aku ingin melihat dunia.
Bukan sekadar lewat layar atau foto. Tapi dengan mata sendiri. Dengan napas yang terasa berat karena tanjakan asing. Dengan suara-suara baru yang tak kumengerti, tapi membuatku betah mendengarkan. Aku ingin berjalan di jalan yang tak kutahu ujungnya. Duduk di tepi sungai yang tak disebut dalam buku pelajaran. Tersesat, lalu menemukan diri sendiri dalam kebingungan yang menyenangkan.

Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa bermimpi.

Bukan karena aku tak punya keinginan. Tapi karena kenyataannya, tabunganku belum cukup. Dompetku belum sekuat langkah kakiku. Keinginanku besar, tapi angka di rekeningku masih bicara lain. Kadang aku merasa lucu—betapa aku tahu nama-nama kota di belahan bumi lain, tapi tak tahu kapan bisa benar-benar menjejakkan kaki di sana.

Aku pernah mengira: semangat saja cukup. Tapi hidup tak semurah mimpi. Ada tiket pesawat yang harus dibayar. Ada visa yang harus diurus. Ada penginapan, makan, ongkos, dan segala hal kecil yang ternyata besar jika dikumpulkan.

Dan sering, saat malam tiba, aku membuka peta digital. Kucari tempat-tempat yang dulu hanya kubaca di ensiklopedia. Kubayangkan jalan-jalannya, langitnya, warna lampunya di malam hari. Lalu kupejamkan mata, dan dalam sekejap, aku sudah ada di sana—meski hanya dalam kepala.

Mungkin ini yang disebut perjalanan dalam diam.

Aku tahu ada orang-orang yang sudah ke mana-mana. Mereka punya cerita yang seru, punya foto-foto indah, punya stempel di paspor yang membuatku iri dalam diam. Tapi aku tak ingin iri terus-menerus. Karena aku tahu, setiap orang punya waktunya. Dan mungkin, waktuku belum sekarang.

Tapi bukan berarti aku berhenti bermimpi.

Aku masih menuliskan negara-negara yang ingin kudatangi di buku kecil. Masih menyimpan gambar gunung-gunung asing di dinding kamarku. Masih belajar bahasa asing meski tak tahu kapan bisa memakainya. Karena menurutku, harapan itu harus dijaga. Sekecil apa pun.

Kadang aku merasa dunia terlalu luas untuk orang sepertiku. Tapi kadang, aku juga percaya: dunia terlalu indah untuk tidak kukejar. Maka, meski perlahan, aku mencoba. Menyimpan uang sedikit demi sedikit. Menahan diri dari hal-hal yang tak perlu. Mencari tahu bagaimana cara bisa sampai ke sana tanpa harus kaya raya.

Dan di sela semua itu, aku juga belajar menikmati apa yang ada di dekatku.

Ternyata, ada sudut kota yang tak kalah indah kalau kulihat dengan mata yang baru. Ada senja di jalan pulang yang selama ini kupandang tanpa sungguh-sungguh. Ada warung kopi kecil yang tak kalah hangat dari kafe di Paris. Ada teman yang bisa bercerita tentang tempat yang belum kutahu, dan itu membuatku merasa sedikit lebih dekat.

Keliling dunia, mungkin belum bisa sekarang. Tapi mencintai dunia dari tempatku berdiri, itu bisa kulakukan hari ini.

Karena kadang, sebelum kita menjelajahi negeri orang, kita perlu lebih dulu mengenal tanah tempat kita berpijak. Sebelum mengagumi arsitektur asing, kita perlu membuka mata pada rumah-rumah tua yang ada di sekitar. Sebelum kita menyeberangi laut, kita perlu bersahabat dengan sungai kecil di dekat rumah.

Dan aku percaya, ketika waktunya tiba, langkahku akan sampai juga ke negeri-negeri impian itu. Bukan karena aku terburu-buru, tapi karena aku bersiap pelan-pelan. Karena dunia memang luas, tapi kaki yang sabar akan menemuinya juga.

Jadi malam ini, kalau kamu juga punya keinginan yang sama—ingin melihat dunia tapi belum punya biaya—tenanglah. Mimpimu sah. Rencanamu layak. Dan kamu tidak sendiri.

Simpan peta itu di dekatmu. Simpan rasa ingin tahumu. Latih kakimu. Tabung sedikit-sedikit. Dan jangan lupa: lihat juga ke sekelilingmu. Karena dunia, meski luas, selalu dimulai dari satu langkah kecil. Bahkan jika langkah itu hanya dalam pikiran.

Kita akan sampai. Entah kapan. Tapi pasti.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...