Ada yang aneh dari manusia: kadang, ia begitu bangga pada lukanya. Seolah luka itu medali, derita itu piala, dan air mata adalah bukti bahwa dunia telah bersalah padanya. Ia berdiri di tengah panggung imajiner, memainkan peran sebagai korban yang sempurna—setiap kata, setiap pandangan, adalah monolog tentang betapa kejamnya hidup padanya.
Tapi siapa yang benar-benar mendengarkan?
Kita hidup di dunia yang sibuk, di mana setiap orang membawa beban masing-masing. Ketika seseorang menjadikan diri sebagai pusat tragedi, ia lupa bahwa orang lain juga punya cerita yang tak kalah pedih. Bukan bahwa penderitaannya tidak nyata, tapi ketika ia terus-menerus mengukir narasi "aku yang tersakiti," ia justru mengubur diri dalam kubangan yang ia ciptakan sendiri.
Menjadi korban itu mudah. Terlalu mudah. Kita hanya perlu menyerah pada narasi bahwa segalanya di luar kendali, bahwa kita tak punya kuasa atas hidup sendiri. Lalu, dengan getir, kita memakai mahkota duri itu—bukan karena dipaksa, tapi karena nyaman. Ya, menjadi korban itu nyaman. Kita mendapat simpati, perhatian, bahkan pembenaran untuk setiap kegagalan.
Tapi mahkota duri itu menusuk lebih dalam dari yang kita kira.
Setiap kali kita berkata, "Hidupku sengsara," tanpa sadar kita mengukirnya menjadi kebenaran. Setiap kali kita menolak tanggung jawab dengan alasan "aku sudah terluka," kita memberi izin pada diri untuk tetap terpuruk. Luka yang seharusnya sembuh, justru dipelihara—dijadikan tameng untuk tidak tumbuh.
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: "Jika aku terus memainkan peran sebagai korban, apa yang akan terjadi padaku lima tahun lagi?"
Dunia tidak berhenti hanya karena kita terluka. Matahari tetap terbit, angin tetap berhembus, dan orang-orang di sekitar kita terus melangkah. Sementara kita? Kita terjebak dalam lingkaran cerita yang sama, mengulang-ulang kisah sedih yang akhirnya tak lagi menyentuh siapa pun—kecuali diri sendiri.
Bukan berarti kita tidak boleh merasakan sakit. Bukan berarti kita harus selalu kuat. Tapi ada perbedaan antara mengakui luka dan menjadikannya identitas. Antara berkata, "Aku pernah hancur," dan berkata, "Aku adalah orang yang hancur." Yang pertama adalah proses; yang kedua adalah penjara.
Mungkin inilah saatnya untuk bertanya: "Siapa aku di balik semua cerita sedih ini?"
Kita bukan hanya kumpulan luka. Kita juga adalah orang yang bisa bangkit, belajar, dan memilih untuk tidak terus terperangkap dalam drama diri sendiri. Melepas peran sebagai korban bukan berarti mengingkari penderitaan, tapi memutuskan bahwa kita lebih besar dari itu.
Ada kekuatan dalam keheningan, saat kita berhenti mencari-cari siapa yang harus disalahkan dan mulai bertanya, "Apa yang bisa kuubah?" Ada keindahan saat kita berani melepas mahkota duri dan berkata, "Cukup. Aku tidak ingin hidup seperti ini selamanya."
Karena pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa banyak kita menderita—tapi tentang seberapa berani kita bangkit, mengeringkan air mata, dan melangkah lagi.
Dan dunia? Ia akan tetap berputar. Tapi kali ini, kita bisa memilih untuk berputar bersamanya—bukan terjatuh dan tertinggal.
"Kita semua terluka. Tapi tidak semua dari kita memilih untuk hidup dalam luka itu selamanya."