Sabtu, 10 Mei 2025

Namanya Masih Sering Datang


Ada nama yang tak pernah benar-benar pergi. Padahal, aku sudah berhenti mengingatnya dengan sengaja. Sudah lama tidak kudengar suaranya, tidak kulihat wajahnya, tidak kutahu kabarnya—dan tak ada usaha untuk mencarinya. Tapi namanya… ah, namanya masih sering datang. Diam-diam menyusup di antara celah hari yang kosong.

Kadang saat lampu-lampu kota mulai menyala dan jalanan pulang terasa terlalu sepi, aku menemukannya di sudut ingatan yang tak pernah kuundang. Kadang saat lagu lama tanpa sengaja terputar, aku mendengar tawa yang sudah tak kutahu bunyinya seperti apa, tapi masih kuingat rasanya.

Ia bukan kenangan yang menyakitkan, bukan pula yang membahagiakan. Ia hanya… menetap. Seperti bau tanah selepas hujan—tidak mencolok, tapi tiba-tiba memenuhi udara dan tak bisa diabaikan. Begitu juga dia.

Aku tidak lagi mengulang percakapan lama di kepala. Tidak berharap pesan singkat yang tak kunjung muncul. Tidak menyimpan fotonya di dompet atau galeri. Tapi entah bagaimana, dalam ruang-ruang kecil yang tak terjaga, ia sering sekali muncul. Seperti detak jam dinding yang biasanya tak terdengar, tapi mendadak terasa saat malam menjadi sunyi.

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, mengapa dia masih ada di situ? Padahal tak ada yang istimewa lagi. Tak ada kisah yang harus diceritakan ulang. Tak ada penantian yang diselipkan harapan. Semua sudah usai, bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai.

Tapi mungkin bukan tentang kisahnya. Mungkin ini tentang cara dia hadir, dan caranya pergi. Tentang sore-sore yang dulu terasa ringan hanya karena pesannya masuk, atau tentang cara namanya tertulis di layar ponsel dan membuat jantung berdebar setengah detik lebih cepat. Tentang hal-hal kecil yang tak terlihat, tapi ternyata bertahan lebih lama dari yang kupikirkan.

Aku pernah mencoba menggantikan kehadirannya dengan nama lain. Dengan tawa yang baru, dengan tatap mata yang berbeda. Tapi tetap saja, dalam hening yang paling jujur, aku tahu: dia masih ada di situ. Tidak hidup dalam rinduku, tapi juga belum mati sepenuhnya dalam ingatanku.

Kadang aku berpikir, mungkin dia pun begitu. Mungkin di suatu pagi yang gerimis, dia mengingat namaku tanpa alasan. Mungkin saat mendengar lagu tertentu, dia diam sebentar karena ada bayangan yang lewat. Mungkin tidak. Mungkin hanya aku yang masih diam-diam menyisakan ruang.

Aku tidak menyesal dia pernah datang. Tidak juga menyesal dia pergi. Kehadirannya mengajarkan bahwa tidak semua yang membekas harus memiliki akhir yang indah. Beberapa hadir hanya untuk membentuk sudut-sudut hati, lalu pergi tanpa pamit. Dan itu tidak apa-apa.

Ada orang-orang yang tidak perlu kembali untuk tetap hidup dalam ingatan. Mereka tidak lagi punya peran dalam hari-hari kita, tapi tetap menjadi latar dari siapa kita sekarang. Dan dia, dengan segala diam dan jauhnya, adalah salah satunya.

Jadi, bila kau bertanya siapa yang sering datang di pikiranku tanpa sebab, siapa yang namanya masih sering melintas walau sudah lama tak bersua—aku akan menyebut namanya pelan. Seolah ia masih bisa mendengar. Seolah ingatan itu adalah tempat kita saling menyapa diam-diam.

Dan mungkin, itu cukup.
Cukup untuk membuatnya tetap ada, tanpa perlu benar-benar hadir lagi.

Belajar dari Runtuh yang Sunyi

Ada orang-orang yang berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak dari yang lain, bukan karena beban hidupnya lebih ringan, tapi k...