Aku masih di sini.
Di antara jam beker yang tak pernah lelah memanggil pagi. Di antara kopi sachet yang tiap bulan ganti harga. Di antara langkah kaki ke tempat kerja yang sudah hafal detak sepatuku. Di antara rutinitas yang terasa biasa, tapi tetap kujalani dengan hati-hati. Karena bagiku, hidup memang belum sampai pada cerita-cerita megah yang sering mereka bagikan di media sosial.
Aku masih belajar menata ulang harapan, bukan memaparkan pencapaian. Masih bersyukur bisa beli camilan akhir bulan. Masih bahagia jika listrik tak telat kubayar. Sementara teman-temanku sibuk bicara tentang saham, beasiswa ke luar negeri, dan rencana punya rumah di umur tiga puluh. Mereka hebat. Aku bangga. Tapi terkadang, ketika malam datang dan aku hanya menatap langit-langit kamar yang mulai retak, aku bertanya pelan pada diriku sendiri: kapan giliranku?
Tapi aku tak mau terburu-buru menjawab.
Karena aku tahu, hidup bukan perlombaan. Dan mungkin, tempatku memang bukan di keramaian sorak sorai, tapi di pojok yang sepi namun penuh makna. Di sela-sela doa yang tak pernah bosan kupanjatkan. Di antara cucian piring dan baju yang jadi jeda merenung. Di detik-detik menunggu bus, atau di senyuman tetangga yang tak pernah berubah ramahnya.
Aku masih di sini. Dengan rasa syukur yang kadang lelah, tapi tetap kupegang erat. Karena aku tahu, pencapaian orang lain bukan kegagalanku. Karena hidup bukan tentang siapa yang sampai duluan, tapi tentang siapa yang tetap berjalan, meski pelan.
Aku masih di sini. Dan itu bukan hal yang memalukan.
Karena hidupku tetap berarti. Dalam bentuknya yang paling sederhana. Dalam bentuknya yang paling sunyi. Dalam bentuknya yang tak akan masuk berita, tapi selalu masuk dalam doa.
Kadang aku ingin menyerah. Karena dunia seakan terlalu cepat dan aku tak cukup sigap. Tapi ada satu hal yang selalu membuatku tetap tinggal: aku tahu, aku sedang menanam. Dan meski tak tahu kapan panennya, aku percaya, benih yang kujaga dengan sabar akan mekar juga.
Mereka bicara tentang dunia, aku masih bicara tentang hari ini. Mereka berencana ke masa depan, aku masih berdamai dengan masa lalu. Mereka mencatat pencapaian, aku masih menuliskan puisi-puisi kecil untuk bertahan.
Dan semua itu baik-baik saja.
Karena setiap kita, punya waktunya masing-masing.
Aku tak sedang tertinggal. Aku hanya sedang menyusun langkah. Di jalan yang berbeda. Di jalan yang mungkin lebih sepi. Tapi tetap menuju terang yang sama.
Jadi jika malam ini kamu merasa kecil, merasa belum apa-apa, merasa hidupmu terlalu sederhana di antara dunia yang bicara tentang prestasi dan kejayaan—aku di sini, sama sepertimu.
Menjaga harapan dalam diam. Merawat mimpi dalam kesunyian. Melangkah pelan, tapi pasti.
Karena tak semua orang harus tiba duluan untuk disebut berhasil.
Ada yang ditakdirkan berjalan lambat, tapi membawa kedalaman yang tak bisa diukur siapa-siapa.
Dan itu... tidak apa-apa.