Jumat, 16 Mei 2025

Orang-Orang yang Tak Pernah Kita Ajak Bicara


Ada wajah-wajah yang hadir tiap hari, tapi tak pernah kita beri nama. Mereka bukan tokoh dalam kisah kita, tapi mereka ada di sana, muncul diam-diam, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar kita lihat. Mereka melintas, berdiri sebentar, lalu kembali hilang ke dalam keramaian yang tak pernah benar-benar kita pahami. Mereka seperti figuran dalam film kehidupan kita: pengisi ruang-ruang sunyi yang tak kita anggap penting, padahal mungkin merekalah yang diam-diam menjaga keseimbangan dunia kita.

Setiap pagi, saat matahari belum sepenuhnya hangat, kita berjalan terburu-buru dengan pikiran yang sudah penuh daftar pekerjaan. Di ujung jalan, seorang ibu tua menata dagangannya di atas tikar lusuh. Wajahnya menua bersama waktu dan kesabaran, matanya menatap kosong ke depan, entah sedang menunggu pembeli, entah sedang menahan rindu pada anaknya yang kini entah di mana. Tapi kita tidak pernah bertanya, tidak pernah menyapa lebih dari sekadar lirikan singkat yang tidak meninggalkan kesan. Kita hanya lewat. Mungkin sesekali mengangguk kecil, lalu kembali pada dunia kita yang sibuk dan sempit. Padahal barangkali, kalau saja kita mau duduk sejenak dan mendengar, kita akan tahu bahwa hidupnya adalah cerita yang bisa membuat kita menunduk lama dalam diam.

Di parkiran kantor atau pusat perbelanjaan, kita kadang melihat bapak-bapak berseragam lusuh yang mengatur kendaraan dengan peluit kecil dan gerakan tangan. Ia berdiri tegak di bawah matahari atau hujan tanpa keluhan. Tak ada yang tahu apakah ia sarapan pagi tadi, atau apakah malam kemarin ia sempat tidur. Mungkin anaknya sedang sakit, mungkin ia sedang menabung untuk sesuatu yang sederhana: sepatu sekolah, atau setangkai bunga untuk istrinya. Tapi kita terlalu sibuk menggenggam setir dan memikirkan saldo rekening. Kita mengucap “terima kasih” tanpa menoleh, atau bahkan tidak berkata apa-apa sama sekali. Kita menganggap tugasnya adalah bagian dari latar, bukan kehidupan yang layak dikenali.

Kadang, di halte kota, ada perempuan tua yang datang setiap hari dengan langkah pelan. Ia duduk lama, tidak menunggu angkot, tidak terlihat gelisah. Ia hanya diam, menatap ke jalan raya seolah sedang memanggil kembali masa lalu. Rambutnya disanggul seadanya, dan tasnya penuh dengan kantong-kantong kecil yang tak pernah ia buka. Mungkin ia sedang menanti seseorang yang tak kunjung datang. Mungkin ia menunggu kenangan yang perlahan memudar. Tapi kita tak pernah bertanya. Kita hanya duduk satu bangku darinya, membuka ponsel, lalu pergi begitu saja. Seolah kehadirannya tidak lebih dari hiasan harian yang membosankan.

Di pojok trotoar, anak muda dengan gitar tua bernyanyi pelan, kadang hanya memetik dawai tanpa suara. Wajahnya masih muda, tapi matanya seperti telah lama letih. Lagu yang ia nyanyikan bukan untuk kita dengar, tapi untuk dirinya sendiri, agar ia tidak merasa sendirian di dunia ini. Beberapa dari kita menghindar, takut diminta uang. Beberapa lainnya pura-pura tak dengar. Kita jarang bertanya siapa namanya, dari mana ia datang, dan apakah malam-malamnya cukup hangat. Padahal bisa jadi ia adalah puisi yang hidup, yang tak sempat ditulis karena kita terlalu takut membuka percakapan.

Di lift, di angkot, di ruang tunggu, kita duduk bersebelahan dengan orang-orang yang hidupnya tak kalah rumit. Tapi kita memilih diam. Kita tak menoleh, apalagi menyapa. Seolah ada sekat tipis yang membuat kita semua asing satu sama lain, meski napas kita sama-sama berat dan mata kita sama-sama sembap oleh sesuatu yang tak terucap. Mereka adalah manusia seperti kita—punya cinta, kehilangan, amarah, dan impian—tapi dunia modern mengajarkan kita untuk berpura-pura sendiri, seolah tak perlu bersentuhan, seolah cukup hidup dalam lingkaran kecil bernama “aku”.

Ironisnya, mungkin mereka pun bertanya tentang kita. Mungkin mereka juga diam-diam mengingat wajah kita yang selalu lewat jam tujuh pagi dengan ekspresi terburu-buru. Mungkin mereka membayangkan: apakah kita bahagia? Apakah kita punya seseorang yang menunggu di rumah? Ataukah kita juga, seperti mereka, sedang mencari sesuatu yang hilang tapi tak tahu namanya? Dunia ini ramai, tapi sunyi. Kita hidup berdampingan dengan ratusan orang setiap hari, tapi hanya sedikit yang kita kenal sungguh-sungguh. Sisanya adalah potongan hidup yang hanya kita lihat sepintas—lalu lupa.

Padahal, bisa jadi dari satu sapaan sederhana lahir sesuatu yang lebih berarti dari sekadar basa-basi. Bisa jadi, dari satu senyuman, seseorang kembali percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya acuh. Tapi mulut kita lebih sering terkunci, dan hati kita terlalu sibuk menghitung beban sendiri. Kita takut mengganggu, atau merasa itu bukan urusan kita. Maka hari-hari pun berlalu, dan orang-orang itu tetap menjadi bayang-bayang: ada, tapi tak pernah benar-benar hadir dalam hidup kita.

Hari ini, aku mencoba mengingat satu wajah yang sering kulihat di perempatan. Seorang lelaki tua yang berdiri dengan topi anyaman dan membawa payung kecil. Aku tak tahu siapa dia, apa pekerjaannya, atau bahkan di mana rumahnya. Tapi ia selalu ada di sana, seperti waktu yang berjalan tanpa suara. Mungkin besok aku akan menyapanya. Mungkin tidak. Tapi tulisan ini kutinggalkan sebagai jejak—bahwa aku pernah memperhatikannya, meski hanya diam-diam. Semoga suatu hari nanti, kita semua cukup berani untuk bertanya, “Namamu siapa?” dan mulai menjadi manusia, bukan sekadar penonton yang lewat dalam hidup orang lain.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...