Selasa, 20 Mei 2025

Langkah Yang Gagal Dijelaskan


Aku tidak takut melangkah. Tapi aku takut melangkah ke arah yang membuatku hilang dari diriku sendiri. Ada jarak yang ganjil antara ingin dan yakin. Di antara keduanya, aku sering duduk diam, terlalu lama. Membiarkan waktu lewat seperti angin malas yang menyentuh wajah tapi tak pernah benar-benar menggerakkan. Aku berdiri di tengah, di tempat yang tak bernama—bukan awal, bukan akhir. Hanya semacam ruang jeda yang tak punya petunjuk arah. Semua orang menyuruhku berjalan, tapi tak satu pun dari mereka tahu ke mana aku harus menuju. Dan suara dalam diriku pun, entah sejak kapan, makin pelan, makin asing, makin seperti gema dari orang lain yang berbicara lewat mulutku.

Ada hari-hari ketika aku merasa cukup kuat untuk melangkah. Aku berdiri, menyusun rencana, memantapkan hati. Tapi baru beberapa langkah, tanah seperti menghilang di bawah kaki. Lalu aku mundur lagi. Duduk lagi. Menyusun ulang keberanian yang berantakan. Aku sering bertanya, apakah memang perlu tahu dulu apa yang menunggu di depan sebelum memutuskan melangkah? Atau justru harus berani bergerak dulu agar tahu apa yang layak diperjuangkan? Tapi pikiranku terlalu berisik, terlalu banyak kemungkinan yang muncul dalam bayangan. Semua pilihan seperti jalan bercabang yang membawa pada kehilangan, dan aku tidak tahu mana yang akan membuatku kehilangan lebih sedikit.

Mereka bilang hidup adalah tentang keberanian mengambil risiko. Tapi tak semua orang bisa melihat risiko dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, risiko adalah soal rugi dan untung. Tapi bagiku, risiko adalah kemungkinan kehilangan bagian dari diri sendiri. Aku takut menjadi seseorang yang asing bagi hatiku. Aku takut tersesat dalam pencapaian, terperangkap dalam definisi sukses yang ditentukan oleh mata orang lain. Aku takut memilih jalan yang membuatku terlihat hebat, tapi terasa hampa setiap malam.

Aku iri pada mereka yang tahu apa yang mereka mau. Yang bisa berjalan lurus ke arah yang mereka percaya, meski dunia memutarbalikkan mereka. Aku iri pada orang-orang yang bahkan dalam ragu, tetap melangkah. Karena aku masih di sini. Di titik di mana setiap langkah seperti taruhan besar. Bukan karena langkah itu buruk, tapi karena aku belum selesai berdamai dengan ketakutan lamaku. Aku belum berdamai dengan kegagalan yang lalu. Belum benar-benar menyembuhkan luka yang dulu kupaksa sembuh hanya dengan berkata: “aku baik-baik saja.”

Malam-malamku jadi semacam sesi tanya jawab yang tak pernah selesai. Aku tanya pada diriku sendiri: kalau aku melangkah, apa yang kutinggalkan? Kalau aku tetap di sini, apa yang akan kusesali? Aku lelah dengan jawaban yang berubah setiap hari. Hari ini aku ingin pergi. Besok aku ingin menetap. Lusa aku ingin semuanya. Dan di hari berikutnya, aku tidak ingin apa-apa. Seperti ombak yang datang dan pergi, pikiranku tak pernah konsisten. Mungkin bukan karena aku tak tahu, tapi karena aku tak percaya pada apa yang kutahu.

Terkadang, aku merasa ini bukan tentang jalan mana yang kupilih. Tapi tentang keberanian untuk menerima apa pun yang terjadi setelahnya. Mungkin langkah itu tidak harus sempurna. Tidak harus pasti. Tidak harus selalu benar. Mungkin yang paling penting adalah aku hadir dalam langkah itu. Bukan seperti robot yang bergerak karena disuruh. Tapi seperti manusia yang berjalan karena percaya, meski dengan napas berat dan telapak kaki yang gemetar.

Aku ingin belajar berjalan lagi. Bukan karena harus cepat, tapi karena aku bosan jadi penonton dalam hidupku sendiri. Aku lelah melihat orang-orang lewat, satu per satu, dengan tujuan mereka masing-masing, sementara aku masih sibuk menggambar peta yang tak kunjung selesai. Aku tahu aku tidak bisa duduk di sini selamanya. Tapi aku juga tahu, memaksa diri melangkah saat hatiku belum siap adalah semacam bentuk penghianatan pada diri sendiri. Jadi untuk hari ini, aku izinkan diriku diam. Tapi bukan untuk menyerah. Diam untuk mendengar. Diam untuk menguatkan. Diam untuk menyusun langkah, perlahan.

Karena suatu hari nanti, aku akan berjalan. Mungkin bukan hari ini, tapi pasti akan datang waktunya. Dan saat langkah itu kutapakkan, bukan karena aku tak takut, tapi karena aku memilih berjalan bersamanya. Bersama rasa takut. Bersama keraguan. Bersama diriku sendiri, yang akhirnya kupeluk meski belum sepenuhnya utuh.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...