Jumat, 23 Mei 2025

Belum Menikah, Bukan Karena Tak Ingin


Aku belum menikah. Dan tiap kali aku bilang itu, orang akan menebak: pasti karena trauma, pasti takut komitmen, pasti ingin bebas, atau... mungkin karena belum mapan. Semua tebak-tebakan itu meluncur dengan ringan, seolah statusku adalah teka-teki yang harus dijawab dengan simpati atau sindiran. Padahal, kadang aku sendiri tidak yakin apa jawabannya.

Dulu, aku membayangkan hidup dewasa seperti dalam cerita: kuliah, kerja, menikah, punya anak, lalu tua bersama seseorang yang mencintai dengan tenang. Tapi hari ini, dunia tak sejelas itu. Di media sosial, orang bilang pernikahan adalah jebakan. Bahwa laki-laki adalah beban. Bahwa perempuan harus mandiri, dan laki-laki harus tahu diri. Aku membaca semua itu, tak dengan marah, tapi dengan bingung. Haruskah aku meminta maaf karena masih percaya pada keinginan membangun rumah bersama, bukan hanya membangun diri sendiri?

Aku berjalan di antara dua jalan: satu dipenuhi suara feminisme yang memintaku untuk tidak mencampuri urusan perempuan, satu lagi penuh suara tradisional yang mendesakku untuk “segera meminang” sebelum terlambat. Dan di antara keduanya, aku berdiri sendirian, tak tahu harus jadi laki-laki macam apa.

Aku tak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun. Tapi hari ini, menjadi laki-laki saja rasanya sudah terlalu banyak beban. Salah ucap bisa disebut seksis, terlalu perhatian bisa dianggap manipulatif, terlalu diam dicap pasif. Sementara itu, aku hanya ingin mengenal seseorang tanpa merasa seperti tersangka. Aku ingin jatuh cinta tanpa merasa perlu membela jenis kelaminku.

Belum menikah bukan karena tak ingin, tapi karena belum bertemu waktu yang tepat. Atau mungkin, belum bertemu dunia yang tidak menakut-nakuti niat baikku. Aku takut bukan pada pernikahan, tapi pada betapa banyaknya ketidakpercayaan yang telah tumbuh di antara dua manusia bahkan sebelum mereka saling bicara.

Tapi aku masih percaya. Masih percaya bahwa ada perempuan yang tidak menganggap semua laki-laki sama. Masih percaya bahwa ada hubungan yang dibangun bukan karena saling curiga, tapi saling jaga. Masih percaya bahwa cinta bukan proyek kebebasan, tapi rumah yang dibangun bersama. Meski hari ini, rumah itu terdengar seperti utopia.

Aku tak ingin disebut pengecut hanya karena belum menikah. Aku juga tak ingin dikejar waktu seolah hidup ini lomba lari menuju pelaminan. Aku hanya ingin yakin, bahwa ketika aku memutuskan untuk menggenggam tangan seseorang, aku tidak melakukannya dengan gemetar karena dunia sedang bising. Aku ingin tenang. Dan mungkin itu terlalu banyak diminta.

Jadi jika kau tanya kenapa aku belum menikah, aku tak akan menjawab dengan alasan heroik. Tak akan bersembunyi di balik dalih pencarian jati diri. Aku hanya akan bilang: aku belum siap menikah bukan karena aku takut dengan ikatan, tapi karena aku belum yakin apakah dunia ini masih percaya bahwa dua orang bisa saling menjaga tanpa harus saling menundukkan.

Dan jika itu membuatku tampak seperti laki-laki yang kebingungan, ya... mungkin memang aku sedang bingung. Tapi dari kebingungan ini, semoga lahir keputusan yang jujur. Karena satu hal yang kutahu pasti: aku ingin mencintai dengan tenang, bukan dengan defensif. Aku ingin mencintai bukan untuk menjawab tuduhan, tapi karena memang ingin tinggal.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...