Senin, 19 Mei 2025

Sampai Kapan Kita Cuma Bertahan?


Aku bangun pagi ini, seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Tidak ada yang istimewa. Gelas kopi masih di sudut meja, berdebu karena tak tersentuh dua hari terakhir. Aku menyeduh air panas, membuka jendela, membiarkan cahaya masuk hanya setengah hati. Langit samar, dan rasanya aku juga. Ada detik-detik yang kulewati tanpa benar-benar hadir. Seakan tubuhku berjalan, duduk, mengangguk, tertawa secukupnya, tapi jiwaku tertinggal di tempat yang tak pernah sempat kupetakan. Aku menjalani ini semua, tapi sering kali bertanya: untuk siapa? Untuk apa?

Kadang aku bertahan bukan karena kuat. Tapi karena tak tahu harus ke mana jika menyerah. Semua orang memujiku karena tetap bertahan, karena tak pernah rewel, karena selalu bisa menyesuaikan diri. Mereka tak tahu, di balik diamku, aku menyimpan suara-suara yang tidak pernah berani kusuarakan. Tentang kelelahan yang tak bisa kuakui, tentang mimpi-mimpi yang mengkerut di pojok dada, tentang ingatan yang tak juga sembuh. Aku terlalu lihai menjadi biasa saja, padahal aku hanya takut terlihat goyah. Dunia menyukai ketegaran, bukan kegamangan. Tapi aku lelah jadi kuat sendirian.

Ada hari-hari ketika aku ingin berhenti. Bukan untuk menyerah, tapi untuk bertanya: apa yang sebenarnya sedang kulakukan? Aku bangun, mandi, bekerja, makan, pulang, rebah, tidur—dan mengulang semua itu esok hari. Hidupku berjalan, tapi rasanya tidak bergerak. Seperti menapak di eskalator mundur. Aku tersenyum, tapi hambar. Aku berbicara, tapi kosong. Aku mendengarkan kata-kata motivasi, video yang katanya membangun semangat, tapi semuanya seperti minuman manis saat haus: menghibur sebentar, lalu haus lagi, lalu hampa. Aku ingin lebih dari sekadar ditenangkan. Aku ingin dihidupkan.

Malam-malam terasa panjang. Aku sering terjaga, menatap langit-langit, mendengar detak jam dan suara pikiranku sendiri. Aku merasa asing di tempat tidurku sendiri. Tak ada pelukan, bahkan dari diriku sendiri. Aku mencoba berbicara pada Tuhan, tapi bahkan doaku terasa malu-malu. Aku ingin menangis, tapi sudah terlalu sering menahan air mata sampai aku lupa bagaimana caranya. Semua rasa tertahan di dalam. Mengeras, mengendap, diam-diam menggerogoti bagian terbaikku.

Aku pernah punya mimpi. Tapi kini aku bahkan lupa bentuknya. Dulu aku ingin banyak hal: berjalan keliling dunia, menulis buku, membuat karya yang abadi. Tapi hari-hari berlalu, dan aku hanya sibuk menunggu hari gajian. Sibuk mengatur uang. Sibuk bertahan agar tidak kehilangan semuanya. Sibuk berpura-pura punya kendali, padahal kendali itu entah sejak kapan hilang dari genggamanku. Aku bertahan bukan karena tahu caranya hidup, tapi karena tidak punya pilihan lain.

Aku tahu ini bukan cuma aku. Banyak orang di luar sana yang juga hidup begini. Kita tersenyum di layar, tapi menangis di kamar mandi. Kita hadir di meja makan, tapi pikiran kita di tempat lain. Kita datang ke kantor, mengerjakan tugas, pulang, dan tidak tahu kenapa semua itu harus diulang. Kita berpura-pura kuat karena kita tak pernah diberi ruang untuk rapuh. Kita bertahan, tapi tak tahu sampai kapan.

Kadang aku berpikir, apa jadinya jika suatu hari aku berhenti? Bukan berhenti hidup, tapi berhenti bertahan dengan cara seperti ini. Mungkin aku akan pergi sebentar. Menyendiri. Mencari suara yang dulu pernah kupunya. Mungkin aku akan diam, tapi kali ini untuk benar-benar mendengarkan. Bukan dari video motivasi, bukan dari mulut orang lain, tapi dari suaraku sendiri. Yang selama ini kulupakan, kubungkam, kupinggirkan.

Aku ingin belajar berjalan, bukan sekadar bertahan. Aku ingin jatuh, tapi jatuh yang jujur. Aku ingin gagal, tapi gagal yang membentuk. Aku ingin hidup, meski pelan, meski ragu, meski takut. Aku tidak ingin lagi cuma melewati hari demi hari dengan napas terengah. Aku ingin menarik napas panjang, dan tahu bahwa aku bukan cuma bertahan—aku hidup.

Tapi belum hari ini.

Hari ini, aku masih duduk di sini. Menulis ini. Berpikir ini. Mencoba berani. Mencoba jujur. Mencoba bangun bukan hanya dari tidur, tapi dari keterlenaan yang lama. Hari ini aku belum tahu caranya. Tapi mungkin dengan mengakui bahwa aku hanya bertahan, itu sudah awal dari pulang.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...