Sabtu, 17 Mei 2025

Sunyi Di Antara Notifikasi


Ada suara-suara yang tak pernah kita minta, namun ia datang tanpa jeda. Notifikasi yang menyala seperti lilin-lilin yang tak mau padam, mengerumuni malam kita, pagi kita, bahkan waktu tidur yang seharusnya menjadi tempat paling sunyi untuk pulang ke diri sendiri. Kita terbangun bukan oleh cahaya matahari, tapi oleh bunyi getar dari layar kecil di samping bantal—seakan dunia menagih sesuatu yang bahkan belum sempat kita janjikan. Di sanalah sunyi kehilangan tempatnya, digantikan dengan hiruk yang tak bersuara, dengan gegap-gempita yang justru lahir dari layar berukuran lima inci.

Kita terbiasa memencet tombol "suka", menuliskan komentar manis yang seringkali tak sepenuhnya kita rasakan, dan menyusun cerita dalam bentuk potongan gambar yang disunting sedemikian rupa agar tampak seperti kehidupan. Namun di balik semua itu, ada ruang kecil dalam diri kita yang mulai merasakan kekosongan. Bukan karena kita tidak bahagia, tapi karena kebahagiaan kita seakan harus diuji oleh berapa banyak orang yang melihatnya. Kita tak lagi bertanya, "Apakah aku bahagia?" tapi lebih sering bertanya, "Apakah mereka tahu aku bahagia?"

Ada satu sore yang aku ingat. Sore yang seharusnya bisa kujadikan ruang jeda dari dunia. Aku duduk di beranda, langit sedang cantik-cantiknya, dan angin bertiup lembut seperti ingin membisikkan sesuatu. Tapi jemariku sibuk menggulir linimasa, mencari cerita orang lain untuk mengisi kekosongan yang bahkan belum kuakui ada. Tak ada yang salah dengan tahu kabar orang lain. Tapi mengapa aku merasa kehilangan kabar dari diriku sendiri? Mengapa aku tahu siapa yang sedang liburan ke mana, siapa yang baru menikah, siapa yang baru patah hati—tapi aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar bertanya, "Apa kabarmu hari ini?"

Layar itu menyala tanpa ampun. Ia hadir di meja makan, di kamar mandi, di sela-sela doa, bahkan di detik-detik sunyi yang seharusnya menjadi tempatku mendengar bisikan batin. Kita terlalu akrab dengan distraksi, hingga ketenangan terasa asing. Kita lebih nyaman dengan kebisingan karena ia membuat kita lupa harus menghadapi apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri. Ada luka yang belum selesai, ada rindu yang tak pernah diberi nama, ada cemas yang kita bungkus dengan candaan, dan semua itu tertahan karena kita terlalu sibuk memberi reaksi pada cerita orang lain, tapi tak pernah memberi ruang untuk mendengar cerita diri sendiri.

Pernahkah kau mencoba mematikan semua itu? Bukan hanya ponsel, tapi juga ekspektasi-ekspektasi yang lahir dari dunia maya. Pernahkah kau duduk diam, tanpa musik, tanpa layar, hanya ada kau dan detak jantungmu? Rasanya aneh. Rasanya seperti kembali ke rumah setelah lama mengembara. Rumah yang berdebu dan penuh sarang laba-laba, tapi tetap rumah. Begitulah rasanya bertemu diri sendiri setelah sekian lama. Ada canggung, ada malu, ada ingin segera pergi lagi. Tapi bila kau bertahan sedikit lebih lama, kau akan mulai mendengar. Mungkin bukan kata-kata, tapi suara lirih dari hatimu sendiri, yang selama ini dikalahkan oleh bunyi notifikasi.

Aku mulai belajar menyukai pagi tanpa membuka ponsel. Menikmati kopi tanpa merasa harus mengabadikannya. Berjalan tanpa merasa perlu merekam langkah. Menulis bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk menata pikiranku sendiri. Rasanya seperti menyapa kembali versi diriku yang dulu pernah hilang. Bukan berarti aku menolak teknologi, bukan. Tapi aku tak ingin hidupku dikendalikan oleh mesin yang tidak mengenalku. Aku ingin menjadi manusia yang hadir sepenuhnya, bukan sekadar avatar di linimasa yang terlihat bahagia tapi kosong di dalam.

Hari-hari ini, mencintai diri sendiri bisa jadi berarti menciptakan ruang sunyi di tengah dunia yang terlalu bising. Sunyi yang bukan berarti sepi, tapi ruang yang jujur. Tempat kita boleh lelah, boleh rapuh, boleh tidak baik-baik saja. Tempat kita tidak harus selalu jadi versi terbaik, karena menjadi diri sendiri, utuh dan apa adanya, adalah bentuk keberanian yang paling diam tapi dalam.

Dan bila suatu hari kau merasa terlalu lelah mendengar semua suara dari luar, cobalah duduk sebentar. Matikan layar. Dengarkan dirimu sendiri. Mungkin di sana, di antara detik dan detak, kau akan menemukan bahwa ternyata kamu tak pernah benar-benar hilang. Hanya tersesat sebentar, di antara notifikasi yang tak berhenti.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...