Aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan adalah pesta—tawa lebar, lampu terang, musik keras, meja penuh makanan, dan pelukan-pelukan panjang dari orang-orang yang bersorak menyebut namaku. Kupikir bahagia adalah sorotan; kepala yang menoleh, tangan yang menunjuk, mulut yang memuji. Tapi ternyata tidak. Bahagia itu tidak ramai. Ia datang seperti angin subuh, diam-diam masuk lewat celah jendela, menyentuh kulit yang belum sempat menyadari dingin, lalu pergi tanpa pamit. Tapi setelahnya, ada yang terasa berbeda: hati jadi lebih lapang, napas terasa ringan, dan dunia tampak sedikit lebih terang meski mentari belum muncul. Kita seringkali terlalu sibuk mengejar gemerlap, lalu lupa bahwa beberapa jenis bahagia hanya bisa ditemukan dalam sunyi. Di detik ketika kita tidak sedang membuktikan apa-apa kepada siapa-siapa. Di sela waktu ketika kita tidak sedang ingin dilihat, didengar, atau dipuji.
Kebahagiaan itu bisa muncul saat membuka sepatu yang membuat kaki lecet seharian, saat air hangat membasuh tubuh yang lelah, atau saat ada pesan masuk bertuliskan, “Aku sampai rumah. Jangan khawatir, ya.” Tak ada yang bersorak. Tak ada yang memotret. Tapi hati tahu, “Ini bahagia.” Kita hidup di zaman di mana kebahagiaan harus dipublikasikan agar dianggap nyata. Seolah kalau tidak terlihat orang lain, maka itu tidak penting. Padahal, banyak rasa yang justru kehilangan maknanya ketika dipamerkan. Bahagia bukan panggung. Ia lebih mirip ruang duduk tua di rumah nenek, dengan karpet tipis, teh hangat, dan cerita yang diulang-ulang tapi tak pernah membosankan. Ia tak butuh hiasan, tak perlu tata cahaya. Ia hanya perlu kehadiran yang tulus, dan hati yang bersedia diam sebentar untuk merasa cukup.
Aku pernah merasa iri melihat hidup orang lain yang tampak lebih indah—lebih kaya, lebih diinginkan, lebih dipuja. Namun ketika aku duduk sendiri dan jujur kepada diri sendiri, ternyata aku tidak butuh itu semua. Aku hanya ingin tenang. Dan kadang, ketenangan lebih mahal daripada sorak-sorai. Bahagia itu… mungkin saat kita bangun pagi tanpa rasa cemas. Saat bisa makan tanpa terburu-buru. Saat bisa menangis tanpa takut dinilai lemah. Saat bisa mencintai tanpa merasa harus memiliki. Tidak ada yang bisa menunjuk kebahagiaanmu dan berkata, “Itu tidak cukup,” karena bahagia bukan angka. Bukan hasil ujian. Bukan banyaknya ‘like’ atau ‘retweet’. Bahagia adalah rasa yang tahu kapan harus berdiam dan kapan harus merayakan—tapi tidak perlu dunia ikut tahu.
Aku belajar, bahwa tidak semua hal indah harus dirayakan dengan suara. Beberapa hanya perlu didengar oleh hati, dan disimpan baik-baik dalam ingatan. Bahagia itu tidak ramai. Ia bisa hadir dalam selembar surat yang ditemukan di laci, dalam suara hujan yang jatuh di atas genting, dalam punggung seseorang yang tetap di sana meski kita tak lagi bisa berkata apa-apa. Dan kadang, bahagia hanya soal duduk sendirian, mengamati dunia berjalan tanpa kita harus ikut berlari, dan menyadari: “Aku tidak kehilangan apa-apa hari ini.”
Bahagia itu tidak perlu dijelaskan. Ia cukup dirasakan. Dan jika ada orang yang tak mengerti, maka tak apa. Karena kebahagiaan tidak pernah punya definisi seragam. Ia datang dengan wajah berbeda untuk setiap orang. Dan untukku, hari ini, bahagia adalah saat aku bisa menulis ini tanpa terburu-buru. Tanpa beban untuk harus disukai. Tanpa harapan untuk dipuji. Hanya ingin menyampaikan bahwa: jika kamu tidak sedang tertawa hari ini, jika kamu tidak sedang dikelilingi banyak orang, jika kamu tidak sedang mencapai apapun yang bisa dibanggakan—bukan berarti kamu tidak bahagia. Mungkin kamu hanya sedang berada di antara jeda. Dan mungkin, kebahagiaanmu sedang belajar untuk tumbuh diam-diam. Seperti pohon yang akarnya merambat dalam tanah. Tak terlihat, tapi menguat. Pelan-pelan. Tapi pasti. Dan kelak, ia akan berbunga. Tanpa perlu tepuk tangan siapa pun. Karena bahagia itu tidak ramai. Dan itu tidak apa-apa.