Minggu, 18 Mei 2025

Pelarian Yang Manis


Setiap pagi ia memutar rekaman yang sama. Suara laki-laki yang terdengar meyakinkan, tegas tapi penuh kelembutan, seperti ingin berkata: "Kamu tidak sendiri." Ia mendengarkan kalimat-kalimat itu seolah itu mantra, seperti doa yang tak perlu ia hafal karena setiap kata akan datang lagi esok, dan esok, dan esok lagi. Ia menyukai sensasi ringan yang datang setelahnya—semacam pelukan dari jauh, walau tak ada yang benar-benar mendekapnya. Ia tersenyum kecil, mengangguk pelan, dan kemudian kembali menjalani hari yang sama seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bertahun-tahun yang ia lupa telah berlalu. Tak ada yang berubah, kecuali jumlah kutipan bijak yang semakin panjang di layar ponselnya.

Ia tidak malas, tidak juga bodoh. Ia tahu hidupnya tidak baik-baik saja. Tapi ia juga tahu bahwa tidak semua luka bisa segera dijahit, dan tidak semua masalah bisa langsung diurai. Maka ia memilih untuk tidak terlalu merasa. Kata-kata itu seperti penawar bagi luka yang belum bisa ia sentuh. Seperti salep di atas kulit yang hanya bisa menenangkan, tapi tak pernah menyentuh akar nyeri. Ia tahu itu, jauh di dalam dirinya ia tahu, tapi ia terlalu takut pada rasa sakit yang akan datang kalau ia benar-benar berhenti dan menghadapi hidup apa adanya.

Kata-kata bijak itu memberinya alasan untuk tetap diam. “Tenang, semua akan baik-baik saja,” “Kamu hanya perlu waktu,” “Bersyukurlah atas hal-hal kecil,” “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain.” Kalimat-kalimat itu terdengar seperti nasihat dari seorang sahabat, seperti ajakan lembut untuk menerima hidup. Tapi kenyataannya, ia hanya terus berjalan di tempat yang sama. Ia belum belajar bagaimana memulai. Belum belajar bagaimana berhenti bersembunyi. Ia hanya pandai menghibur diri, dan dunia menyukainya begitu. Dunia memberi ribuan video motivasi, gambar-gambar dengan latar senja dan kata-kata harapan, potongan ceramah yang dibagikan ulang berkali-kali, dan ia mengumpulkan semuanya seperti seorang anak mengumpulkan batu berwarna: indah, tapi tidak bisa dimakan.

Malam-malamnya diisi dengan suara yang sama: seseorang berkata bahwa luka adalah guru, bahwa gagal adalah bagian dari sukses, bahwa sabar akan membuahkan hasil. Ia merasa lebih baik setelahnya, tenang, tertidur dengan damai. Tapi pagi selalu datang membawa kekosongan yang sama. Tidak ada pekerjaan yang ia cintai. Tidak ada hubungan yang ia jaga. Tidak ada keputusan yang benar-benar ia buat. Ia hidup, tapi seperti hantu—berjalan tanpa arah, hanya agar tidak jatuh. Dan ketika rasa cemas itu datang, ia tahu ke mana harus lari: ke kata-kata yang mengerti perasaannya, tapi tidak menuntutnya bertindak.

Ada hari-hari ketika ia hampir berani. Hampir mematikan layar, hampir menuliskan satu rencana, hampir pergi melamar kerja, hampir menghubungi seseorang yang sudah lama menunggu kabar. Tapi kemudian suara-suara itu datang lagi, menawarkan kenyamanan tanpa risiko. “Prosesmu berbeda, jangan terburu-buru.” Ia mengangguk, menunda, menunggu hari lain yang entah kapan akan datang. Begitulah kecanduan bekerja—tidak selalu menyakitkan, tapi menenangkan hingga lupa caranya bangun.

Ia tidak sendiri. Ada banyak orang yang hidup seperti itu hari ini. Terlalu lelah untuk mencoba, terlalu takut untuk gagal, dan terlalu terbiasa mendengarkan tanpa melakukan. Dunia maya penuh dengan pelarian semacam ini: konten-konten penghibur yang tidak pernah menuntut perubahan. Mungkin karena kita semua, dalam satu titik di hidup kita, pernah merasa butuh diselamatkan—tapi tidak siap membayar harga dari keberanian. Maka kita memilih pengganti: kata-kata. Dan kata-kata itu, seperti gula, manis, memabukkan, tapi tidak mengenyangkan.

Akhirnya, ia duduk di sudut kamarnya, sekali lagi memutar video yang telah ia tonton berkali-kali. Kali ini ia tidak menangis. Ia tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, seperti seseorang yang tiba-tiba sadar bahwa pelariannya tidak pernah membawanya ke mana pun. Hanya membuatnya berputar-putar di dalam kandang yang ia bangun sendiri. Mungkin hari ini ia belum akan keluar. Tapi ada sedikit pergeseran di matanya—semacam keraguan pada kata-kata yang selama ini ia percaya. Dan keraguan itu, kecil dan nyaris tak terlihat, bisa saja menjadi awal dari keberanian yang selama ini tertunda.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...