Aku sibuk hari ini. Sama seperti kemarin. Sama seperti besok. Kalenderku penuh, jam tanganku berdetak lebih cepat dari biasanya, dan daftar tugasku tak pernah benar-benar habis meski aku mencoret satu demi satu. Di luar, hidupku tampak rapi. Terstruktur. Seperti bangunan tinggi yang dirancang dengan presisi. Tapi di dalam, ada kekacauan yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Maka kupilih diam. Kupilih sibuk. Kupilih tidak punya waktu untuk merasa.
Orang-orang mengira aku pekerja keras. Mereka memujiku karena dedikasi, karena tekad, karena selalu ‘on’ bahkan di tengah malam. Mereka menyebutku panutan. Tapi tidak ada yang tahu, aku sebenarnya sedang lari. Dari apa? Aku pun tidak selalu tahu. Tapi setiap kali aku diam terlalu lama, ada ruang dalam diriku yang terbuka. Ruang yang berisi pertanyaan yang belum pernah kujawab, luka yang tak pernah kering, dan kesunyian yang menggema seperti ruangan kosong yang tak kunjung dihuni. Jadi aku bekerja. Aku berkegiatan. Aku sibuk—seolah kesibukan bisa menutup pintu-pintu itu rapat-rapat.
Aku pernah mencoba berhenti. Satu hari tanpa jadwal. Tanpa agenda. Tanpa panggilan video. Tapi justru saat itu aku merasa paling lelah. Ada kegelisahan yang naik pelan-pelan ke tenggorokan. Ada suara-suara kecil yang biasa bisa kuabaikan, kini jadi teriakan. Seperti dinding rumah yang tiba-tiba terdengar retaknya saat listrik padam. Aku menyadari, produktivitas telah menjadi selimut yang kupakai setiap hari. Bukan untuk kehangatan. Tapi untuk menyembunyikan betapa dinginnya ruang dalam diriku.
Aku tahu aku tidak sendiri. Aku lihat wajah-wajah yang mirip. Di stasiun, di kafe, di ruang kerja—mereka semua tampak sibuk. Tapi jika dilihat lebih dekat, ada lelah yang tidak berasal dari pekerjaan. Ada letih yang tidak berasal dari fisik. Seolah mereka pun, sepertiku, takut berhenti. Takut menengok ke dalam dan menyadari bahwa selama ini mereka hanya memoles dinding yang rapuh.
Apa yang sebenarnya kucari? Apakah prestasi? Apakah validasi? Apakah kelegaan sementara dari rasa hampa yang tak kunjung pergi? Aku sendiri bingung membedakan mana yang benar-benar keinginan, dan mana yang sekadar pelarian. Yang kutahu, aku telah menjadi mahir menyibukkan diri. Mahir membuat alasan. Mahir membangun pertahanan agar orang lain tak perlu tahu bahwa di balik ini semua, aku sedang rapuh.
Terkadang aku berpikir, mungkin ini semua bentuk ketakutanku untuk merasa. Karena merasa itu melelahkan. Merasa berarti menghadapi. Dan menghadapi berarti mengakui bahwa ada yang belum selesai. Aku takut membongkar semuanya. Takut jika setelah semua ini dihentikan, aku tidak menemukan apa-apa. Takut bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa kesibukanku. Bahwa yang tersisa hanyalah ruang kosong dengan gema yang menyakitkan.
Tapi hari ini, entah kenapa, aku lelah menyembunyikan itu semua. Lelah pura-pura kuat. Lelah memakai topeng produktivitas sebagai jawaban dari semua tanya. Aku ingin berhenti, walau hanya sejenak. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk jujur. Untuk mengakui bahwa aku tidak baik-baik saja meski pekerjaanku selesai tepat waktu. Untuk menerima bahwa menjadi sibuk bukan selalu pertanda sehat. Kadang, itu adalah cara paling sunyi untuk berkata: “Tolong, jangan biarkan aku sendiri dengan pikiranku.”
Aku masih belum tahu bagaimana menyembuhkan yang tak terlihat. Tapi mungkin, langkah pertama adalah berhenti menghindar. Mungkin, keberanian yang paling besar adalah duduk dalam diam dan berkata pada diri sendiri: “Aku tidak harus selalu sibuk untuk merasa berarti.” Mungkin dari situ, aku bisa belajar mencintai diriku bukan karena hasil kerjaku, tapi karena keberanianku untuk jujur.