Aku pernah percaya. Begitu utuh, begitu penuh. Seolah dunia ini tempat yang aman untuk menggantungkan harapan, seolah setiap tangan yang terulur adalah tangan yang ingin menggenggamku, bukan menjatuhkan. Aku membuka diri, tak setengah hati. Mengizinkan masuk kata-kata, tawa, janji—hal-hal yang dulu kupikir akan bertahan lama. Kupikir semua yang hangat akan selamanya menghangatkan. Kupikir jika aku jujur dan tulus, maka semua akan tetap utuh. Tapi tidak.
Ternyata kepercayaan bukan jaminan bahwa kita tidak akan dikhianati. Bahkan yang paling dekat bisa menjadi luka paling dalam. Bukan karena sengaja, mungkin. Tapi pengkhianatan tak selalu datang dalam bentuk pisau di punggung. Kadang ia hadir dalam diam, dalam hilangnya kabar, dalam tatapan yang tak lagi menyala seperti dulu. Kadang luka tumbuh perlahan, dari hal-hal kecil yang tak kita sadari, hingga tiba-tiba saja kita menyadari bahwa ada jarak yang tak bisa dijembatani lagi.
Aku pernah duduk di sudut kamar, memutar ulang semua yang pernah terjadi, bertanya dalam hati: di mana letak salahnya? Apakah aku terlalu berharap? Terlalu jujur? Terlalu ingin semuanya bertahan? Atau mungkin aku hanya salah tempat meletakkan percaya. Tapi bukankah itu manusiawi? Bukankah semua orang ingin merasa dekat? Ingin merasa punya tempat berpulang? Aku pun begitu. Dulu.
Kini, aku tak lagi berlari pada siapa pun saat lelah. Aku diam. Duduk tenang di antara gemuruh dunia yang makin gaduh. Aku tak lagi tergesa membalas pesan, tak lagi mudah membuka cerita. Bukan karena marah. Bukan karena dendam. Tapi karena aku belajar. Bahwa tidak semua yang datang perlu disambut dengan tangan terbuka. Bahwa menjaga jarak bisa menjadi cara mencintai diri sendiri.
Kadang, aku rindu masa itu—masa di mana aku masih bisa percaya sepenuhnya. Rindu menjadi seseorang yang naif, yang mengira semua orang punya niat baik. Tapi rindu tak selalu berarti ingin kembali. Aku cukup tahu diri: luka tak bisa dilupakan, tapi bisa diajak berdamai. Dan berdamai, bagiku, adalah berhenti menaruh harap di tangan yang belum tentu siap menerima.
Aku kini belajar mengenali batas. Batas antara aku dan mereka. Batas antara perlu dan cukup. Aku belajar bahwa tidak semua keheningan harus diisi dengan penjelasan. Bahwa kadang yang terbaik adalah membiarkan orang pergi tanpa perlu menarik lengan mereka kembali. Jika memang ingin tinggal, mereka akan tetap di sini. Jika tidak, aku tak akan memaksa. Karena cinta—atau pertemanan, atau kepercayaan—tak seharusnya dipertahankan sendiri.
Aku masih bisa tertawa, tentu saja. Aku masih bisa bercanda, menyapa, berbagi cerita. Tapi ada bagian dalam diriku yang kini dijaga lebih erat. Tak semua orang bisa masuk. Tak semua orang perlu tahu. Dan tak semua yang tampak terbuka, benar-benar bisa dimasuki. Aku tidak membangun tembok. Aku hanya menumbuhkan pagar kecil. Bukan untuk menjauhkan orang, tapi untuk melindungi diriku sendiri.
Aku pernah percaya, dan tak menyesal karena pernah. Karena dari kepercayaan itulah aku belajar mengenali luka. Dan dari luka, aku belajar menyembuhkan. Kini aku tak ingin menutup diri sepenuhnya, tapi juga tak ingin terlalu membuka. Aku ingin tinggal di tengah: cukup dekat untuk tersenyum, cukup jauh untuk tidak hancur jika ditinggalkan.
Begitulah akhirnya aku hidup sekarang. Dengan hati yang lebih tenang, meski tak lagi seramai dulu. Dengan langkah yang lebih pelan, meski tak lagi seragu dulu. Aku tidak mencari siapa pun untuk menyelamatkanku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang tak lagi menyakiti dirinya sendiri atas nama percaya. Dan jika suatu hari nanti ada yang datang dengan niat baik, aku akan menengok, tersenyum, dan berkata: “Kita lihat nanti, ya."