Rabu, 28 Mei 2025

Di Balik Komentar-Komentar Itu


Dia selalu hadir lebih dulu dari warganet lainnya. Bahkan sebelum unggahan selesai dimuat penuh, jemarinya sudah bersiap mengetik. Ia seperti memiliki radar—jika ada yang bahagia, ia datang untuk mengingatkan betapa dunia ini belum adil. Jika ada yang bersedih, ia hadir membawa penilaian—mengapa tidak lebih bersyukur? Mengapa tidak lebih kuat?

Setiap malam, sebelum tidur, ia membaca komentar-komentar miliknya sendiri. Tidak selalu ia menang. Kadang balasan dari pengguna lain membuatnya terdiam. Tapi ada juga saat-saat ia merasa puas karena argumennya disukai, dibagikan, disanjung. Ia merasa... diakui.

Tak banyak yang tahu, bahwa di balik layar retinanya, dunia tidak selalu terang. Rumah yang sunyi, pekerjaan yang stagnan, hidup yang entah berjalan ke mana. Ia mengisi kekosongan dengan pendapat. Ia menambal rasa sepi dengan konfrontasi. Mungkin, berdebat adalah satu-satunya cara ia merasa hidup.

Kadang, ia juga tidak setuju dengan dirinya sendiri. Tapi siapa peduli? Dunia maya bukan tempat untuk konsistensi. Ini panggung. Dan selama ada yang menonton, ia akan tampil.

Aku pernah mencoba memahami. Pernah menelusuri satu per satu komentar-komentarnya, dari yang paling tajam hingga yang samar seperti sindiran di pinggir bibir. Aku tak bisa menyangkal, ada logika di dalamnya. Tapi logika yang kehilangan nada empati, seperti mesin yang lupa bahwa manusia tidak selalu bisa menjelaskan segalanya.

Ia bukan satu-satunya. Dunia digital telah melahirkan banyak seperti dia. Mereka tumbuh di kolom komentar, hidup dari reaksi, bernapas lewat kontroversi. Mereka tidak mencari kebenaran, hanya ingin bicara. Sebab diam membuat mereka merasa tak ada. Dan menjadi “tak ada” adalah rasa takut yang tak pernah mereka akui.

Suatu malam, ia menulis komentar panjang di sebuah video yang mengangkat kisah seorang ibu yang kehilangan anaknya. Ia tidak menghina. Tapi kalimatnya dingin. Rasional. Tajam. Seperti dokter yang menjelaskan prognosis tanpa menatap mata pasiennya.

"Harusnya tahu risiko sebelum punya anak. Dunia ini kejam, jangan manja."

Aku melihat komentar itu mendapat banyak respons. Sebagian membelanya, sebagian lagi marah. Tapi tidak satu pun yang bertanya—apa yang membuatnya menulis begitu? Apakah ia kehilangan sesuatu juga? Ataukah ia sedang marah, tapi tak tahu harus ke mana menyalurkannya?

Di dunia nyata, ia bukan siapa-siapa. Tapi di dunia yang dibuat dari angka-angka dan notifikasi, ia merasa penting. Di sana, ia bisa lebih dari sekadar manusia biasa. Ia bisa jadi pengamat, kritikus, bahkan hakim.

Ada ironi yang lucu sekaligus getir di situ. Ia mengolok-olok selebritas, tapi diam-diam ingin viral. Ia menolak narasi bahagia, tapi setiap malam memimpikan hidup yang lebih ringan. Ia membenci sistem, tapi tetap mengikutinya. Ia mengkritik konten motivasi, tapi tanpa sadar sedang mencari makna hidup lewat komentar yang dibalas orang asing.

Aku tidak ingin menertawakannya. Tidak juga membenarkannya. Tapi malam ini, aku ingin menuliskan tentangnya. Sebab, mungkin, kita semua pernah menjadi dia—di saat-saat paling sepi, ketika dunia terasa terlalu besar, dan satu-satunya cara untuk merasa berarti adalah dengan menulis sesuatu yang bisa dilihat orang lain. Meski itu hanya satu kalimat pedas yang membuat orang lain gundah.

Tidak semua orang ingin jadi pahlawan. Ada yang hanya ingin tidak dilupakan. Dan bagi sebagian, menjadi kontra adalah cara termudah untuk diingat.

Kita tak pernah tahu siapa yang duduk di balik akun itu. Mungkin ia seorang ayah yang kesepian. Seorang kakak yang lelah. Seorang mahasiswa yang kehilangan arah. Atau mungkin... hanya seseorang yang ingin didengar, tapi tak tahu bagaimana caranya tanpa membuat dunia jengkel.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia akan kembali. Di kolom komentar, di thread panas, di video trending. Ia akan hadir dengan opini yang bisa membuat kita mengerutkan dahi atau menghela napas.

Tapi jika suatu hari nanti ia diam, jangan senang dulu. Bisa jadi ia telah menyerah.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...