Tak ada yang benar-benar ingin mengerti. Yang dicari hanyalah celah, lubang kecil yang bisa dijadikan lubang peluru, dan jika tak ditemukan, akan digali. Karena memang di dunia ini, yang salah selalu ada. Tinggal cari sudutnya.
Aku tak tahu sejak kapan semua jadi begini. Dulu, ketika orang berbicara, tujuan utamanya adalah agar didengarkan. Sekarang, ketika orang menulis, yang mereka takutkan bukan tak ada yang baca, tapi terlalu banyak yang merasa harus membantah. Setiap pernyataan jadi peluru, setiap pendapat jadi palu, dan setiap simpati dianggap propaganda.
Mereka menyebutnya diskusi. Tapi lebih sering terdengar seperti pertarungan sumur tua: suara yang saling menggema, tak ada yang turun ke dasar, semuanya hanya ribut di permukaan.
Seseorang menulis tentang kehilangan. Maka datang komentar, “Kenapa baru ngomong sekarang? Jangan-jangan cari perhatian.”
Seorang ibu memposting anaknya yang sedang belajar membaca. Maka ada yang menanggapi, “Ini bukan prestasi, anak-anak di luar negeri sudah bisa coding.”
Seorang teman curhat tentang kecemasan yang dialaminya. Komentar pertama yang muncul adalah, “Makanya jangan overthinking. Kurang ibadah, kali.”
Aku mengamati semua itu seperti berdiri di seberang sungai yang keruh. Di sisi sini, ada yang tenggelam karena terlalu banyak menahan. Di sisi sana, ada yang melempar batu hanya karena iseng. Dan di tengah-tengah, ada mereka yang menyebut dirinya netral — padahal hanya takut memilih.
Tak ada yang benar-benar ingin tahu alasan. Yang mereka cari hanya pembenaran untuk kebencian yang sudah ada sejak awal. Bahkan sebelum tulisan selesai dibaca, kepala mereka sudah menyiapkan tiga paragraf serangan, dua meme sindiran, dan satu ancaman tersembunyi.
Mereka belajar membaca bukan untuk mengerti, tapi untuk mencari kesalahan. Mereka ikut kelas debat bukan untuk logika, tapi untuk retorika.
Karena memang, di zaman sekarang, jadi benar itu bukan soal logika, tapi soal siapa yang lebih banyak dapat likes. Yang lebih keras, lebih cepat, lebih ramai — maka dia menang.
Ada satu waktu aku mencoba bertanya, dengan sungguh-sungguh, dalam ruang komentar yang tampak tenang. Hanya satu kalimat: “Apa kamu yakin itu maksud penulisnya?”
Balasannya tak lama datang: “Kamu sok bijak ya? Pasti temennya dia. Sama aja.”
Dan begitulah aku tahu, bahwa niat baik tak ada gunanya jika dikatakan dengan lembut. Di dunia yang bising ini, niat baik butuh peluit. Kalau bisa sirine.
Aku kemudian belajar diam. Bukan karena tak punya suara, tapi karena sadar: kadang satu kalimat bisa membuatku habis dimakan pagi.
Lucunya, mereka tak pernah kehabisan bahan. Apa saja bisa dipermasalahkan. Bahkan hujan pun bisa jadi perdebatan: “Ini bukan berkah, ini bencana akibat ulah manusia!” lalu ada yang membalas, “Ini ujian dari Tuhan, jangan nyalahin siapa-siapa.” dan selanjutnya ributlah mereka sampai langit terang kembali.
Aku lelah. Tapi kelelahan tak menghentikan dunia. Orang-orang masih akan terus menyalahkan, karena mereka butuh sesuatu untuk membuat mereka merasa lebih tinggi.
Kesalahan orang lain adalah anak tangga untuk mereka yang tak sanggup berdiri di atas kebaikan sendiri.
Dan tak perlu yang besar. Salah ketik bisa jadi alasan untuk menyerang moral. Salah paham bisa dijadikan alasan untuk membongkar masa lalu. Bahkan diam pun bisa dituduh sebagai keberpihakan.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah kita semua diam-diam ingin dunia ini terbakar, hanya agar kita bisa merasa punya korek?
Yang salah selalu ada. Tinggal cari sudutnya.
Dan jika tak ditemukan, buatlah sendiri.
Itulah hukum sosial media sekarang.
Maka aku memilih menepi. Menulis untuk mereka yang diam-diam masih mau membaca dengan hati. Untuk satu dua orang yang tak terburu-buru membalas, tapi mencoba memahami.
Karena meski suara yang jernih tak selalu viral, aku tahu ia tetap diperlukan.
Aku menulis bukan untuk mereka yang teriak. Tapi untuk mereka yang sedang berusaha mendengarkan, walau pelan-pelan, walau dari jauh, walau harus menepis debu dari layar mereka yang letih.
Karena di dunia ini, yang salah memang selalu ada. Tapi bukan berarti kita harus jadi bagian darinya.