Ada masa dalam hidup, ketika semua terasa terlalu penuh. Bukan karena dunia terlalu kejam, tapi karena hati terlalu sesak. Saat itulah, kita mulai mengambil langkah—bukan ke arah penyelesaian, tapi ke arah pelarian. Bukan karena tak tahu mana yang benar, tapi karena takut jika kebenaran ternyata terlalu menyakitkan. Maka kita memilih diam. Menepi. Menghilang. Dan pada akhirnya, kita tahu… kita sedang lari dari masalah. Lari—bukan seperti maraton yang penuh semangat. Tapi lari yang gontai, pelan, penuh ragu, kadang bahkan sambil menoleh ke belakang. Seolah masih berharap ada yang mengejar dan berkata, “Tak apa. Hadapi ini bersamaku.” Tapi seringnya, tak ada siapa-siapa.
Masalah adalah suara berisik di kepala yang tak bisa dimatikan. Ia memanggil saat kita sedang sendiri, membisik di tengah malam, dan hadir dalam mimpi yang membuat tidur tak pernah benar-benar nyenyak. Kita coba menutup telinga, tapi hati lebih peka dari apa pun. Maka kita pergi. Ke tempat yang sepi. Ke teman yang tak tahu apa-apa. Ke kesibukan yang tak perlu. Ke tawa yang kosong. Kita pura-pura kuat, pura-pura bahagia, pura-pura baik-baik saja. Padahal dalam dada, ada gemuruh yang terus menghantam. Pelik, memang. Karena kadang bukan masalah yang rumit, tapi hati yang tak mampu memeluk luka. Bukan karena tak bisa selesai, tapi karena tak tahu harus mulai dari mana. Ada yang bilang: hadapi saja. Tapi bagaimana jika yang dihadapi adalah diri sendiri yang tak sanggup berdiri?
Melupakan jadi pilihan. Seakan waktu bisa menghapus luka, dan jarak bisa mengubur sesal. Tapi waktu hanya menidurkan masalah, bukan menyembuhkan. Dan jarak hanya memindahkan rindu, bukan menyelesaikannya. Kita tahu itu. Tapi tetap memilih pergi. Karena lari itu lebih mudah. Karena berpura-pura itu lebih nyaman. Karena menghindar lebih cepat daripada menanggung beban yang belum tentu kita bisa selesaikan. Namun, sejauh-jauhnya kita lari, masalah itu menunggu. Diam. Sabar. Kadang menyamar jadi kenangan, kadang jadi kecemasan, kadang muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuat kita terdiam lama:
“Kamu kenapa?”
“Kok kamu berubah?”
“Masih kepikiran?”
Dan saat itulah kita sadar—kita belum benar-benar pergi. Kita hanya memindahkan luka dari kepala ke dada, dari luar ke dalam. Kita lari, tapi jejaknya tertinggal. Dan mungkin, hanya mungkin, suatu hari nanti… kita akan berhenti. Menoleh ke belakang. Menatap masalah yang dulu ditinggalkan. Menyapanya dengan napas berat, lalu berkata, “Ayo, kita selesaikan ini perlahan. Meski aku takut. Meski aku tak yakin. Tapi aku lelah berlari.”
Dan saat itu tiba, mungkin kita akan benar-benar merasa hidup. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kita tak lagi menghindar. Karena keberanian, kadang bukan tentang menyelesaikan semuanya. Tapi tentang berani mengakui bahwa kita pernah lari, dan kini ingin kembali. Untuk berdamai. Untuk menenangkan diri sendiri yang sudah terlalu lama terluka.